Come Here Datu

Come Here Datu
Come Here Datu: Bahagialah!



      "Kak Leilei bagaimana kakak bisa berlari sangat cepat waktu itu?" Mengikuti setiap jejak lamgkah Lenia dengan sangat rapi dari belakang.


      "Kakak adalah pelari yang handal waktu SMA, waktu pulang dari sekolah, kakak sempat dituduh sebagai pencuri mangga, gara-gara bakat kakak." seolah enggan untuk menceritakan, tetapi tetap di ceritakan.


Kembali ke masa SMA Lenia, gadis itu ketika pulang selalu berlari. Sesuatu terjadi siang itu, beda dari hari biasanya, seorang pria mengayuh sepeda dengan sangat cepat dan saat lelaki itu lewat sebenarnya Lenia sempat cuma membuka mulutnya tanda tak percaya dan penuh pertanyaan di pikirannya. Belum sempat tenggelam dalam pikirannya, tiba-tiba teriakan seorang lelaki separuh baya yang keras dari belakang, menyadarkan Lenia dan karena terkejut gadis itu seketika berlari sekuat tenaga." Cerel yang mendengar cerita Lenia mulai tertawa.


"lanjutkan,kak!" Cerel tertawa sambil menggeleng.


"Jangan tertawa dulu, belum sampai pada poinnya." Lenia melanjutkan.


Saat itu yang membuat semakin parah dari setiap drama yang di alami Lenia adalah ketika lelaki yang menaiki sepeda itu berhenti dan tiba-tiba melempar sepedanya ke dalam rawa lalu sembunyi dengan napas yang tergesa-gesa. Karena kebingungan akhirnya Lenia mengikuti orang itu dan ikut bersembunyi di sebelahnya. Mereka berdua saling melempar pandang, di tangan laki-laki itu ada beberapa tangkai dari mangga.


"Kakak tahu dari mana itu tangkai mangga?" Cerel menambahkan pertanyaan.


"Tahu bahwa itu tangkai mangga, karena dari bau getahnya yang khas." menjawab cepat.


Lenia memerhatikan genggam lelaki itu yang hanya mengenggam tangkai. Lelaki itu dan Lenia menatap secara bersamaan pada sepada di dalam rawa. Bahwa mereka berdua tahu kalau lelaki pencuri itu telah membuang mangga yang dia petik untuk ikut terjun bersama sepedanya ke dalam rawa. Lenia dan Cerel menutup cerita dengan tertawa lepas di jalan.


      Pintu cafe terbuka bersama bunyi bell. Rey menatap dua orang gadis yang sedang melangkah ke arahnya.


      "Sesuai yang ku bilang tadi malam!" Lenia berhenti tepat di meja pembatas kasir dan Cerel mengikuti apa yang dilakukan Lenia tepat di sampingnya. Kedua gadis itu menyandarkan tubuh di sana. Gadis kecil itu menampakan senyuman manis pada Rey, "hati-hati Cerel nanti di makan oleh semut!" Lanjut Lenia memberi peringatan tersirat.


      "Kalau begitu selamat datang, baristiku." Mengedipkan mata. Cerel tersenyum sambil mengangguk pada Rey.


"Jangan macam-macam dengannya Rey! Peringatan kedua dari Lenia, mata itu menatap Rey tajam.


      "Mulai dari hari ini kan, kak Rey?" Suara gadis kecil itu terdengar sangat lembut.


      "Iyap, hari libur dan saat masuk sekolah, kakak beri waktu 5 jam kerja perhari, bagaimana?" Rey mengulurkan tangan, meminta persetujuan. Cerel menyambut uluran tangan itu dengan sigap dan mengangguk tegas.


      "Dengan senang hati, bekerja?" Menatap Rey sambil mengedipkan mata. Lelaki itu mempersilahkan Cerel dengan tangannya, gadis kecil itu membungkuk dan setengah berlari ke arah ruang ganti.


