
...Bab V...
Laut mati tidak akan pernah bisa melarutkanku. Sudah hilang rasa berpeluk oleh garis tangan. Telah hidup di hatiku bersama sajak lampau.
Setangkai bunga mawar biru menari di vot, pada pinggir jendela kamar. Sorot lampu langit siang telah menjadi sore kemerahan. Cahaya yang masuk mulai berubah warna. Pergantian yang di nanti.
"Kak Leilei, aku buatkan kopi jahe untuk kakak!" Cerel meletakan di atas cocktail table tepat di depan televisi ruang tamu Lenia.
"Akan kuambilkan kue dari kulkas!" Rambut Lenia berlapis handuk dan masih mengenakan kimono mandi. Meletakan di meja yang sama. Cerel lebih dulu duduk sekadar menunggu di sofa dan Lenia berikutnya. Menyalakan televisi, "yakin tidak tidur dengan kakak?" Menyeruput kopi.
"Kak Eli tidak ingin tidur sendiri, katanya." Tersenyum lebar.
"Sekolah SMPmu bagaimana?" Meletakan kopi di meja.
"Baikkak, bahkan sepertinya aku sangat terkenal di sekolah!" Mengedipkan mata, satu suapan kue di mulut.
"Kakak ikut aman kalau begitu, kabar panti?" Suara yang hati-hati.
Diam sejenak, dan satu suapan kue ke mulut Lenia. "Ibu panti menghubungiku dan satu minggu lalu aku di antar kak Rey ke panti. Semuanya baik-baik saja." Senyum lebar penuh semangat.
Lenia tersenyum dengan kue di mulut. "Kalau begitu itu alasan terpuasku!"
Ketukan dan pintu terbuka lebar. Eli terburu-buru masuk, melepas kasar heelsnya di depan pintu, dan menuju toilet dapur. Dua orang yang menikmati dialog hanya terdiam. Beberapa menit berlalu dan suara air mengema. Eli menarik napas panjang keluar dari dalam toilet sambil memegang perutnya.
"Sudah minum obat?" Eli hanya mengangguk, tampak keringat di pelipis gadis itu. Memaksakan diri duduk di samping Cerel dan Lenia.
"Di pesta kau pasti memilih makanan mengandung santankan?" Eli bersandar lemah di punggung sofa, "perutmu tidak mampu beradaptasi dengan itu jika keterlaluan Eli sayang!" Nada serius.
"Aku lupa peringatan perut dan tergoda Lei!" Wajah memelas.
"Tidak sepenuhnya yakin, dalam pikiran dan hatimu pasti mengatakan, nikmati dan gampang tinggal meminum obat saja nanti!" Cerel dan Lenia menggeleng.
"Aku akan mengantarmu ke rumah sakit." Berdiri dan melangkah menuju kamar sambil melepas handuk dari kepalanya.
"Dia berlaku dewasa!" Eli terlihat pucat sambil memegang perut, suara kasar terseret dari sana. Berlari menuju toliet.
Pengalaman kasar menghempaskan diri pada apa yang dilewatkan di masa sekarang. Semua teguran seharusnya menjadi bukti nasihat tapi, dihindarkan oleh menit berikutnya. Terpikat oleh hal yang menantang.
'Aku tunggu di pestaku!' Tampak hangat di layar gawai milik seorang lelaki yang sedang memperbaiki jas abu-abu miliknya. Mengambil arloji perak dari meja maroon, menatap jarum yang terus pergi dan kembali di sana. Senyum miring, melilitkan rantai arloji pada pergelengan tangan. Langkah kaki di atas parmadani, membuat hentakan nada dari monkstrap. Gawai dibiarkan menyala di atas meja dan lebih mementingkan kacamata perak kuno dengan rantai mengantung di setiap sisi bagian bawah telinga. Penampilan yang anggun. Mobil klasik hitam berjalan di atas aspal. Setiap keping daun terpental dan menjauh. Serasa di rumah sendiri.
