Come Here Datu

Come Here Datu
Come Here Datu



      Air matanya menetes, kaki di kokohkan tanpa kata permisi melangkah menuju lift. Resepsionis Bart berlari ke arah Lenia, menatap Lenia di sebelahnya yang tampak meneteskan air mata. Tanpa bertanya segera membuka pintu lift. "Tuan Bart sedang," menghentikan kata sambil menatap Lenia, gadis itu tak akan pernah fokus untuk saat ini.


      Pintu lift terbuka, kaki Lenia terlihat tidak stabil dan tubuhnya menyentuh dinding lift. Gadis resepsionis dengan cepat membantu memegang tangan Lenia.


      "Terima kasih." Air mata berhenti mengalir tetapi pikiran gadis itu tidak pada dirinya. Kata yang terucap nyata terdengar kosong. Membantu tubuh berdiri tegak dan keluar dari lift.


      Gadis resepsionis mengikuti dari belakang. Ruangan berbentuk bulat membuka diri, kaca tembus pandang menampilkan tubuh Bart yang sedang menuang anggur di sana. Pintu otomatis terbuka. Gadis resepsionis terlihat sedikit kebingungan, karena kaki mereka saat ini menghentikan tubuh tepat di depan ruangan tersebut.


      Bart memberi isyarat berupa tatapan untuk menyuruh gadis resepsionis itu kembali ke tempat, hal itu membuatnya tersadar lalu membungkuk dan pergi. Meninggalkan suasana panas dengan pendingin menyala.     


      "Istriku ingin membicarakan sesuatu?" Suara terdengar lantang dengan pembatas pintu. Sajian mata menampilkan Bart yang mengenakan jas abu-abu lengkap dan oxford pada kaki sebagai dekorasi. Senyum miring tertata rapi di sana, tanpa beban.


      "Aku hanya akan di sini sementara, jadi dengarkan baik-baik!" Lenia berucap dengan kalimat pilu. Air mata menetes tanpa sedikit gurat tangis di wajah.


      "Apa aku tidak bisa menuang tuak pada gadisku?" Bart tetap menuangkan tuak ke dalam gelas, wajahnya fokus.  


      "Aku ingin kita berpisah." Kata kelu keluar dari mulut Lenia, walau gadis itu tahu bahwa tidak ada pernikahan yang dapat di ceraikan oleh manusia.


      Bart meletakan botol tuak di cocktail table, "mau segelas tuak, kubuatkan untukmu." Tersenyum singkat sambil memegang gelas tuak, "aku ingin kau menjelaskannya Lenia,  aku butuh manusia yang memberi alasan bukan lari dari rasa takut. Aku tahu kau istriku!"


      "Aku baru saja memberi tubuhku pada lelaki yang kusuka!" Terdengar sekali suara yang bergetar, tetap mempertahankan kenyataan.


      "Kau tampak tidak tulus mengatakannya, bukan kau pelakunya, Lei?" Berbalik dan bersandar pada pinggir meja.


      "Aku ingin kau marah, kenapa aku tidak mendapatkannya?" Tangisan dengan nada setengah berbisik tetap menggema.


      "Lenia, aku selalu bermain dengan logika bukan rasa. Jika ada penjelasan maka hal itu memuaskan logika, dan dari sana kuukur untuk kata salah dan maaf." tersenyum miring dan menyilangkan tangan di dada, gelas tuak tetap di tangan.


      "Aku benci diriku karena memilih laki-laki sepertimu untuk kursi kosong yang kuundang. Jika kau dan aku kuat atas dasar percaya maka kita tidak akan mengkhiatainya seperti ini." Gadis itu berbicara seolah untuk penghakiman pada diri sendiri.


      Bart melangkah tetapi menyempatkan diri meletakan gelas tuak pada meja,"Mereka yang tidak saling percaya dan memafkan tidak bisa di sebut saling memiliki, hal itu benar-benar membuatku sedih akan manusia. Mendengar kata yang istriku ucapkan, aku di tegur atas salahku karena berulang kali melakukan hal yang salah dari sudut pandangmu." Perlahan terus melangkah mendekatai tubuh gadis itu.


      "Apa wajar mengukur kesalahanmu sendiri, saat kau pernah memafkanku. Hal yang sama akan kulakukan, aku memafkanmu Lei." Berdiri di depan Lenia dan memegang pipi gadis itu lembut.


