
Angin musim panas dan musim dingin sangat jauh berbeda. Selalu ada dana jiwa yang terkorban. Berita membuat aroma menyengat.
Pintu rumah kecil Lenia sekarang tertutup, Bart menurunkan gadis itu sebelum mencapai batas untuk alas kaki dan menyentuh rambut Lenia, "kau harus tahu kapan kaki berhenti!" Tersenyum miring. Keduanya dalam posisi tinggi yang berbeda.
Lenia memajukan langkah, kaki gadis itu tepat di ujung pembatas, sebelum kaki menyentuh beberapa centimeter kebawah, dia menarik diri dengan bertahan pada ujung kaki, dan satu ciuman tepat di bibir lelaki itu.
"Apa kau akan pulang?" Kembali pada posisi secara perlahan. Tatapan gadis itu ke arah dada Bart.
Bart menarik dagu gadis itu hingga tatapan keduanya pada titik yang sama. "Kau harus memintanya dengan benar, Lenia!"
'Aku hanya merasa bersalah untuk semua hal tetapi, kapan harus kuhentikan waktu karena akan sangat sulit bagi kaki untuk memilih antara yang benar dan yang salah. Satu kali kau terkena mantra dan semua hal akan kau lakukan dengan mata tertutup penuh emosi.'
Menjadi penguasa yang adil untuk hati dan logika bukan hal mudah. Sesuatu akan menjadi tabu saat salah satu memerintah dan bertahta. Manusia tidak akan pernah bisa memberi peringatan berkala saat menjadi raja bagi dirinya.
Tidak ada kata ragu saat bibir menjadi satu dan yang memulai adalah sang gadis. Bart tersenyum dalam lekuk ciuman Lenia pada bibirnya. Tangan kiri Bart menarik gadis itu ke dalam pelukannya erat, ciuman semakin dalam dan liar. Sulit untuk di kendalikan.
Bart di atas batas, dan perpindahan membuat sepatu meninggalkan kaki. Membuat tubuh Lenia terhimpit pada ujung punggung sofa. Ciuman terlepas, tangan kiri lelaki itu sekarang berada di punggung sofa, dan di jadikan sebagai sandaran untuk tubuhnya yang sedikit membungkuk. Sedangkan tangan kanan membuka kancing jas, "kau tidak tahu artinya, kunsi andri kapiting naan hang hanyu (kunci dan gembok ada padamu) istilah yang harusnya bukan kata semata!" Melonggarkan dasi, "aku akan mengajarkan istriku bagaimana bersikap liar." Mencium bibir Lenia. Gadis itu terlihat memerah tetapi ikut irama.
Sentuhan demi sentuhan inti di setiap titik sensitif. Mulai dari belakang leher hingga telinga. Kata mutiara menjadi iblis terberat. Tak terasa baju rajut Lenia terbuka dan menyisakan baju lapis tipis berwarna maroon, duduk di atas punggung sofa, rok terangkat hingga ke paha dan sentuhan di bawah tubuh terasa menari lembut beriringan dengan ciuman pada bibir hingga perhentian pada leher gadis itu.
'Jika berujung luka mungkin aku tidak akan kalah, kau terlanjur datang ke duniaku.'
Wajah Bart berubah, bulu penuhkan tubuh, cakar dan mata elang berwajah macan dengan mulut seperti serigala terlihat lapar dan gila. Pakaian yang dia kenakan sekilas terserap oleh tubuhnya. Suasana paling menakutkan bagi mata dan tubuh manusia. Ciuman binatang ganas menari di leher Lenia, mereka saling menatap sekadar bertanya dengan jawaban yang pasti. Membalikan tubuh gadis itu menghadap televisi dan dua tangan terikat oleh dasi sehingga tubuh mempertahankan posisi pada dudukan sofa. Punggung sofa menyentuh perut, rok terangkat hingga ke punggung, dan celana lapis tipis gadis itu terbuka secara paksa. Sentuhan di sana berulang dengan senjata yang paling ampuh tetapi sulit kau sebut. Lenia meringis dengan suara kecil tertahan. Tubuh besar menyentuh hingga ke dalam tubuh gadis itu. Suara kasar mulai terdengar saat gerakan mulai menari dengan gila. Pikiran hilang soalah masa sulit usai saat ini, puncak yang tinggi. Tubuh keduanya saling menatap. Lenia mencium lelaki itu seolah memohon, tangan yang terikat di kalungkan pada belakang leher Bart, keduanya menyatu dengan puncak yang semakin kasar. Seolah air menetes kasar dari bibir gadis itu, sentuhan tangan Bart dari leher ke sana, bulu masih merajarela dan tarian lidah Lenia pada jari disertai sedikit gigitan saat puncak berikutnya.
