Come Here Datu

Come Here Datu
Come Here Datu



      'Aku ingin kita bertemu malam ini!' Lokasi dikirim, Jean Kee tertulis sebagai nama pengirim.


      "Bagus sekali, bahkan lokasinya di rumah sakit kosong?" Ricard tersenyum, tangan memegang cangkir kopi dan tatapan pada beranda yang menampilkan kesibukan manusia di jalan raya.


      'Aku akan menemuimu di sana!' Pesan dari Ricard tertera pada layar gawai yang berada di tempat duduk mobil tanpa penghuni. Mobil di parkir pada luar pagar rumah sakit kosong tetapi terawat dengan sangat baik.


      Pemikiran dan perkiraan baik akan membantai di saat salah logika. Semua hal dapat di permainkan ketika orang tahu kau suka bermain. Harus kau tahu semua tempat punya pemimpinnya sendiri tetapi semua rasa dan logika hanya satu pemimpin.


      "Bagus kau datang telat Lei!" Eli terlihat sibuk dengan dua long dress pengantinnya.


      Lenia meletakan tas wristlet di sofa dan pakaian santai tampak melekat pada tubuh, kaos cokelat anti fit-style sebagai atasan dan celana ketat sebetis tampak melangkah tanpa alas kaki. Segera mendekat pada Eli, "Emon belum bisa datang?"


      "Dia punya urusan dan tadi malam dia sudah di sini, Cerel hanya kubiarkan membantu sebentar." Memotong kain biru laut dengan alat pemotong kain otomatis.


      "Cerel sekolah dan kerja hari ini, kita berdua akan sibuk!" Menatap long dress putih di menekin.


      "Kau memberiku harapan sayang."  Tangan membuka lemari kayu berisi mutiara, berlian, intan, perak dan emas tertata rapi sebagai hiasan pakaian.


      "Luar biasa sekali, aku bahkan hampir tidak berani memegang." Lenia berpura-pura mengangkat kedua tangannya.


      "Yakinkan dirimu sebelum kujebloskan ke neraka, nak." Eli memperingatkan dengan menunjuk posisi kaos tangan. Gadis itu terlihat sangat sexy, dengan rambut terikat tak rapi. Pakaian, kaos putih anti fit-style dan dipadu rok denim semata kaki tetapi tampak membuka diri pada bagian samping kiri, dari paha ke bagian betis terlihat melekat susunan bulatan renggang dari denim. Memperlihatkan posisi musim, sesuai dengan hari yang panas.


      Lenia sedikit membungkukan tubuh, sekadar berjalan mengambil kaos tangan, rasa malas menjadi bumbu penyedap.


      Kelopak mawar terjatuh di tanah, hujan reda di saat angin menghembuskan napas. Bersumpah atas nama yang terukir di kayu, penampilan karismatik tidak akan luntur. Namun, panas musim menghujam dada.


      Menara malam terpampang di langit. Lautan bintang bergilir ke jalur perhentian. Daun kering musim panas membuka gerbang surga.


      Mobil berhenti di depan gerbang rumah sakit kosong. Tampak luar tidak ada seorangpun saat malam hari kecuali lelaki yang mengenakan kemeja putih anti fit-style, memperlihatkan bagian dada, dan pada kaki melekat celana kain hitam di temankan oleh mobil klasik putihnya.  Langkah kaki berlapis  watchout dengan pasti tangan membuka gerbang hitam bertulis, 'Rumah Sakit Tebu' angin seketika menebas kulit.


      "Pengalaman yang harus kuingat." Seseorang memberi code padanya dengan senter dari lantai atas gedung, "kita liat siapa dalangnya!" Tersenyum.


      Seberapa kuat langkah akan terdengar menggema saat penghuni di gedung terbuka hanya beberapa orang. Lift masih berfungsi dengan baik, menekan untuk lantai atas. Ricard menyenandungkan lagu.


      'Hangat kurasa, serbuan tepat di dada. Ada yang hilang dari darah menetes. Luka bercampur senyum apa mampu berkata. Hilang sudah harapan di negeri, neraka.'


      Lantunan terakhir bagai bisikan yang dingin. Wajah serius saat lift terbuka. Tidak ada siapapun di sana, kosong tak bersisa. Ricard melangkah dengan anggun, berhenti tepat di pojok gedung. Hamparan taman remang, sepuluh lantai darinya berdiri sekarang. Memperbaiki jam tangan, tatapan fokus pada jarumnya.


      Kepala ditegakan, "akhirnya kita berjumpa, kawan atau harus kukatakan lawan."


      "Kau menggodaku, kau harus tahu tipe terbaikku!" Ricard menuju yang di tuju, tapi kaki dengan sengaja dihentikan di tengah gedung.


      "Kau benar-benar penasaran dengan kaum kami, harus kuakui kau lelaki yang menarik." Lelaki itu mengulurkan tangan dan menata rambut panjang berwarna hijau tua dengan lima jari, "tapi bagaimana, tangkapan besarku bukan kau." Menghembuskan napas kasar. Lelaki itu mengenakan jubah panjang berwarna hijau tua dan menampilkan rajutan sarang laba-laba dari besi, sedangkan pada pipi, leher dan hingga ujung jari kanan yang tersingkap menampilkan tato kuno Dayak. Ricard memerhatikan dengan seksama, "kau tidak ingin memperkenalkan diri sebelum kau menang?"


