
"Eli mengatakan padaku untuk ke Queen studio photo?" Lenia menghentikan langkah saat berdiri tepat di belakang Bart. Lelaki itu berbalik, posisi di ujung tangga bawah perpustakaan.
"Kita akan ke sana, studio foto itu dekat dari sini." Dengan sedikit memiringkan kepala memberi isyarat untuk berangkat. Lenia tersenyum sambil turun dari anak tangga.
Queen studio photos berdekorasi tahun 1970, tampak berkelas dengan penataan warna yang redup. Eli menata long dress batik dan pakaian adat Dayak di setiap kotak kayu dan akar miliknya. Seorang fotografer dan timnya mempersiapkan perlengkapan kamera dan dekorasi tempat untuk keperluan fotografi.
"Baren, persiapannya bagaimana?" Eli mendekat pada seorang lelaki yang sedang memegang kamera.
"Aman El, tinggal menunggu modelnya saja." Mencoba kamera dengan Eli sebagai model. Gadis itu terlihat tanpa gaya, wajahnya datar.
"Aku tidak suka di depan layar ren." Berbalik arah menuju penata bagian dekorasi background. Pernyataan dan pertanyaan yang serius terjadi di sana. Kamera kilat mengarah pada mereka.
Pintu studio terbuka otomatis. Beberapa pasang mata tertuju pada yang ditunggu. Eli berjalan tegas ke arah pintu, "akhirnya modelku datang!"
Bart berdiri di balik Lenia. Gadis itu memperlihatkan senyum ragu pada Eli dengan sedikit lambaian tangan, "aku datang!"
Eli menaikan sebelah alisnya, "rupanya yang di tunggu membawa suami, ganti baju dan ke ruang make up Lei." Mempersilahkan dengan tangan menunjuk ke salah satu ruang di tengah studio. Tempat foto yang megah bagai panggung. Lenia segera menuju ruang yang di tunjuk Eli.
"Kau bisa menunggu sayangku di ruang sebelah sana!" Menunjuk dengan jari yang anggun ke arah ruang ujung studio bertuliskan ruang tunggu. Sasaran yang tepat bagi Bart.
"Apa ada kata atau?" Menatap ke sekeliling gedung.
"Kalau begitu silahkan duduk di armchair." Melangkah lebih dulu ke armchair yang di tuju agar Bart beranjak. Armchair di sisi ujung ruangan tepat menghadap panggung foto.
Pintu ruang make up terbuka perlahan. Tubuh Lenia yang mengenakan baju adat Dayak masuk dengan ragu, "permisi?" Katanya pelan.
Rambut panjang ikal, dress biru malam dan high hel kaca tampak belakang bagi Lenia. Wajah akrab jelas pada kaca rias.
"Emon!" Lenia mempercepat langkah menuju meja rias.
Emon memberi senyuman dan pelukan singkat, "kita bertemu lagi sayang!"
"Kakak di minta oleh Eli ke studionya?" Masih berdiri.
Emon mengangguk, "gadis yang banyak bicara, kami berdua saling menghubungi dari pertemuan waktu itu atau kemaren sekadar pekerjaan." Menjentikan jari di hidung Lenia pelan.
"Pekerjaan yang cantik membutuhkan orang profesional?" Lenia tersenyum mengelus hidung.
"Tentu saja bekerja yang terpenting profesional agar terlihat cantiknya!" Mempersilahkan Lenia duduk dengan senyuman.
"Bagaimana kakak bisa akrab dengan Eli?" Pertanyaan terlontar sambil duduk di stool. Wajah tertuju pada kaca.
"Apa pertanyaan ini sesuai dengan jawaban yang diharapkan?" Sambil menata rambut dengan senyuman.
"Kakak terlihat selalu cantik!" Lenia tersenyum menggoda saat kuas mulai menghantam wajah manisnya.
Suasana diam saat kedua manusia bertingkah dingin dan anggun di sajikan pada armchair dan cocktail table yang sama. Kaki keduanya bersilang. Dua cangkir kopi tersaji di sana. Keduanya duduk pada masing-masing ujung armchair, Eli menarik nafas, "apa yang tampak dari Lenia?" Mengalah untuk sekadar membuka suara.
Bart tersenyum miring, "apa orang luar pantas masuk ke dalam masalah hidup suami-istri?" Menata kacamatanya.
"Keduanya jika itu jawaban yang menurutmu puas!" Bart menyandarkan kepalanya pada bola tangan yang di eratkan, siku sebagai tumpuan pada tangan armchair. Menatap pada Eli dan gadis itu menatapnya dingin.
"Kau tidak akan menjawab pertanyaanku, apa aku bisa yakin untuk menyerahkan sebagian besar hartaku untukmu?" Ekspresi yang serius.
