Come Here Datu

Come Here Datu
Come Here Datu: Ancaman demi Ancaman



      Lenia mengerutkan dahi di sepanjang jalan. Rey hanya menarik napas kasar. Mobil melaju melewati beberapa kota dan salah satunya Buntok.


      Manusia dapat memilih baik dan buruk. Sebuah karya yang sangat matang mikih sang alam. Satu kata, satu senyum dan satu rasa dapat menghidupkan dan membunuh manusia lain pada titik pemahaman makna tertentu. Berani memilih dalam kesesakan, merupakan hal yang wajib bagi manusia.


       Lenia melempar tas ke atas tempat tidurnya. Menghempaskan diri pada ranjangnya. Menutup mata, bayangan samar dari seorang laki-laki.


      'Apa yang harus ku pertahankan jika dia adalah malaikat maut.' Meringkuk, "aku benar-benar membencinya." Suara pelan.


      'Ingin mematahkan kutukan karena hal itu yang membuatku terganggu, tetapi dari semua kutukan yang ada pasti harus ada juga hal yang besar untuk dikorbankan.'


      Warna orange di awan berganti dengan warna hitam, dan sebuah gantungan bulat kecil berwarna putih sebagai titik sang malam. Hingga sebuah perputaran membuat mata silau.  Suara burung pagi hari dan titik air jatuh dari daun. Pergantian yang cepat dan serius.


      "Keluarkan keringat, keluarkan  keringat!" Lenia mengenakan kaus style anti fit dan celana olahraga model slacks. Di telinganya handset putih. Gawai di dalam kantong. Keringat menetes membasahi sebagian hoodienya. Kaki yang beralas dekorasi sepatu loafers, meleati beberapa pasangan dan keluarga. Taman terlihat sangat ramai. Pohon, bunga dan air mancur berbentuk burung murai berwarna putih. Gereja besar dengan nuansa biru-putih termasuk pagar serta patung malikat di depannya. "Hari Jum'at, keluarga dan pasangan." Menarik napas sambil tetap berlari kecil.


      Gawai menyala tanda seseorang sedang menghubungi, mengambil kacamata wireless, dan menampilkan hologram wajah Eli di depan matanya.


"Lei, jangan bilang lagi olahraga!" Eli menatap datar ketika hanya wajah Lenia terlihat pada layar.


      "Teng, teng. Tebakan mu nakku benar." Terengah-engah.


      "Besok kirimkan naskah novelmu, Lei!" menyeruput kopi.


      "Besok?" kaki berhenti, satu tangan beristirahat di lutut, "kamu pasti serius kan nakku!"


      "Aku matikan, selamat bersenang-senang." Kacamatanya menjadi kacamata biasa, Eli mematikan panggilan video call mereka.


      "Anak gila ini lebih parah dari apapun. Heran dari mana dia tahu aku olahraga, padahal hanya memperlihatkan wajah?" Memasang kuda-kuda, lalu berlari kasar, beberapa orang menatapnya dengan tatapan aneh.


      Amukkan malam bersama suara binatang adalah bisikan. Langkah demi langkah beralas sendal casual dari kulit sedang menaiki tangga. Kimono biru yang terbuat dari bahan sutera bermotif burung enggang terseret diantara anak tangga dan bagian bawah kimono memperlihatakan bulu halus dari burung itu sendiri. Dada dibiarkan terbuka hingga menampakkan baris otot yang tertata rapi. Celana tidur panjang berwarna biru menggantung longgar terbuat dari sutera tanpa motif. Ditangannya sebuah buku kuno. Dalam diam, tatapan tajam dengan rambut acak yang tertata rapi.


"Benar-benar merepotkan!" Bart menatap jendela yang terbuka, berada tepat diujung tangga.


      Eli menutup pintu, "dingin sekali?" Tangan bertaut dan saling membelai, bulu tangan gadis itu berdiri.


     Lenia terus bergerak di atas tempat tidur. Mata gadis itu tertutup, "tidak bisa, pokoknya kamu tidak bisa tidur, karena jika dipaksa maka hanya akan membuat titik hitam pada pikiranmu tampak banyak berkeliaran." Duduk.


Mengambil ice cream dari kulkas, duduk di kursi lalu menyalakan televisi. Beberapa sendok ice cream masuk kemulut, "setelah kupikir-pikir lagi. Aku akan mati jika Bart tahu aku membiarkan anak itu tidur di sebelahku. Apalagi aku bahkan mimpi basah. Tamat lah, padahal aku berharap hidupku bisa tenang!" Tiba-tiba berdiri. Ekspresi gadis itu terlihat jelas hampir menangis. Tangan kanan terangkat masih memegang sendok, dan ice cream jatuh ke wajahnya.


      Duduk lemah, "tapi setelah ku pikir lebih jauh, kenapa aku malah mimpi basah bersamanya bukan dengan si berengsek Bart. Sudah jangan dipikir, semua pasti baik-baik sajakan!" Menghapus ice cream dari wajah dengan tangan, "bocah tu, harapanku kami tidak akan bertemu lagi, Amin." Menusuk ice cream kasar  dengan sendok.


      "Tapi tetap saja!" Menarik rambutnya dengan tangan yang masih memegang sendok, "ini gara-gara si bodoh itu, harus juga dia mengatakan hal yang membuat orang berpikir."


'Aku tidak tahu dia bisa mengangguku. Antara kebohongan yang jujur atau kejujuran yang bohong. Dua-duanya sangat menyakitkan.'


"Benar-benar mengganggu!" Berteriak. Gonggongan anjing terdengar dari luar.


      'Lei, jika ada laki-laki aku akan menganggapnya perang!' Lenia melempar gawainya dengan gerakan lemah.


      Bart duduk di jendela. Gorden batik terbuat dari beludru putih menari di samping kiri dan kananya. Bersandar pada pinggir jendela. Kaki kiri tergantung dan kaki kanan dibiarkan menekuk. Membuka pelan halaman buku. Kunang-kunang berwarna biru menuju ke arahnya. Pemandangan di luar jendela penuh dengan pepohonan. Hutan megah dengan kastil merah kecoklatan bergaya Rumah Betang berdiri di tengah. Suara binatang malam adalah sambutan.


      "Bau darah?" Menutup buku pelan.