      Kelemahan bukanlah sebuah penyakit dan kekuatan bukanlah kebahagiaan. Ada yang terjerumus dalam dinding goa berlumur darah. Yang fokus menatap jurang penuh dosa. Beralas bunga di dalam jeruji berupa permusuhan, dan kapan dunia selamat dari keserakahan umat manusia.


     'Kematian ternak warga semakim hari meningkat, penyebab kematian masih belum diketahui pasti.'


     Berita ada di layar. Kematian ternak banyak terjadi di pedesaan. Tanpa ada darah dan terlihat jelas seperti bekas gigitan pada beberapa bagian tubuh ternak. Rey menatap artikel berbentuk hologram yang mencuat di atas layar gawainya.


      "Kak pesanan untuk meja nomor 9!" Rey membalikkan layar gawainya.


      '...Ada neraka dan api permusuhan antara manusia, yang lebih dulu terjatuh adalah antara menang atau kalah...' Lenia menutup novel atas nama dirinya dan menghela napas panjang, "setelah ku pikir bukan soal menang atau kalah tapi soal berani mengatakan kalah atas proses yang tidak adil!" Minum kopi dari botol di tangannya. Hadapan gadis itu telah tersuguh danau biru dengan bebatuan di sekitar tempat itu, "harusnya kuubah sedikit sebelum kukirim naskahnya waktu itu. Sudahlah sebenarnya novel ini milik siapa dan siapa yang mengomentari siapa?" menenangkan pikiran. Lebih baik mengakui kesalahan dari pada berdiri di tempat yang salah. Di bawah Lenia penuh kerikil putih dan hitam yang dijadikan olehnya sebagai alas.


      "Kami setuju saja, tetapi sekarang tinggal nona sebagai orang tua yang statusnya belum menikah dan mungkin akan mengalami sedikit kesulitan dalam hal persyaratannya. Tetapi karena ini keputusan Cerel maka kami juga akan dengan senang hati membantu." Eli menatap seorang ibu paruh baya di depannya dengan senyuman, "karena beralaskan hukum bagi kita adalah perlu!" Eli tersenyum.


      "Apa kami boleh mengajukan sedikit syarat, kami hanya menginginkan bertemu dengan Cerel?" Ibu panti tampak tersenyum ramah, dan hal itu seolah tersirat maksud tersembunyi dari sana. Tetapi Eli memilih untuk diam.


      "Terima kasih ibu, saya akan menerima dengan senang hati bantuannya, dan kalaupun ingin mengunjungi Cerel saya selalu silahkan." Eli tersenyum sangat karismatik.


"Silahkan kopinya nona." Seorang ibu paruh baya mempersilahkan secangkir kopi pada meja di depan Eli dan gadis itu sekilas memegang kelopak matanya dengan pelan, "berapa kali aku harus menyeruput kopi hari ini?" dengan suara kecil. Gawai gadis itu bergetar, sebuah pesan dari salah satu aplikasi di gawainya, "Cerel di jemput jam 16.00, oke." dengan tanda senyum di sana.


      "Leilei aku ada tempat bagus untuk kamu melanjutkan novel barumu!" Lenia menatap layar, yang langsung menerima balasan, 'di mana?' Sebagai balasan.


"Pohon garu di tengah danau dan itu salah satu wisata terbaru, sedikit orang yang ke sana tapi lokasinya ada di tengah hutan. Kau tahu maksudku kan!" Eli sedikit fokus pada gawai. Ibu paruh baya di depannya hanya menyeruput kopi di tangannya.


      'Maksudmu aku sendiri yang pergi begitukan. mengirimkan foto senyum terpakasa.


      "Selamat bekerja, sayang!" Eli tersenyum, dan memasukkan gawai ke dalam tasnya. Mengambil cangkir kopi bersama alasnya, gadis itu mulai menyeruput kopi tetapi matanya tertuju pada sebuah pajangan lukisan pada dinding. Lukisan itu mengambarkan sebuah pohon yang rindang di antara sawah.