Come Here Datu

Come Here Datu
Come Here Datu: Mengusik Batasan



      Tanggung jawab adalah hal tabu. Bermain kata cukup jadikan kuat. Permainan anak-anak telah usang. Dalam kesepian penyair.


      "Tempatnya di mana?" Lenia mengerutkan dahi, "lokasinya di mana?" Mulai menumpuk kemarahan.


      Sekitar terlihat perumahan dengan pagar bermacam warna. Namun, tidak ada satupun nomor rumah, sekadar memastikan.


      "Pasti baru-baru ini dibuat perumahan!" Menatap sekeliling dengan ekspresi datar. Langkah kaki memberi kesan yang kasar. Mulai dari gang satu, dua, dan tiga, "mulai mengaduk emosi, tempat yang ditunjukan si pintar itu!" tangan bergetar menekan angka 8, panggilan cepat untuk nama 'Iwek (babi)'.


      "Drettt, drettt, drettt." Rey meletakan kopi dan kue di hadapan dua gadis yang sedang menatapnya dengan pandangan terkesan.


      "Terima kasih." kata yang mampu keluar secara bersamaan sambil tersenyum.


      Rey membalas dengan tersenyum, "sama-sama, silahkan dinikmati nona-nona!" sedikit membungkukkan tubuh, "saya permisi." pergi menuju coffee machine. Mengambil gelas kopi yang sudah berisi, dan menyempurnakan sentuhan  akhir dengan latte art. Meletakan pada piring kecil, menatap layar gawai yang bergetar di meja, dan tanpa memedulikannya. Mengantarkan kopi pada laki-laki dengan laptop di meja.


      "Terima kasih!" Kembali pada keyboard laptop.


      "Sama-sama, silahkan dinikmati tuan!" Kesan ramah.


      'Tekk' bunyi panggilan di jawab.


      "Dasar pintar, aku susah payah mencari cafe bunga yang kamu bilang, kamu tahu seberapa aku semakin kebakaran di sini. Kebakaran hati nurani bersama mentalku yang mulai rapuh!" Lenia berteriak.


      Rey menjauhkan gawai dari telinga, merasa yakin telinga sudah aman, dia mendekatkan lagi ke telinganya, "sudah ku bilang kamu lurus dari jalur awal tanpa berbelok, nanti ada," kalimat terpotong oleh nada diseberang.


      "Ada-ada saja, yang ada gawaimu nanti ku injak kalau aku sampai di situ. Dasar pintar, kamu harusnya lebih tahu kalau di sini sepi orang lalu bagaimana aku bertanya tempatnya?" duduk bersilah di atas jalan raya.


      Rey menahan senyum, "jangan masuk gang tapi lurus setelahnya kamu sampai di Cafe Moon." menatap layar gawai yang menampilkan layar utama, "dimatikan, ya sudah!" Menarik nafas.


"Disorientasi arah, manusia itu tidak tahu aku mengalaminya atau pura-pura lupa lebih tepatnya menolah untuk ingat." meletakan gawai dalam kantong celana kainnya.


      Kembali ke titik awal, langkah lemah dengan keringat. Hari ini Lenia kenakan kaos hitam anti-fit style,  Jogger Pants merah hitam dengan sepatu cowboy boots dan tas waist bag terlihat serasi pada tubuh mungilnya. Dia tersenyum menatap papan nama Cafe Moon terukir di atas papan. Rumah Betang berdiri kokoh penuh dengan tanaman bunga dan pagar kayu berukiran unik.


'Sitt.. sittttt' Lenia menutup kembali pagar. Menuju pintu depan dengan ukiran laki-laki dan perempuan Dayak berdiri memegang tombak.


      'Tokkkk, tokkkktokkkk' ketukan pasti pada pintu.


"Masuk!" Suara anak lelaki, mempersilahkan.


      Lenia membuka pintu perlahan, pemandangan di dalam rumah terlihat lebih kuno dan anggun. Patung, jimat dan bunga menjadi hiasan di setiap sudut ruangan. Rak buku tertanam di dinding. Tujuh meja masing-masing dengan tiga kursi berukir burung Engang pada punggung kursi. Lenia menatap sekeliling, belokan tangga berada di sisi kanan sudutnya. Menuju meja kasir, di sana disediakan tujuh kursi ukir yang sama, dan kesan membuat teringat. Tempat kasir itu terlihat seperti rumah di dalam rumah.


      "Permisi!" Mengetuk meja kasir, "orangnya tadi mana?" Lenia duduk, lalu membunyikan bell di atas meja, 'kring.'


      'Tek, tek, tek.' langkah kaki menuruni tangga bergigi rapi. Seorang anak laki-laki dengan mata abu-abu kenakan toxedo biru lengkah. Rambut putih ikal yang serasi dengan tatapan tajamnya.  Loafers berwarna hitam menjadi titik langkah yang anggun. Poin berbeda, pada tangan memegang cangkir berisi kopi, cangkir itu terlihat di buat dari tanah liat dengan ukiran kuno. Langkah pelan begitu memesona. Lenia menatap lekat. Gadis itu kaku di tempat duduknya. Banyak penyihir dalam bentuk imajinasi yang nyata.


      'Tek.' Cangkir di letakan tepat di atas meja kasir hal itu membuat Lenia tersadar, anak itu kini berada tepat di depannya. Menatap tajam, "kakak mau membeli bunga jenis apa?" Suara parau dengan kesan dingin yang misterius.


      "Bunga mawar yang original?" Terbata sebagai jawaban yang ragu, "ini kabar buruk untuk mata." berbisik.


      "Kalau begitu kakak mari ikut denganku!" Mengulurkan tangan kiri, menampakan telapak yang membuka, "aku takut kakak tersesat di taman milikku." Lenia sempat memerhatikan bahwa di balik tangan toxedo ada tato yang mencuat, tetapi gadis itu memilih untuk mengabaikan dan malah tersenyum, "aku bisa sendiri!" ragu.


      "Tapi aku ragu kakak bisa menemukan mawarku. Membiarkan tangan kakak tanpa memegang tanganku rasanya sangat tidak menarik." menarik tangan Lenia, membuat tubuh gadis itu terjatuh dari kursi dan berakhir pada pelukan seorang anak lelaki. Lenia yang terkejut, mengeratkan pegangan pada pundak anak itu, dan sedikit tenggelam dalam suasana.


      "Kakak tidak perlu takut, jika kakak menginginkan aku akan tetap berdiri menggenggam sebagian bebanmu!" Lenia menjawab tatapan mata dengan tatapan. Perbedaan tinggi, membuat sebagian beban tubuh Lenia tertahan pada anak itu. Wajah mereka terlalu dekat. Detak jantung gadis itu penuhi pikirannya.


      "Aku bisa berdiri, maaf adek!" anak itu tersenyum miring. Menarik Lenia pelan menuju ruangan di samping tangga. "Tunggu, sebentar." langkah Lenia terlihat tak seimbang.


      Pintu terbuka, taman bunga yang tersuguh berbentuk labirin berupa istana. Beberapa hampatong (patung) khas Dayak di sekitar labirin dan sebagian terlihat mencuat dari balik bunga. Beberapa kelopak bunga terjatuh, tertarik oleh angin ke arah mereka. Langkah kaki keduanya berhenti tepat di depan pintu taman. Lenia tersenyum sambil menarik napas lega.


      "Taman ini?" Leon berdiri di depan Cafe Moon dengan ekspresi wajah dingin.