Seorang lelaki tampak berpidato di atas panggung klasik, "malam ini kunyatakan kita berpesta, aku percayakan bahwa kita tidak memerlukan persenjataan yang ketat, kita tidak sedang berpesta modern, kawan-kawanku kita nikmati pesta klasik dengan aturan. Bersenang-senanglah!" Suara berat pada akhir kalimat di sertakan dengan kedipan mata.
Pasangan dengan gaun pesta dari kebebasan memilih. Menari, menyanyi, permainan penarikan dan pembuangan uang, dan keserakahan pada tubuh masing-masing di tempat terbuka ataupun tertutup. Semua kesenangan tertimpa di tahta berpenghuni yang menjanjikan kesempatan terhadap waktu. Menjadikannya berharga atau tamat. Semua memiliki waktunya dan silahkan memilih tahtamu di tanah perjanjian.
Pihak yang berbeda, di Rumah Sakit Tingang, Eli dan Lenia duduk pada kursi armchair berbeda dengan barisan yang setara. Seorang dokter lelaki yang sudah tua duduk di hadapan mereka, tubuhnya berisi. Senyum ramah khas dokter selalu tertera di sana.
"Sudah kukatakan jangan menyiksa perutmu dengan makanan yang berlebihan, kamu tidak mendengarkan!" dr Hendro Wisja memperingatkan ke sekian kalinya.
"Artinya bukan cuma resep yang sama tetapi kuliah pasien yang setara. Aku akan mencoba bertobat, dok!" Wajah datar seperti hilang harapan untuk, "santan, dia sulit untuk merelakan hal itu dok!" Lenia menyalakan api.
"Eli, kesehatan dan penyakit tidak perlu di cari karena pasti akan datang sendiri tetapi harus ada perjuangan dan perbatasan dari diri kita untuk kata menunda!" Peringatan kedua, dengan wajah tetap ramah.
"Sulit menasihati diri sendiri dok!" Air matanya mengalir.
dr. Hendro dan Lenia menggeser kursi, sedikit duduk menjauh dari Eli.
"Aku yakin dia bukan Eli dok!" dr. Hendro mengangguk, tampak sepakat dengan perkataan Lenia.
Taxi menunggu di depan rumah sakit. Cerel duduk di dalamnya dan Eli baru masuk. Pintu di tutup oleh Lenia dari luar, "kami pulang!" Eli masih memegang perutnya, melambaikan tangan tanda perpisahan, dan katakan saja hal itu berlaku sementara.
"Jangan rindu kak Leilei." Cerel tersenyum dari balik Eli.
"Kunci kau letakan di tempat biasa kan?" Cerel mengangguk dan Lenia tampak mengelus dada karena merasa aman.
"Hati-hati bawa motor Lei!" Lenia mengangguk dengan nasihat Eli.
"Kau juga harus mendengar nasihatku El!" Mengacak rambut Eli, gadis itu menatap dingin.
"Pak jalan!" Taxi berjalan pelan.
Lenia tersenyum lebar sambil menggeleng, Cerel melambaikan tangan dari balik jendela mobil sedangkan Eli hanya menampilkan genggaman tangan. Dua tangan terangkat dan di lambaikan oleh Lenia sebagai balasan. Mengenakan helm, menghidupkan motor dan saatnya melaju.
Lenia meletakan kunci motor pada lemari televisi bersama helmnya. Bunyi gawai terdengar dan pada layar menampilkan pesan tanpa pengirim yang jelas, dan disana tampak lima pesan belum terbuka. Lenia tampak berpikir. Tetapi tangan membuka pesan.
'Aku selalu berharap bahwa apa yang tampak bodoh tidak akan kupercaya, nyatanya tetap kulangkahkan hatiku ke arah yang kuperingatkan.'
Lenia tampak berburu dengan gawai, panggilan cepat untuk ke perusahaan taxi. Menggendalikan motor sendiri dapat menjadi kesalahan saat hati dan logika tak sejalan. Hal mendesak yang paling cepat dilakukan, belum tentu logika bermain dengan itu.