
Lenia berada di depan meja makan, terpampang piring yang berisi nasi dan rendang, sop ayam di dalam mangkok, segelas susu penuh pada gelas dan terdapat robot kelinci yang sedang menampilkan tulisan positif di sana. Wajah berpikir setara dengan kerutan pada dahi.
'Selamat atas kehamilan dua bulan sembilan harinya, jadilah ibu yang baik.' robot berucap sambil memamerkan tarian di atas meja Lenia. Gadis itu tersenyum manis.
Ingatan melayang pada beberapa jam yang lalu, dapur Eli tampak rapi, Lenia melatakan bekas makanan di dalam tempat sampah yang langsung mendaur ulang. Emon meletakan gelas di kitchen sink, lelaki cantik itu berdiri tepat di samping Lenia.
"Sayang, apa aku bisa memberi saran?" Tersenyum pada Lenia. Gadis itu memerhatikan dan mengangguk pelan.
"Bagaimana jika saat kau pulang dari sini nanti belilah tes kehamilan, kau harus tahu waktu awal anakmu ada di dunia, sayang." Senyum manis yang membuat Lenia menatap perutnya.
Seolah tersadar, "aku haid tiga bulanan yang lalu, empat hari masa haid berakhir dan waktu itu mungkin sekitar 15 hari berselang kami berhubungan hingga tiga hari berturut dan baru setelah itu terjadi beberapa hari yang lalu. Dia tahu masa suburku, padahal aku mengira PCOSku terjadi lagi."
Lenia tersenyum menatap tarian kelinci di depannya. Kedua tangan menjadi sanggahan pipi, "aku penasaran apa yang akan dia pikirkan?"
Pesta yang panas di musim dingin. Warna cahaya tembus ke dalam air. Pejamkan hati berlabuh di ombak.
'Lusa datang ke gereja!' Suara dari seberang aerphone. Muler mengenakan jas hitam lengkap, menatap dua batang pohon tanpa daun di depannya. Merapikan dasi, "aku akan datang setelah berburu!" Men're berdiri di samping mobil klasiknya tak jauh dari anak itu.
"Aku tidak akan ikut hari ini, bersenang-senanglah!" Men're memutar kunci mobil pada jarinya.
Muler mengangkat tangan kanan dan sekilas lambaian tampak meremehkan, "pakaian yang bagus untuk pemakaman!" Anak itu berbisik.
Perjalanan singkat mengambil waktu berharga. Pelampiasan diri patutlah orang lain. Tergantung, berharga atau tidak mereka untukmu.
Malam menjanjikan penghakiman dan pagi menjanjikan pengampunan. Suara alam tidak akan menggambarkan kata kebohongan. Suara yang mampu menjelaskan kejujuran yang di rasa.
Iringan yang luar biasa, senyuman dan sedikit haru bahagia tergambar di Gereja Palelu. Pengantin perempuan bertudung putih, di antar ke altar oleh Rey dan Lenia. Dua gaun putih dengan warna biru jatuh pada dekorasi hiasan hemerlap. Lelaki cantik dengan gaun bermotif sama tanpa tudung hal itu menampilkan wajah cantik dan tampan secara bersamaan. Emon mengulurkan tangan dan Rey serta Lenia melepaskan pegangan dari Eli. Menyerahkan pada mempelai laki-laki, genggaman Eli perlahan tapi pasti pada tangan lelaki cantik bergaun putih di depannya. Senyum manis berhambur.
Rey dan Lenia berjalan turun dari tangga dan menuju ke arah kursi Cerel. Tepuk tangan meriah ketika pendeta menyatakan bahwa, kedua mempelai bukan lagi dua tubuh melainkan satu tubuh. Sorak dan tepuk tangan serta taburan bunga menyuarakan harapan. Ciuman keduanya menjadi perjanjian semasa hidup. Sedangkan dari lantai dua terlihat dua sosok menatap ke bawah, Leon dan Muler duduk berdampingan. Mereka mengikuti arus tangan dari banyak pihak.
Resepsi pernikahan di adakan pada Gedung Parei, lantunan lagu dan musik dari artis ternama tanah air beserta tarian khas Dayak menggema. Makanan tersedia di meja, pelayan berhamburan untuk para tamu. Gedung yang besar terlihat sedikit menyipit. Banyak kepala menampilkan diri. Pernikahan kali ini bertema Dayak.
Dua mempelai mengenakan kebaya biru dengan rambut Emon di sanggul rapi sedangkan Eli membiarkan rambunya jatuh hingga punggung.
"Selamat Eli jangan terlalu malas sata kusuruh!" Leon memberi salam pada Eli dan gadis itu malah memeluk Leon, "terima kasih, pak." Mengedipkan mata. Langkah terganti dan pemberian selamat pada Emon, "jaga gadis itu atas namaku!" Tersenyum sambil melepas pelukan dari lelaki cantik di depannya.
