Come Here Datu

Come Here Datu
Come Here Datu



     Sorot yang membuatku terpaku pada satu titik dimensi zero. Dimensi terkecil yang membuatku memerhatikan sebuah pesona waktu karena tiga dimensi adalah tubuh manusia.


     "Kita tidak akan bicara?" Bartd tersenyum miring, cangkir kopi melayang dari meja menuju tangan satunya yang tak kerja.


     "Kau sudah memberi alasan dengan jawaban, kurasa cukup, habiskan kopi dan pulang!" Menarik tubuh ke belakang, tetap di sofa yang sama.


      "Aku ingin melihatmu mandi?" Wajah yang dingin. Pipi Lenia memerah dan terlihat garis di keningnya. Berdiri dan mengambil cangkir kopi dari tangan Bartd meletakan di meja serta menarik paksa lelaki itu menuju pintu keluar.


      "Kau tidak akan membiarkan aku setidaknya sarapan?" Lenia membuka pintu. Bartd tersenyum dan berjalan pelan menuju pintu keluar.


      "Hati-hati di jalan!" Jawaban Lenia dengan terpaksa. Gadis itu menutup pintu, sebelum tertutup sepenuhnya Bartd menahan dengan asap tipis di sekitar pintu. Lenia berusaha menutup tapi senyuman miring Bartd sebagai jawaban bagi gadis itu.


      "Kita berdua sudah baik-baik saja?" Bartd memegang pintu dan ciuman singkat pada pipi Lenia. Gadis itu terdiam dengan pipi memerah.


      "Aku pulang." Menjauh dari pintu, berbalik arah dan melangkah tegas ke arah mobilnya. Lenia menutup pintu dengan pasrah. Gawai dari kamar berbunyi dan gadis itu melangkah lesu lalu mengambil gawainya.


      "Aku meletakan undangan pesta ke gedung 99." Sebuah undangan beserta kabut putih terletak di meja kamar Lenia.


      "Jangan berharap banyak pada istrimu!" Mematikan telepon, melempar gawai ke tempat tidur dan mengambil kimono mandi.


      Bartd dengan kacamata  berwarna putih menatap kaca mobil dan tersenyum melihat layar biru didepannya yang bertuliskan nomor kontak Lenia,  "kembali ke layar awal!" Bartd menonaktifkan layar mobil sehingga kembali ke layar kaca normal. Mengemudikan mobil seolah tergesa-gesa.


     Bartd masuk ke dalam gedung berjalan menuju kantornya, beberapa pekerja tersenyum menyambut lelaki itu. Dia berlalu dengan sikap dingin menuju lift. Lift memberi akses dengan menscan tubuh dan suara pemiliknya, "ruang tengah!" Beberapa detik pintu lift terbuka di lantai 100. Pintu kaca terbuka otomatis, ruangan menscan pergerakan kaki sehingga membuka akses ke pintu yang dituju Bartd. Pintu ruangan terbuka dan menampilkan kamar mewah dengan dekorasi kuno. Sekilas gerak kecil, jas dan kemeja putih bersama dasi terlepas dari tubuhnya dan tertata rapi di pergelengan tangan. Di letakan pada punggung sofa. Duduk dengan anggun di sofa, memindahkan kaki sedikit, sepatu dan kaos kakinya  terlepas dengan rapi. Roti dan susu keluar dari bawah meja. Bartd mengambil roti, "tampilkan CCTV tanggal 02 Juni!" Layar pada televisi menampilkan rekaman CCTV di tanggal 02 juni dengan adegan disetiap satu jam.


      "Tampilkan video di urut 3!" Memakan roti. Video di tampilkan dengan layar CCTV dari berbagai sisi dan bahkan suara audio yang jernih, "seperti adegan yang diperhitungkan!" Memerhatikan layar berwarna ketika Lenia dan Muler memasuki ruang kerja Bartd dan menemukannya bersama seorang perempuan. Layar televisi menampilkan layar telepon.


...   ...


      Lenia mengetuk pintu dan suara panggilan mempersilahkan masuk. Gadis itu membuka pintu dan di sana dia bertemu dengan Muler. Leon dan Muler duduk bersebelahan. Lenia menatap Leon, "saya letakan naskah saya di sini, pak!" Meletakan di meja kerja Leon. Keduanya duduk dengan anggun, kedua kaki saling menopang, bersandar pada punggung kursi. Lenia sedikit menunduk tanda permisi.


      "Lenia ada undangan untuk pesta di gedung 99 untukku tapi aku tidak bisa menghadiri, kau dan Eli pergi sebagai perwakilanku!" Tersenyum mengisyaratkan tanpa penolakan.


      "Undangannya ada di sebelah mana pak?" Tersenyum paksa.


      Mengambil dari kantong jasnya, dua undangan. Lenia mengambilnya, "kenapa bisa ada dua, pak?" Wajahnya terlihat tidak suka.


      "Mereka mengira aku sudah menikah, padahal aku masih sangat muda!" Tertawa bahagia, "kamu bisa membawa satu lagi teman untuk satu undangan, jadi satu undangan berlaku untuk dua orang!"


      "Kalau begitu saya permisi pak!" Menundukan kepala dengan senyum terpaksa.


      "Nona sepertinya anda menjatuhkan undangannya!" Suara Muler membuat Lenia berbalik dan undangannya terjatuh di bawah gadis itu.


      Mengambil dengan senyum dingin, "terima kasih atas bantuannya!" Menutup pintu Leon dengan kasar, "dua bajingan itu entah kenapa berkumpul di satu titik, aku bahkan belum menerima penjelasan dan kejelasan!" Menarik napas sambil menggelengkan kepala.


      Lenia mengirim foto undangan ke Eli, 'Leon berulah lagi!' Tiga kata untuk mengakhiri isyarat makna terisrat.


      Eli mengerutkan kening, "akan ku usahakan!" Mengirim suara dengan scan telapak tangan pada layar gawainya. Gadis itu terlihat kacau dengan busa sabun ditubuhnya.


      'Aku akan ke undangan pesta bersama Eli!' Terkirim ke Bartd. Lenia bersandar di sofa rumahnya.