Come Here Datu

Come Here Datu
Come Here Datu



      Lautan cahaya bermacam-macam warna dari peri sebagai penanda tempat mendarat. Tubuh keduanya memasuki salah satu lobang Jukung. Lenia memperhatikan sekitar, tanaman bunga dan akar menggantikan peran dekorasi dalam kapal. Mulai dari meja, kursi, jam, lukisan, lentera panggung beserta mixrophone,  botol-botol minuman dan alat-alat lainnya.


      "Ruang pesta?" Lenia menghapus sisa air mata dengan punggung tangan. Cahaya peri sebagai penerang dari balik dekorasi.


      "Kau terlihat lebih parah daripada bayi!" Mengeleng pelan, "tidak terlihat seperti itu saat memukul orang lain!"


      "Kau harus bangga padaku, aku tidak akan pintar di depan orang bodoh dan aku tidak akan bodoh di depan orang pintar. Dan akan kuat di depan orang lemah dan akan lemah di depan orang yang kuat!" Menatap Bart ragu.


      "Kau mengakui?" Bart menatap Lenia yang memalingkan tatapan.


      "Bart, kau bisa menurunkan ku?" Menatap ke lantai batu.


      "Apa yang membuat perempuan sepertimu luluh?" Mengeratkan tangan kiri pada tubuh Lenia. Gadis itu masih di genggamannya.


      "Terlalu cepat?" Berusaha mencerna kata.


      "Jawaban bukan pertanyaan!" Tatapan dingin.


      "Perempuan menyukai dengan kata mewah tapi bukan itu yang membuatnya bangga dan perempuan menyukai wajah yang tampan tapi bukan itu yang ada di hatinya. Mewah tak menjamin masa depan jika tidak sejajar dengan usaha dalam kebersamaan dan wajah tampan tidak menjamin senyuman dari pasangan. Perempuan hanya butuh rasa yang tulus, perhatian dalam kesetiaan, sebuah kejujuran yang misterius, perlindungan dalam ketenangan, lelaki yang ingin bekerja bersamanya untuk masa depan, dan perasaan dari hanya setangkai rumput berduri. Gadis itu akan bahagia dengan lelaki itu. Jangan berjuang untuk anak-anak karena mereka harus mandiri untuk mampu menoreh masa depan sendiri. Cukup berjuang untuk masa kini dan jalan yang terbentang besok pagi." Mencoba tersenyum.


      "Bagimu itu, kenapa perempuan menyulitkan dirinya?" Pelukan tangan semakin erat.


      "Aku harus bisa berjalan dengan kakiku agar mendapat harga diri dan laki-laki harus bisa menopangku dengan karisma yang sopan. Sukses bersama adalah keinginanku!" Tatapan gadis itu sendu.


      Bart menyinggingkan senyum dan taring terlihat jelas. Lenia memegang pundak Bart ketika lelaki itu berniat menurunkannya.


     "Terima kasih." tiba-tiba ciuman pada bibir Bart. Gadis itu pelan memasukan lidah pada mulut lelaki itu. Dia mengikuti tarian lidah gadis itu. Bart menaikkan alis. Lenia melepas ciuman pelan. Menatap lelaki itu ragu dan terdengar mengatur napas.


      "Aku turun!" Suara bergetar menahan malu sambil mengibas tangan ke arah mukanya.


      "Tanganmu dingin?" Menggenggam tangan kiri Lenia dengan tangan kanannya.


      "Wajahmu selalu memerah setelah," senyum tersungging.


      Bart menurunkan Lenia dan ketika gadis itu ingin pergi tapi dengan cepat Bart menarik ke pelukannya lagi. Lingkaran tangan erat pada pinggul Lenia. Setengah membungkuk, Bart tersenyum dan mencium gadis itu. Tanpa perlawanan dari pemilik bibir.


     Peri terlihat meninggalkan ruangan menuju pohon dan tanaman di luar jukung. Cahaya mereka  terlihat samar masuk ke dalam ruangan pesta. Ciuman keduanya semakin dalam. Lenia terlihat kewalahan dan mengatur napas.


      Bart mencium telinga dan bibir gadis itu. Dengan cakar merobek nightie Lenia. Menyisakan lapisan dalamnya. Gadis itu mengeluarkan suara kecil khasnya. Cakar Bart kembali pada kuku biasa. Dengan tangannya meraba bagian dalam tengah kedua paha Lenia. Suara kecil semakin terdengar lantang.


      Senyuman puas dari wajah Bart, taring menembus kulit dada Lenia. Titik darah keluar dengan jeritan kecil. Taring Bart perlahan hilang dan lidahnya menyentuh darah kecil di sana. Lenia mengeratkan pegangan pada pundak lekaki itu.


      Tangan Bart bergerak bebas di antara paha gadis itu. Puncak kehidupan membuat jeritan kecil panjang dari mulut Lenia. Lelaki itu membuka pelan lapisan dalam yang masih melekat pada gadis itu.


      Bart membawa Lenia ke atas meja yang terbuat dari tanaman bunga. Mendudukan gadis itu di ujung meja. Kedua kaki Lenia di angkat. Senyuman tersungging, gadis itu memperhatikan. Bart menunduk dan mencium bagian yang paling sensitif Lenia. Suara hisapan lembut dan lidah yang terlihat menari. Jeritan kecil dan puncak kehidupan yang kedua.


      Bart berdiri di depan Lenia, gadis itu menutup mulut. Lelaki itu menarik tangan Lenia dari mulut dan menarik kedua tangan gadis itu ke belakang tubuhnya.


Sekali lagi membuat Lenia tetap merasa takut. Tubuh bawah Bart terlihat lebih berbahaya. Akar melilit tangan gadis itu. Bart tersenyum ketika melihat Lenia dengan ekspresi bingung.


"Karena hari ini kau terlihat lebih nakal!" Menyunggingkan senyum. Memegang kedua kaki Lenia, memasukan pelan tubuhnya ke dalam tubuh gadis itu yang sangat basah. Gerakan pelan yang mulai kasar. Lenia menahan jeritan kecilnya. Bart terlihat menikmati, dan ciuman pada ujung kecil dada gadis itu. Akhirnya jeritan kecil keluar, sebelum Lenia mencapai puncak, Bart menarik dirinya menjauh. Gadis itu terlihat menggelengkan kepala, memohon. Bart malah tersenyum dan mencium Lenia. Tangannya pelan memegang tangan gadis itu. Akar terlepas dari tangan Lenia.


"Sudah ku bilang jangan membuat permainan yang menyesatkan diri sendiri!" Berbisik di telinga Lenia. Menurunkan gadis itu dari meja dan membalikan tubuhnya.


Punggung Lenia menyentuh tubuh Bart dan bagian dirinya yang tegang. Bart mencium leher gadis itu dan mengangkat pelan tubuh Lenia dengan tangan kanan hingga sejajar dengan tinggi Bart. Memasukan tubuhnya lagi dan jeritan kecil terdengar menggila. Tangan gadis itu menggenggam erat rajutan kimono Bart.


Gerakan demi gerakan. Keringat membasahi gadis itu. Mencapai puncak kehidupan yang ketiga. Tubuh Lenia bergetar.


Bart menurunkan Lenia, "janji harus di tepatikan!" Tersenyum bangga. Membuat tubuh gadis itu sedikit membungkuk, dia hanya mampu memegang ujung meja sebagai pertahanan. Tubuh bagian bawahnya terdorong pada Bart. Lelaki itu memasukan dirinya dengan gila. Puncak dan puncak kehidupan tercapai. Tubuh gadis itu berulang-ulang bergetar.