"Perkataanmu mulai menarik Eli. Aku sendiri tidak bisa berjanji untuk hartamu akan berkembang dan aman serta berharap kukembalikan. Tidak ada orang yang dapat memberi miliknya dengan percuma sepertimu. Pada dasarnya manusia kesulitan membuat manusia lain menjadi harta. Aku menghargainya jika benar gadisku begitu bagimu, tetapi kau harus tahu bahwa sekarang aku sedang bersamanya sebagai seorang suami." Tersenyum miring, cukup sebagai jawaban yang mungkin diinginkan Eli.
Eli menarik nafas sedikit lega, dan mengambil cangkir kopi. Ekspresinya datar penuh pikir, "terima kasih sudah membantu memeluk gadis kecilku!" Suaranya mengecil.
Lenia keluar bersama Emon. Pakaian adat lengkap dengan hiasan burung Juwei (merak) pada rambut yang tergerai ikal. Make up natural menjadi daya tariknya. Senyuman manis tanpa alas kaki. Dress yang didekorasi modern, berada di atas lutut. Warna merah membuatnya menyatu dengan hijau Borneo.
Eli tersenyum bangga pada apa yang tampak di mata. Meletakan kopi dan berjalan menuju panggung berdekorasi hijau tanah Borneo. Membiarkan Bart sendiri di armchair.
"Anak gadisku tampak luar biasa!" Tersenyum puas pada Emon.
"El, jangan memaksakan diri untuk memuji!" Lenia terlihat lemah.
"Sayang percayalah pada diri sendiri, kau sangat cantik!" Emon memegang tangan Lenia lembut. Gadis itu menyempatkan diri menatap pada Bart yang masih duduk dengan kopi di tangan. Cangkir kopi di angkat dari piringnya memberi kode, 'semangat!' Untuk gadis itu. Lenia menarik nafas panjang dan menghembuskan pelan. Berjalan menuju panggung foto.
Beberapa orang mengarahkan gaya pada Lenia dan terlihat jelas gadis itu mengikuti. Foto yang terpampang sangat rapi pada layar kamera Baren. Salah satunya foto di antara uei (rotan). Eli dan Emon tampak puas dengan hasil sedangkan Lenia duduk di side chair putih dekat panggung, lemah. Air mineral tersedia pada meja cocktail table di sampingnya beserta kue cokelat.
Sebuah minuman botol rasa kelapa yang dingin di letakan pada atas kepala Lenia. Gadis itu sedikit terkejut, "dingin?" Mengambil botol dan membukanya. Meneguk minum hingga tersisa seperempat botol. Bart tersenyum miring padanya.
Eli melihat pada pasangan di bawah panggung, "ren aku ingin satu sesi foto lagi!" Tersenyum sambil menatap Bart dan Lenia.
"Aku akan menyuruh mereka menambahkan bumbu!" Bersalaman tanda sepakat. Emon sedikit mengelengkan kepala sambil tersenyum. Baren memperlihatkan kepemimpinannya dalam memberi arahan. Dengan cepat mereka bergegas mengganti background.
Memegang tangan Bart, "Lei aku butuh satu sesi foto lagi!" Mata Eli mengisyaratkan permintaan ijin dari keduanya.
"Wahai kau manusia serakah, ya Tuhan!" Lenia berdiri.
"Hentikan omong kosongmu Lei!" Kata Eli tegas dan tersenyum kembali.
Dekorasi background selesai. Jalan setapak dan musim semi serta pondok kecil dari pasir putih di tepi danau teratai tampak perahu besar lengkap dengan dayung menjadi background pertama. Di belakang panggung putar, terdapat dekorasi sofa dan kamar tidur yang mewah. Semua perlengkapan terbuat dari tawudien (ulin) bergabung dengan warna maroon.
Lenia bersanggul rapi dengan kebaya emas, beralas high hel kayu. Menunggu di depan panggung.
Bart mengenakan jas batik emas, kemeja putih dan celana kain hitam tanpa lipit serta beralas pantofel kayu. Emon merapikan rambut Bart, "kau yakin?" Satu pertanyaan dari Emon terlontar.
"Aku akan menjawab dengan pembuktian nanti, jika berhasil!" Menatap pantulan wajah dingin di depan kaca.
"Kau akan melakukannya, Bart?" Emon tampak sedih.
"Kau harus memasang wajah bangga saat ini, lagipula jika manusia percaya maka gunakan kepercayaan mereka!" Tersenyum miring sambil merapikan jas.
Bart keluar dengan Emon bersamanya. Semua mata tanpa terkecuali terkesima. Bart melangkah pasti menuju Lenia, "kita akan mulai dari sisi yang mana!" Mengulurkan telapak tangan yang terbuka pada Lenia. Beberapa orang tersadar dengan pernyataan Bart dan segera fokus pada tugas. Keduanya melangkah menuju background kamar tidur dari tawudien (ulin).