      "Aku bahkan tidak bisa memafkan diriku sendiri, siapa yang bersalah?" Menatap lekat lelaki di depannya.


       "Bagaimana mungkin ada seorang gadis manusia tahu bahwa diriku tidak bersalah, jika dia bukan milikku. Ketika dia sendiri hanya tahu mengukur kesalahnya dan aku tahu mengukur kesalahanku. Aku berdiri sekarang di depanmu, sebagai seorang suami. Tak perlu membicarakan apapun karena sejak aku mengambilmu sebagai istriku, aku telah mempersiapkan talenta perang untuk bediri di sampingmu dan menemanimu hingga perang usai dan kita menang. Memberimu rumah saat kau di pengungsian, dan membelamu dengan senyum saat air mata seratus kali kuhapus." Jari menghapus air mata pada pipi Lenia. Senyum miring dari lelaki itu membuka harapan paling melukai bagi seorang gadis. Kata bersalah melekat dalam diri, merasa tidak harus di ampuni tetapi dia tetap menyatakan Lenia sebagai istri setelah semua yang terjadi. Pengampunan memang menginjak harga diri manusia.


      "Aku harus pergi." Lenia melangkah mundur perlahan, berjalan pelan menuju lift, pintu lift terbuka cepat seolah menunggunya, dan tubuh gadis itu menghilang di balik lift. Meninggalkan Bart yang menatapnya.


      Tubuh Lenia di sambut gadis resepsionis saat pintu lift terbuka. Gadis itu pergi membawa diri berjalan kasar keluar gedung, turun dari tangga, kaki mulai perlahan melambat, dan terduduk. Membiarkan tubuh melemah dan membenamkan wajah pada kedua tengah ķaki yang menekuk. Suara isak terdengar sangat berayun, dan tampak getar tubuh dari gadis itu.


      'Aku menemukan dia sebelum mencintainya, baru tersadar dia di dalam hatiku tapi berusaha menjauh dari ikatan bernyawa yang kubuat dan ternyata kami lebih dekat dari ini, kunyatakan pengampunan.'


      Bart memutar jarinya di pinggir gelas tuak. Wajahnya memiliki senyum miring, "mereka tahu cara bermain." Meneguk tuak dari gelas kasar.


      Semua nyawa terasa hilang, kalaupun membunuh diri rasanya tidak akan sakit lagi. Perlahan piring berdarah tersaji saat rasa lapar menguasi tubuh. Hal sempurna hanya akan menambah air mata.


      Langkah kaki Lenia di jalan raya terlihat kosong, mengisyaratkan luka.


Taxi yang dia tumpangi tampak menunggu gadis itu di parkir. Tapi, pikiran kosongnya membuat tubuh berpikir untuk melangkah.


      Sopir taxi muda itu menjalankan mobil, mendekat ke arah Lenia, berada di belakang gadis itu dengan jarak yang sedikit jauh, dan menjadi pengikut di setiap detik langkahnya.


     Mobil klasik kuning melaju melewatkan mobil taxi dan tiba-tiba berhenti di samping Lenia. Satu orang keluar dari pintu belakang mobil dan menarik gadis itu. Suara tertahan, hanya meronta, klorofom sprey disemprotkan pada wajah. Membuat Lenia melemah dan mobil melaju.


      Sopir taxi itu tampak terkejut dan akhirnya menyadarkan diri lalu memberanikan diri untuk mengikuti. Mobil melaju kencang di jalan, laju mobil klasik mengalahkan laju taxinya. Setengah berpikir, memutar balik mobil dan menuju ke gedung Mouse King.


      Masuk tergesa-gesa ke dalam gedung dan menuju resepsionis, "gadis dari sini tadi sepertinya di culik nona, aku hanya berpikir seseorang yang dia kenal berada di sini." Resepsionis itu mengangguk karena suara dari seseorang mengema di aerphone memberi perintah, 'katakan saja terima kasih.' Hal yang sama terlontar dari mulut gadis itu.


      "Terima kasih kalau begitu nona, saya permisi." Sopir taxi itu menuju mobil, mengeluarkan gawai dan menekan angka darurat untuk nomor kepolisian,"mereka tampak tidak meyakinkan untuk khwatir pada perempuan itu tadi." Telepon terhubung, "pak ada penculikan di arena Jl. Tawuluh X!" Laporan menggema di dalam mobil. Gawai di matikan, dan saatnya menarik napas panjang, "harusnya itu hal benar yang kulakukan." Menatap gedung Mouse King.