
"Aku pulang!" Ciuman di pipi kanan Eli.
"Lei, jangan lupa tutup pintu. Aku tidak mengantar keluar nakku." Fokus menata open back dress kedua. Bahan kulit-kulit kayu, berbentuk bulu burung murai.
"Pintu ku tutup!" Berteriak sambil menatap pintu, "tidak ada jawaban, iya. Menjawab untuk diri sendiri, aku yakin dia memang musuh yang ku jadikan topeng!" Berjalan pelan. Mata diperhadapkan pada jalanan.
Tiba-tiba lampu jalan hidup secara berurutan, "Hampir membuatku jantungan!" Mengelus dada. Gang terlihat sepi, semua orang berdiam diri sekadar mengurung diri dalam labirin yang mereka kenal sebagai rumah. Pemandangan tampak membentuk lorong yang panjang. Lanjut mengurutkan kaki di jalan dengan menghitung langkah demi langkah.
Apakah semuanya sudah di hitungan genap atau ganjil? Lenia menghentikan langkah kaki, wajah penuh tanya terpasang. Membiarkan kaki menari pelan lalu dengan tiba-tiba menarik nafas, "ini yang paling aku tidak suka membantu Eli. Harus sampai pukul 00:23 malam!" membuat ancang-ancang dan mulai berlari sambil mengumpat.
Ketika tubuh menjadi ringan. Lenia melewati garis gang dan sekarang tubuhnya berada di jalan raya. Sebuah mobil merah melaju tampak terlihat kacau. Lenia menghindar dengan memundurkan kaki dan membuatnya terjatuh. Mobil melewati Lenia dan menabrak truk yang melaju dari arah depan. Terlihat jelas mobil oleng melewati Lenia dan menghantam tiang listrik. Seorang gadis kecil tiba-tiba berlari ke jalan raya. Lenia menatapnya dengan mata yang meneteskan air, suara tercekat, tubuh gadis itu lemah dan kaku. Truk oleng ke arah gadis kecil itu, 'chitttt.' suara gesekan pada aspal.
Satu tetes, satu kedipan mata. Tubuh truk berhenti tepat di samping Lenia. Gadis itu kaku dengan wajah berlumur air mata.
Pintu mobil terbuka, seorang pria bersimbah darah keluar dengan tertatih lalu jatuh di jalan.
"Anak." mencoba memanggil gadis kecil yang dilihatnya, suara seolah tertahan di tenggorokan. Tubuh Lenia bergetar. Tangisan menjadi bara panas pada pikirannya yang seketika kacau.
Dari balik badan truk terlihat api biru tipis seperti percikan api. Tubuh samar dari seseorang laki-laki terlihat dari bayang cahaya lampu. Langkah yang begitu anggun. Di tangannya berada seorang gadis kecil sedang meringkuk. Orang yang samar di tatap Lenia, membuat gadis kecil itu berdiri. Keduanya tampak sangat akrab dalam berbicara walau dalam pandangannya semua mulai samar-samar. Sekilas mata Lenia menangkap bahwa gadis kecil itu melambaikan senyum padanya dan pergi.
Kesadaran Lenia semakin menipis. Air mata tanpa isak kan, tatapan kembali beralih pada lelaki bersimbah darah di depannya. Tubuh gadis itu bergetar mencoba untuk berdiri tapi, usahanya sangat sia-sia. Kaki yang lemah untuk melakukan sesuai perintah.
Tak jauh darinya masih berdiri laki-laki itu. Langkah demi langkah yang karismatik mendekati Lenia dan membungkuk lalu memeluk gadis itu. Semua perasaan, keinginan dan pikiran menjauh dari wajah Lenia.
"Kenapa malah terjatuh di sini, kamu memang gadis nakal yang tidak bisa menjadi dewasa!" Ucapan yang terdengar dingin tetapi terasa hangat untuk Lenia. Karena, suara itu membantu sedikit kesadarannya bahwa dia tidak sendirian sekarang.
'Suara yang ku kenal, suara yang ku benci dan suara yang mengingatkanku pada nama seorang bocah, Muler.' tatapan Lenia lurus.
Lenia berjalan gontai. Seorang gadis terbungkus selimut bernoda darah, berlari dengan teriakan histeris melewatinya.
"Perempuan itu!" Lenia tersadar dan bergegas berlari ke rumahnya. Pintu pagar terbuka dan mobil putih milik ibunya terparkir di depan rumah. Pintu depan rumah terkunci dari dalam.
"Mah!" Menggedor pintu depan, "Pah! Jawaban apapun tidak terdengar. Lenia berlari menuju pintu belakang. Pintu belakang terkunci. Lenia mengambil dari dalam pot bunga yang berisi kunci cadangan. Pintu terbuka, gadis itu masuk dengan berlari. Perabotan di dalam rumah berantakan dan penuh dengan barang yang pecah. Lenia menuju ruang tamu. Bercak darah penuh di lantai. Melangkah pelan menatap sekeliling. Darah tampak mengalir dan meninggalkan bekas di mana-mana.
"Mah, Pah!" Suara panggilan terdengar pelan. Langkah gadis itu berhenti begitu menatap tubuh telanjang bersimbah darah di samping sofa dan di atas sofa seorang perempuan terduduk, bagian dada telah tertancap pisau. "Babah, Mamah!" Gadis itu mendekat mencoba membangunkan. Kedua tubuh itu hanya terbaring semakin kaku. Suara teriakan hanya memperdengarkan tangisan. Bau darah samar tenggelam dalam kabut berupa dosa.
Lenia duduk lesu dengan tubuh penuh darah. Menatap kedua tubuh orang tuanya yang kaku bersimbah darah. Foto keluarganya penuh pecahan kaca. Gadis itu memegang erat foto itu di tangannya. Darah menjadi stempel di foto. Telepon rumah dibiarkan menggantung di dekatnya.
Suara sirine semakin mendekat. 'Hidup yang bukan mati, apa itu dosa?' Kesadaran Lenia melemah. Tubuhnya lunglai dan terjatuh di lantai berkarpet darah. Matanya tak lepas dari kedua orang tuanya. Menutup mata sangat pelan.
'Semoga dan berharap bahwa semuanya hanya mimpi walau logika ku tahu itu bukan mimpi!' Lenia membuka mata pelan. Muler menatapnya, "gadis nakal!" Lenia tersadar. Tubuh gadis itu berada di pegangan Muler. Anak itu memeluk erat tubuhnya. Langkahnya pelan dan anggun tak ada suara nafas yang memperdengarkan kalau anak itu kelelahan.
"Mesum kau bisa lepaskan." Berontak, kalimat Lenia terhenti, Muler mengeratkan pegangannya dan menatap Lenia.
"Aku akan tumbuh menjadi lelaki yang kuat, jadi kakak bisa tenang!" Melangkah dengan pasti.
"Bocah, kau bukan manusia kan?" Kalimat pelan dan ragu keluar dari mulut gadis itu. Langkah Muler terhenti.
"Gadis sepertimu memang patut ku pilih menjadi istriku. Oleh karena itu kakak harus tetap dalam pelukanku!" Tersenyum miring.
'Jantung kau jangan memulai lagi karena yang kau sukai hanya ilusi.' pikiran selalu mengingatkan.