      "Aku suka cara bicara yang rendah hati, sangat sulit dilakukan oleh manusia!" Tertawa kasar, "pikiran luar biasa, aku tidak akan membunuhmu, kau bisa pegang pernyataanku!" Lelaki itu setengah berputar dan sekarang berada di depan Ricard. Tangannya dibiarkan saling menggenggam ke belakang punggung.


      "Aku terharu mendengarnya, padahal aku bersiap mati saat kemari." Sedikit membungkuk. Saat tubuh Ricard mendongak lelaki itu di belakang punggungnya, saling beradu punggung.


      "Kau tertarik pada tatoku, biar kujelaskan. Tato kuno ini akan berada di tubuhmu sebagai tanda kehormatan dan berarti juga segel. Segel milikku akan terbuka saat tugas kuakhiri. Tetapi kau tidak akan melihat segel asli yang kumaksud." Tersenyum dan cakar keluar, tangan hampir menghujam kepala Ricard terapi lelaki itu menghindar dengan masuk ke antara kedua kaki lelaki itu dan tembakan dari pistol kecil miliknya selalu tepat di celah.


      Lelaki itu dengan cepat menghindar tetapi hitungan peluru terakhir Ricard menghantam kepala saat posisi wajah berhadapan pada senjata. Darah hitam bercucuran dari sana, "kau menembusku!" Memegang kepala dan menjilat darahnya, lubang kepala perlahan kembali mengecil. Tersenyum pada Ricard, tangan melayangkan cakaran hingga menghantam perut dan meninggalkan suara yang beradu dengan rancangan kemeja besi milik Ricard. Tubuh lelaki itu terseret dan menghantam pojok gedung. Penghalang semen sebetis menangkis tubuh agar tidak terjatuh, tetapi kepala terkena pukulan semen.  


      Penglihatan Ricard mulai buram, memejamkan mata sesekali agar kembali normal. Tempat kosong terpampang di depan mata tetapi dari atas seseorang berdiri di bibir pembatas tepat di belakangnya dan tangan menyeret pada semen penghalang.


      "Padahal aku tidak terlalu kasar hari ini!" Lelaki itu tampak berpikir dengan nada datar.


      Ricard melepaskan diri darinya dan menendang bagian kaki, lelaki itu menghindar dengan memutar tubuh. Sebelum kakinya menyentuh lantai, Ricard menendang bagian perut dan wajah dengan cepat. Tubuh lelaki itu sedikit mundur.


      Ricard setengah berlari, satu pijakan sebagai dasar dan menendang dengan lutut ke arah wajah tetapi lelaki itu menghilang dan berada di belakang Ricard.


      "Kau kehilangan dirimu!" Tertawa. Arah tubuh Ricard yang sekarang menuju ke lantai. Senyum licik dari lelaki itu tersungging, kakinya menendang tepat di bagian punggung, untuk kedua kalinya tubuh Ricard menghantam lantai. Luka gores menganga saat bersentuhan dengan retakan semen, menampilkan darah segar. Lelaki di depannya tertawa sangat keras.


      "Kau tahu aku manusia yang tidak akan pernah menanam dalam logika apa itu kata menyerah!" Ricard tertawa sambil berusaha berdiri. Sebelum mental fokus melawan tubuh agar tegak, dari belakang sekilas bayang tubuh seseorang bersama amang kayu melayang. Tujuan yang tepat, amang kayu tertancap pada jantung lelaki di depan Ricard. Bart berada di samping tubuh lelaki itu, tangan kiri berpegang pada amang kayu yang mencuat di dadanya hingga membuat kaki menyeret lantai dan berakhir di lift. Ujung amang kayu menembus pintu lift yang tertutup.


      "Berputar akan menghancurkanmu!" Bart memperingatkan. Tetapi dari arah berbeda, satu cambukan tepat di tengah keduanya. Bart menarik dirinya dua langkah melayang ke belakang, dengan sedikit menyeret kaki kanannya. Satu tangan kanan di dalam kantong, dan tangan kiri yang bersimbah darah hitam melonggarkan dasi. Tatapan dingin pada tubuh yang mengenakan jubah hijau tua bertudung, wajahnya tertutup topeng kerbau lengkap dengan tanduknya, dan di tangan sebuah tongkat besi yang mampu berubah menjadi cambuk pemotong.


      "Aku sangat senang karena hari ini tidak sia-sia!" Lelaki dengan amang kayu yang berdiri pada jantungnya masih bisa tertawa, "kau datang di saat yang kurang tepat, aku sangat ingin menghabiskan darah dari kaum pendosa!"


      Bart menarik amang kayu dengan mengangkat tangan kanan, amang tercabut dan membuat pergerakan  dada dari lelaki di depan lift.


      "Bagaimana jika kau mencobanya, Barol!" Tersenyum miring dengan posisi tangan kanan memikul amang kayunya.