Come Here Datu

Come Here Datu
Come Here Datu: Pengalaman adalah Pelajaran



      Lenia duduk di kursi taman. Semua yang di matanya adalah pemandangan lalu-lalang manusia, tumbuhan dan hewan. Kedua kaki bertumpu di atas kursi. Jangan malu kalau harus mengatakan hal itu tidak sopan. Tas dan laptop berada di samping kirinya. Tangannya didada dalam posisi bersilang, memperhatikan gerak-gerik apapun yang ada didepannya. Menghela napas panjang, mengerutkan dahi dan terlihat berpikir. Menaikkan alisnya, "apa aku yang pintar?"


      "Aku menghargai orang lain yang mengatakan dengan lantang jika dia bodoh." Ricard duduk di sisi kanan Lenia.


      "Terima kasih untuk itu, aku rasa itu pujian yang dikurang." Lenia tetap fokus menatap ke depan. Masih dalam posisinya.


      Ricard menyilangkan kaki dan bersandar di punggung kursi. Memberikan pada Lenia sekaleng minuman. Gadis itu mengambil tanpa bantahan, membuka kaleng dan minum. Ricard minum dari kalengnya sendiri.


      "Aku termasuk orang yang bahagia jika harus mengatakan hal ini, apa yang kamu perhatikan?" Lanjut minum.


      "Coba kamu perhatikan semua langkah dan semua perhentian yang seolah pasti telah diatur. Karena kita sendiri melakukannya dengan sangat bebas, dalam hal mengatur?" Menaikan alis tanda berpikir yang berkesan harus matang.


      "Pertanyaannya adalah?" Menatap fokus kedepan.


      "Itu pendapatku, aku menanyakan kamu setuju atau tidak?" Kepala Lenia mengikuti objek yang menarik perhatiannya.


      "Setuju tapi pasti ada pertanyaan di balik itu, kan!" Menatap Lenia dan gadis itu menatapnya.


      "Biarkan aku mencari jawaban dari pertanyaan itu!" Wajah datar, "untuk apa kau mengawasiku?" Balik bertanya adalah sebuah jawaban yang angkuh. Hal itu membuat Ricard tertawa kecil.


      "Aku tidak perlu menjelaskan apa yang sudahku jawab lagi." Minum dan mendongak, salah satu pohon rimbun berdiri kokoh di belakang mereka. Daun sebagai atap yang menyejukkan.


      'Tidak ada seorangpun yang bisa mengambil keputusan dari sebuah pilihan yang sudah di putuskan selain oleh diriku sendiri.'


      Seorang manusia akan terus mencari agar mendapatkan. Jangan biarkan diri tersesat karena sebuah pertanyaan. Mempercayai diri sendiri penting tapi, kadang orang lain mampu membantu dalam nasihat kecil mereka.


      Malam bertambah malam, semua orang mengatakan hal itu dan setuju. Bukan pilihan karena kita tidak mampu memilih. Siklus pasti berurut dan berganti. Gadis kecil duduk di antara sampah, di pembuangan sampah. Menutup wajah dengan kedua tangannya. Tenggelam diantara kedua lutut. Pakaian yang penuh dengan kotoran dan mengenakan kaus serta sepatu yang lusuh.  Tempat itu sangat sepi, Lenia menghentikan langkah kaki di depan gadis kecil itu.


      "Hei, kau mau sesuatu?" Anak itu menatap Lenia. Wajah kecil penuh kotoran dan rambut dibiarkan terikat secara berantakan. Lenia mengulurkan tangan, "tidak baik anak gadis di sini, bangun!" Gadis kecil menerima uluran tangan Lenia. Perlahan berdiri dan meneliti gadis yang ada di depannya sekarang.


      "Maaf!" Menarik tas laptop Lenia secara paksa lalu berlari. Lenia dengan cepat mengikuti arah kaki gadis itu, "anak ini tidak tahu kalau aku ratu pelari. Dia kira bisa menang?" Lewat beberapa gang dan suara napas keduanya memburu. Kaki gadis kecil itu terlihat perlahan mulai lemah. Menuju jalan raya. Mobil dan motor dari berbagai arah. Kaki gadis itu tergelincil terkena bahu jalan dan membuatnya terdorong ke jalan raya. Mobil melaju, Lenia menarik cepat gadis itu ke dalam pelukannya. Membuat keduanya terjatuh di pinggir jalan.


Gadis kecil itu terdiam kaku. Tas laptop masih dalam gengamannya.


      "Mau melakukannya lagi, kalau mobil duduk di atasmu kamu kira, kamu masih bisa memegang laptopku sekarang?" Melepas pelukannya dan berdiri. Menarik paksa gadis kecil itu untuk berdiri. Lenia mengambil laptopnya secara paksa, "barang ini tidak seharga dengan nyawa, mau melakukannya, kamu mau aku mendorongmu dengan laptop ini ke tengah jalan?" Kemarahan yang terlihat sangat jelas.


Gadis itu seketika memeluk Lenia dan menangis penuh isak.


Tubuh Lenia melemah.


"Maaf!" Berulang kali gadis itu mengatakan hal yang sama dengan tersendu.