
Ricard menemui 10 orang di dalam ruang kamera dan audio pengawas, "apa alasan pihak forensik dan detektif tentang TKP dan pakaian tersangka?" Menatap pada layar CCTV lift.
"Pemeriksaan di TKP dengan metode strip ganda (strip and double method), menunjukan bekas luka sayatan benda tajam berbentuk cakar tetapi pihak forensik dan detektif tidak menemukan benda tajam di sekitar TKP, bahkan di tubuh tersangka saudara Bart. Luka di tubuh korban menghasilkan darah yang banyak tetapi di tubuh calon tersangka Bart tidak di temukan darah korban bahkan setelah pemeriksaan, pakaian dan tubuhnya tidak menujukan satu titik darah korban, kecuali pada alas bawah sepatunya, pak." Riko memegang keyboard sambil menghadap Ricard untuk menjelaskan foto.
Bart tersenyum pada CCTV, "aku ingin melihat senyum bangga di wajah itu berubah!" Ricard berbalik arah menuju pintu.
"Infokan pada tim anggota, tetap fokus pada pemeriksaan bukti TKP dan minta tubuh korban untuk di VER (visum et repertum), untuk tersangka dan saksi gunakan CCTV pesta, harap lebih teliti. Makhluk itu tetap di biarkan di kantor hingga besok, cari alasan yang sesuai untuk itu!" Menghilang di balik pintu.
"Saudara Bart M Klar di silahkan tetap di kantor polisi, menunggu pengantaran besok oleh tim polisi yang bertugas, terima kasih!" Bart menatap lelaki di ruang kaca yang selalu menatapnya.
Bart di silahkan ke ruangan dengan dekorasi kamar yang lengkap dengan toilet di lobby. Pintu di kunci dari luar, "tepat sasaran!" Mengeleng sambil tersenyum miring.
Lenia terlihat terburu-buru menaiki taxi. Eli melihatnya dari kejauhan sebelum memarkir sepeda tepat di depan rumah Lenia.
Lenia melihat jam menunjukan pukul 11:45, dan tatapannya teralih pada pesan di layar gawai. Tidak ada jawaban di sana setelah, 'aku menjemputmu sekarang!' Menarik nafas saat berada di lampu merah, keningnya tampak berkerut.
Pintu ruangan saksi terbuka, Bart berdiri di depan pintu dan begitu juga dengan calon tersangka pencuri yang terlihat keluar dari ruang di sebelah Bart.
"Pucuk di cinta ulampun tiba!" Tersangka pencuri itu berucap. Dia dan Bart berjalan menuju tempat pengambilan barang bawaan. Pintu otomatis terbuka untuk keduanya, calon tersangka pencuri berjalan melewati Bart.
"Tuan pencuri, bisa bawakan mobilku pulang!" Bart melempar kunci pada calon tersangka pencuri yang berbalik arah dengan kening berkerut ke arahnya.
"Kau kira aku akan melakukannya?" Melempar kembali pada Bart.
"Kalau begitu tuan, kau akan kehilangan kesempatan akan uangmu!" Dengan enggan sepupu Bart yang dipanggilnya 'tuan pencuri' mengambil kembali kunci dan pergi.
"Aku yakin kau tidak ingin pulang saat mobilmu tidak ada, sepupu!" Tuan pencuri menjawab. Bart menyunggingkan senyum.
Lenia turun dari taxi, "terima kasih paman." Sambil memberi uang. "Sama-sama nona!" Pemilik taxi yang di panggil Lenia dengan sebutan paman terlihat menunduk dan pergi. Gadis itu menuju ke lobby dan bertanya pada satu polwan tentang Bart.
"Saudara Bart M Klar baru saja pergi dari kantor kepolisian kami, berjalan kaki nona!"
Lenia menarik nafas lega dan sedikit merasa tenang. Gadis itu keluar dari kantor polisi dan turun perlahan dari anak tangga. Bart berdiri di depannya, saat gadis itu berada di taman kantor polisi.
"Aku ingin sedikit santai!" Lenia mengangguk tanda setuju.
Diam yang sedikit panjang, untuk mengartikan akan sangat sulit. Menenggelamkan pikiran adalah hal yang mudah. Karena dimanapun kita, hal dasar adalah berteman dengan ingatan.
"Buah yang kuberi tidak akan pernah kudapatkan kembali!" Sebuah ice cream dua di tangan Bart.
"Kapan?" Mengambil ice cream.