"Kau menunjukan sisi yang nakal, Lei!" Tubuh Lenia menyentuh dinding, lelaki itu mengambil wujud manusianya. Membuka ikat pada tangan gadis itu, sedikit mengangkat kaki kirinya dan mengolah rasa dengan hentakan benda tajam yang tak memberi luka. Telapak tangan kanan Bart di samping wajah Lenia sebagai penopang. Sedangkan gadis itu menopang tubuhnya dengan kedua telapak tangan pada dinding. Puncak yang membuat Lenia menggigit tangan Lelaki itu dan Bart mencium lehernya. Puncak yang gila seolah meronta dan membabi buta. Tidak ada tata krama pada waktu.
Malam memakan segalanya, tak bersisa. Lenia duduk di atas paha Bart yang bersandar pada punggung sofa. Kaki gadis itu membentuk segitiga tertidur pada dudukan sofa. Kedua mata saling menatap, Bart mengenakan celana kain tanpa alas di atas tubuh, dan Lenia dengan nightie kuning. Gadis itu menyilangkan tangan dan menyandarkan ke dada kokoh Bart.
"Aku di suruh Eli untuk makan malam dengannya besok di Restauran Karet, dia mengundangmu?" Pertanyaan terlontar jelas.
'Orang tuaku sedang berbulan madu ke Raja Ampat dan Bali, aku harap kau mengerti, tidak ada toleransi lagi.' Pesan terbuka tanpa balasan, berasal dari durhaka. Tentu saja dari sepupu Bart, Men're.
"Aku akan mengatakan pada Eli." Sedikit mengerakan tubuh ke arah televisi. Tetap duduk pada paha Bart, mengambil kue cokelat dan memasukan ke mulutnya. Mengambil remote serta menjadikan dada kokoh lelaki itu sebagai sandaran.
Tangan kiri Bart memeluknya tetapi tatapannya fokus pada kacamata yang dia kenakan. Televisi di nyalakan.
Nyala lampu mulai redup. Hening seketika di tanah bernyawa. Malam semakin larut hingga ke dasar.
Emon memerhatikan layar gawai, tangan dengan neil art cokelat bermandikan merah tampak panjang. Make up natural dengan rambut sedikit ikal. Long dress hitam menari di atas kursi stool dan kaki berhias high heel maroon. Kaus tangan transparan berwarna putih hingga ke siku. Tetapi memberi akses jari untuk terlihat.
'Aku ingin kau ke acara malamku!' Pesan dengan Emon sebagai pemilik.
'Aku tidak akan datang.' Klar sebagai pemilik nama.
'Aku memberi pesan, maka pilih salah satu sebagai tampilan untuk malam besok!' Emon masih memerhatikan pesan di gawai.
'Kita liat saja besok, jangan berharap lebih!' Emon meletakan gawai di atas meja Bar, nama Deka tampak terpajang di belakang gadis bartender. Gadis Bartender itu meletakan dua wine di hadapan Emon. Rey mengambil posisi duduk di sebelahnya. Lelaki cantik itu berbalik ke arah Rey dan sedikit mendorong wine dengan anggun.
"Butuh bantuan lebih kali ini?" Tangan memegang gelas wine.
"Dia yakin tentang pilihannya bagaimana mungkin aku yang sangat tidak yakin!" Menarik napas kasar.
"Kau terlalu percaya diri soal pilihan dan yang namanya takdir. Takdir milik semua orang dan hanya mereka yang menentukan." Tertawa kecil.
"Mereka milikku, dan aku tidak ingin lepas dari tanggung jawab. Kedua pola sama hingga saat ini!" Meneguk wine, isyarat jari dan satu botol wine di meja.
"Secara tidak sengaja kita juga ikut dalama rencana, tetapi yang membangun narasi singkat dia. Kau tahu dia tidak akan pernah berkeinginan untuk lepas dari yang namanya tugas." Bibir menyentuh gelas wine, sedangkan Rey meneguk wine hingga tak bersisa dari botol.