
Senyuman miring milik lelaki yang tenggelam dalam suara langkahnya. Berjalan diantara kerumunan manusia dengan warna-warna arah yang berbeda.
Lenia membuka pintu plastik dengan banyak buku di dalamnya. Gedung hijau dikarenakan penuh tanaman hijau sebagai dekorasi. Tampak kelas pada bagian atas pintu bertuliskan 'Perpustakaan Welum.' Gadis itu menuju meja hitam dan di sana seorang gadis manis berambut pendek ikal tersenyum menyambut.
"Bukuku, aku butuh perpanjangan!" Kata Lenia tersenyum sangat manis.
"Dua minggu kamu memperpanjang buku ini?" Gadis itu menggeleng sebagai tambahan jawaban tetapi tetap memilih memuat data di komputer, hingga sistem scanner tangan sebagai pemeriksaan identitas perpanjangan di proses lagi.
"Aku punya tugas penting, tan." Jawab Lenia terlihat merengek sambil membaringkan kepala di meja.
Gadis dengan nama Tania menghela napas dalam lalu mengembalikan buku fiksi ke Lenia, "untuk novel mu." satu klik perpanjangan peminjam telah diperpanjang.
"Kasar sekali!" Wajah Lenia terlihat cemberut yang dibuat-buat sambil tersenyum. Gadis yang bernama Tania, hanya bisa tersenyum.
"Aku ingin meminjam buku yang lain." Meninggalkan meja lalu menuju lift dan menekan untuk lantai tiga.
Lenia keluar dari lift, di depan gadis itu penuh dengan lemari kayu berwarna merah dengan dekorasi ruangan hitam dan putih. Di langit-langit ruangan berukir tulisan Novel dari ulin. Sebuah layar peta petunjuk arah lemari terlihat bergerak.
"Di mana waktu itu?" Melangkah pelan menatap sekitar lemari dengan telunjuk yang tak berhenti dalam posisi berdiri mengarah ke samping buku tepatnya di bagian judul, "aku lupa, itu di mana?" Setengah berlari menuju lemari dibaliknya, "kenapa tidak ada, rasanya kan di sini?" semakin mengerutkan kening, kesal. "Atau tata letaknya yang berubah?" Setengah berlari menuju pojok kanan bangunan dan menggunakan telunjuk lagi. "akhirnya, ketemu." Tersenyum ketika telunjuk beristirahat di salah satu novel.
'Darah Siluman' tertulis pada sampul buku.
Lenia membawa buku ke salah satu kursi di pojok ruangan dengan jendela plastik menghadap jalan raya. Membalik lembar demi lembar buku. Wajahnya serius dan terlihat sekilas mengerutkan kening. Menutup buku kasar, "ku buat sedih atau, bingung. Kenapa jadi bodoh?" menepuk jidatnya, membaringkan kepala di atas tangan, "kalau dipikir-pikir seharusnya berhubungan dengan komunikasi. Lalu, kembali ke genre sebelumnya?" Katanya pelan menatap buku. Terbaring di atas tangannya. Menghela nafas dan menyanggah dagu dengan kedua telapak tangan. Menatap jalan raya di luar, "mulai bingung?" Suaranya terdengar pasrah. Berdiri dan mendekatkan mulut ke jendela plastik transparan, mengeluarkan nafas. Tidak tampak embun di sana, Lenia seolah-olah membuat sekuntum bunga dengan gerakan jari telunjuk.
"Jika ada yang hilang maka itu, luka hatiku?" Gadis itu menatap sekeliling, wajahnya seketika memerah karena malu. Mengambil buku lalu melangkah menuju pintu lift. Kata itu keluar dari mulutnya, padahal pikiran dan hatinya tak sepuitis itu. Terlihat tubuh seseorang menuju keruangan itu.
"Berhenti di sini, aku mohon?" Seperti keajaiban, pintu lift pun terbuka, Lenia terlihat menatap fokus ke bawah karena rasa malu yang menjadi genderang di jantung lalu dengan cepat masuk ke dalam lift. Lelaki dengan cardigan merah melewatinya, "kamu disini juga rupanya, harusnya kamu gunakan waktumu dengan baik, nona." Suara khas terdengar berat dengan kesan karismatik yang sama. Langkah itu bernada tegas, kaki yang berhias sepatu kulit itu tampak menuju ke lemari buku. Meninggalkan kesan suara yang misterius, sulit untuk dilupakan. Lenia mengangkat wajahnya tapi penasaran diakhiri oleh pintu lift yang sudah tertutup. Gadis itu terlihat kaku, "tunggu kalau tidak salah berarti benarkan?" Menatap pintu lift dengan wajah tegang, karena waktu tak akan dapat diputar sekali lagi.
Berhenti di lantai satu dan pintu lift terbuka. Lenia terlihat berpikir, tanpa beranjak keluar dari sana hingga ketika pintu lift menutup kembali, dia menekan angka 3 untuk kembali ke lantai yang sama, "waktu memang tak dapat di ulang tapi dikejar!" Pintu lift terbuka, dengan cepat memasuki setiap celah lemari perpustakaan. Naik ke lemari perpustakaan yang sedang berputar pelan. Membuatnya menghela nafas karena tidak ada satu orangpun yang sesuai yang dia pikirkan di sana. waktu menunjukan taringnya, Suara pintu lift menutup kembali dan begitu dia menuju ke sana pintu sudah sepenuhnya tertutup serta terlihat menuju ke lantai satu. Gadis itu terdiam, "terlambat lagi." kata yang terdengar lemah.