Eli menatap layar gawai, 'aku menunggu di studio foto, Queen!' Jempol pada kata, kirim. Menata beberapa gaun dan toxedo bermotif batik.
Lenia menarik nafas kecil, "aku ingin ke perpustakaan!" Gadis itu tersadar dengan pernyataan Bart. Di samping kanan mereka gedung perpustakaan daerah.
"Rasanya aku belum pernah ke perpustakaan ini!" Bart berjalan mendahulukan Lenia untuk naik ke anak tangga, gadis itu mengikuti.
"Kau akan terbiasa dengan hawanya, nona!" Mengulurkan tangan dan kali ini Lenia memegang tangan Bart. Keduanya masuk ke dalam perpustakaan. Mendaftarkan nama di komputer layar sentuh sebagai bukti pengunjung. Masuk menuju lift masih dengan berpegangan tangan, Lenia terlihat sedikit risih dengan tatapan beberapa orang pada mereka. Bart hanya tersenyum miring, "mereka tidak akan memakanmu, kau harusnya lebih takut padaku!" Bisikan dari balik kepala Lenia, Bart berdiri di belakangnya. Keduanya sangat dekat, dada bidang bertemu punggung kecil.
Beberapa orang keluar mendahulukan mereka sambil tersenyum.
"Aku sedikit," wajah Lenia memerah, menarik tangan Bart. Berhenti tepat di antara lemari buku dengan dekorasi ukiran dari kramik.
"Kita berada di, sejarah!" Bart mengambil buku dari depan Lenia, "waktu itu aku mencari tentang sejarah Kerajaan Nan Sarunai, ternyata di sini!" Lenia mengambil buku sejarah Tamiang Layang.
Lenia masih memilih buku, Bart duduk di sisi pojok ujung memilih kursi perpustakaan yang jauh dari beberapa orang. Bersandar pada punggung kursi yang menyatu dengan tembok. Duduk di sana dengan menyilangkan kaki, anggun. Fokus pada bacaannya. Lenia duduk di samping Bart, meletakan dua buku pada meja dan satu buku sejarah Tamiang Layang di tangan.
"Aku ingin membaca yang itu nanti!" Membuka halaman buku sejarah Tamiang Layang.
"Duduk di sini," menepuk pelan bagian paha kokohnya, "aku tidak akan memberikannya, jika tidak!" Tersenyum miring setengah berbisik.
"Aku akan meminjam bukunya!" Kening berkerut dengan kata mengisyaratkan diri sendiri.
"Buku ini VIP, istriku. Harus punya kartu untuk itu. Buku ini khusus untuk di baca di sini, jika tidak memiliki kartunya. Apa aku harus menjelaskan lebih detail!" Bart menunjukan kartu hitam di antara jari telunjuk dan jari tengahnya. Lenia menatap datar, "sepertinya suamiku terlahir dengan sendok emas!"
"Baca sekarang atau nanti, Lei. Buku ini hanya ada di perpustakaan ini!" Menutup buku dengan ketebalan hampir satu jengkal. Lenia menatap sekeliling, tubuh mereka berdua tertutup oleh lemari buku di belakang kursi gadis itu. Arah samping kanan mereka berdiri pohon mangga yang di kelilingi beberapa bunga, lokasi gedung perpustakaan serasa taman. Air mancur dengan patung enggang yang gagah.
Lenia berdiri, dengan wajah memerah. Menyingkirkan tangan Bart dari buku, duduk di paha lelaki itu. Mengambil alih bacaan Bart, di mulai dari halaman pertama.
"Kata yang paling kusukai di mulai dari kata, kisah. Kebohongan yang dimulai dari kejujuran, opini yang kujaga!" Membalik halaman demi halaman.
"Kertas bertintah selalu punya titik sejarah yang dirangkai sebagai ilmu bahasa. Lisan dan tulisan semua makhluk sulit dibuktikan kecuali berlabuh pada jejak. Sukar mengatakan kebohongan dan kejujuran karena semuanya adalah adil. Lei, yang mana akan di pilih, kebohongan yang jujur atau kejujuran yang berlabuh pada kebohongan?" Lenia menatap Bart. Lelaki itu perlahan mengarahkan tatapan padanya.
"Aku memilih menikmati apa yang tersaji sekarang." Suara pelan.
Lenia tersadar ketika ciuman mengarah pada samping bibirnya. Sebuah berita yang membuat semua jantung berpindah letak. Bibir yang membuat gadis itu mengangkat buku di tangannya, agar sejajar dengan posisi wajah mereka.