Emon tersenyum, "dia akan selalu baik-baik saja, tuan!"
"Nona maafkan saya!" Lelaki itu menunduk. Lenia sekilas memerhatikan, "tidak apa-apa aku bisa membersihkannya, pergilah kau bayak tugas lain." Tersenyum. Lelaki itu pergi. Lenia meletakan gelas juice ke atas meja yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Gadis itu sedikit menggaruk area punggung tangannya. Titik merah menampilkan darah kecil di sana, membuat gadis itu mengerutkan dahi tetapi setelahnya tidak peduli.
Lenia mengibaskan tangan, "kenapa panas sekali?" Melangkah melewatkan setiap tubuh.
Muler duduk di sofa, tangan memegang juice anggur. Jas abu-abu melekat di tubuh dan di depan anak itu beberapa perempuan sedang bermain teka-teki dengan Men're.
Lenia melewati sofa mereka tanpa menatap, seolah tatapan tidak fokus. Arah langkah kaki menuju ke toilet gedung. Muler memerhatikan gadis itu dari pinggir matanya.
'Kau dimana?' Pesan terkirim ke Bart. Menatap wajahnya pada cermin, wajah dengan pipi memerah.
"Aku tidak merasa sedang sakit!" Memegang dahinya sendiri.
Langkah kaki menuju toilet perempuan, suara berhenti di sana. Muler berdiri di bibir pintu toilet perempuan, tatapannya jatuh pada gadis yang sedang memegang dadanya.
"Pemandangan yang langka dari seorang Lenia!" Gadis itu tersadar di depan cermin. Wajahnya tampak kebingungan. Muler menuju ke arahnya, "kau sedang apa gadisku?"
Lenia memojokan diri ke dinding, "sebaiknya kau tidak mendekat, aku mohon!" Suara kasar untuk menghentikan Muler dan tentu saja hal itu percuma. Anak itu mendekat dan menyentuh pipi Lenia.
"Kau tidak baik-baik saja kak!" Tangannya turun ke tangan Lenia dan mengenggamnya, "ikut aku!" Menarik gadis itu cepat untuk keluar dari toilet, tangan gadis itu berusaha memberontak.
Sepeningalan mereka, terdapat seorang lelaki pelayan yang menumpahkan air minum pada Lenia sedang terduduk di toilet khusus laki-laki.
Banyak orang yang mereka lewatkan dengan kasar. Mobil klasik berwarna kuning terpajang di parkir, Muler memasukan pelan Lenia ke sana, pintu tertutup secara otomatis. Saat ini tubuh mereka berada di kursi belakang mobil.
Lenia dalam posisi setengah tertidur, sedangkan Muler berada di atasnya. Anak lelaki itu membuka kancing jasnya dengan tangan kiri dan tangan kanan berada di ujung punggung kursi. Lenia memilih berontak tetapi tubuh gadis itu seketika melemah, keringat penuhkan tubuh hingga ke wajah. Lenia menjatuhkan tubuhnya dengan posisi tertidur sempurna. Muler mencium leher gadis itu, dan menarik rok kebaya hingga ke atas.
"Mereka melakukan hal yang sangat buruk padamu Lenia!" Tanpa berpikir panjang, menghujam bagian bawahnya pada gadis yang tampak pasrah. Penglihatan gadis itu dan pendengaran dalam pikiran mulai teralih, Bart menurut pandangan mata, berujung suara kecil tertahan dan getar tubuh meminta pengampunan yang lebih.
Pikiran mengalahkan tubuh, Lenia berusaha keras untuk bangun, dan mendorong Muler. Tanpa tenaga yang cukup anak lelaki itu terlihat cukup pasrah. Membiarkan gadis itu membuka pintu mobil klasik, memperbaiki roknya yang tersingkap, dengan mata berkaca-kaca setengah berlari menuju ke jalan raya. Mobil taxi hampir menyentuh kakinya, tetapi gadis itu tampak tidak peduli dengan amukan dari sopir taxi.
Kepala sopir muda keluar dari jendela taxi, "Nona, apa yang kau lakukan, jangan meremehkan taxi jika ingin mati!"
Kata tidak peduli membuat Lenia menatap arah belakang taxi yang kosong. Setengah berlari menuju pintu belakang taxi dan membuka pintunya, "ke Mouse King, pak!" Dengan suara tercekat. Sopir muda itu tampak menahan marah tetapi memilih diam dan melakukan apa yang di suruh. Melihat air mata terjatuh di pipi Lenia dan getar tubuh gadis itu yang membuatnya iba.