Come Here Datu

Come Here Datu
Come Here Datu



      Memang ada dua jenis tipuan, mataku dan ilusi tingkah yang di melodikan di depan mataku. Dua pilihan jenis bagiku, aku tertipu atau sedang tertipu, lemah dan sulit!


      Lantunan menyihir lekuk jiwa dalam persembunyian di cangkang dada, ku kira barang berhargaku aman. Tidak ada yang aman ketika alunan langkah kakinya menari di atas piringan yang bernama hati. Aku lupa satu hal, bukan hanya tubuh yang tak bisa aku kendalikan tapi jiwaku ikut terjerat. Dua hal yang telah ku serahkan dengan suka rela dan bukan milikku lagi. Bisa makluk itu candu, racun dan neraka dalam balutan surga.


      Aku tenggelam dalam pikiran yang lebih dari ilusi. Harus ku katakan bahwa dalam hati, yang paling ku hargai sekarang  adalah anak sekarat di sebelahku. Dua pilihan yang harus ku kendalikan dalam pikiran.


      Mata Muler terpejam dan jelas wajahnya tampak putih pucat di sinar lampu transportasi yang melewatkan mereka. Lenia sedikit mempercepat laju mobil. Mata gadis itu tampak berkaca-kaca. Satu kaca dalam tebasan cahaya lampu memperlihatkan dua wajah sedang terluka. Muler membuka mata pelan dan menatap Lenia lekat.


      Mobil berhenti kasar tepat di depan CafeMoon. Lenia membuka pintu mobil dan membantu Muler keluar dari mobil. Tanpa menutup pintu mobil, membawa Muler ke pintu pagar cafe, pintu cafe terkunci membuat Lenia mendorong kasar pagar.


      "Katakan padaku bagaimana cara masuk!" Fokus pada pagar.


      Dengan sedikit tenaga yang terpaksa, dari tangan Muler kabut biru menuju pintu pagar hingga membuat pagar patah. Lenia dengan cepat membawa Muler ke pintu cafe, "kamu membuat kode pengaman juga di pintu?" Mengerutkan kening melihat Muler menempelkan jari pada lubang kunci di ganggang pintu.


      "Dari mana kau tahu?" Tubuh Muler ditopang sepenuhnya oleh Lenia.


      "Ada iklan di televisi, jangan mengajak ku bicara!" Tegas tapi pelan. Pintu menuju ke labirin, terbuka. Muler terlihat sesekali memejamkan mata. Lenia sedikit menyeret tubuh Muler dalam topangannya, "Muler kamu harus tahu aku tidak tahu di mana arah kolam, kamu masih bisa bicarakan?" Menatap Muler yang terlihat senakin lelah.


      Muler menunjuk arah ke depan mereka dengan tatapan mata. Lenia menahan air mata, sedikit menyeret tubuh anak itu untuk berjalan. Langkah demi langkah yang di ambil terlihat semakin gontai.


      "Kolam!" Lenia menatap kolam yang berjarak 10 meter di depan mereka. Muler tiba-tiba memuntahkan darah berwarna hitam pekat. Lenia dengan cepat membawa tubuh anak itu, gadis itu tidak bisa menahan tangis, semuanya tumpah saat itu juga. Menyeret kasar tubuh Muler ke arah kolam.


      Kolam dengan 9 pohon membentuk pilar dan akar pohon menjadi dasar kolam bening di depan mereka. Beberapa anggrek di sekitar kolam. 9 pohon mengeluarkan mata air dari tengah batang dan dahan. Lenia memasukan Muler ke dalam kolam, karena terlalu lemah ketika Lenia melepas tangannya pada lengan Muler, anak itu tenggelam. Lenia dengan cepat masuk ke dalam kolam, pemandangan di dalam kolam yang membuat kening berkerut. Bermacam-macam bunga tumbuh di dasar kolam, tepat di atas akar. Menarik tubuh Muler ke atas,


Dan jejak tubuh anak itu berwarna hitam pekat di air tertarik seperti magnet ke arah akar.


      Lenia memeluk tubuh Muler, tangan kiri memegang akar di pinggir kolam, mempertahankan tubuh mereka agar tetap dipermukaan. Muler membuka mata pelan dagu anak itu di pundak Lenia. Tubuh Muler mengeluarkan seperti cairan hitam tertarik ke arah akar dan wajahnya perlahan kembali normal. Kedua tangannya membuat lingkaran di tubuh Lenia, "kamu sudah tidak apa-apa?" Gadis itu membiarkan Muler memeluknya.


      "Apa yang kamu lakukan?" Menatap cahaya.


      "Kakak cukup perhatikan, seorang pesulap tidak bisa mengungkap trik di balik sebuah adegan karena tabu." Asap biru dari mulutnya mengarah pada anggrek, dan semua anggrek menampilkan cahaya kedipan yang kecil. Lenia menarik tubuhnya dari pelukan Muler dan menatap lekat anak itu.


      "Aku kedinginan." Muler tersenyum mendengar apa yang dikatakan gadis itu.


      "Kita akan naik setelah, tarik napas!" Lenia menarik napas dalam. Muler menarik Lenia ke pelukannya dan menenggelamkan tubuh mereka. Bunga anggrek bersinar di bawah bahkan terlihat jelas ikan bersayap dengan berbagai warna dan jenis di sana. Lenia menahan napas sambil berenang, Muler tersenyum miring.


Satu ikan lele albino mengeluarkan gelembung dan tubuh mereka masuk kedalamnya. Lenia memegang gelembung, "selaput lunak?"


      "Kita berdua berbagi napas di dalam sini,  hanya bertahan  sebentar di sini dan dalam keadaan basah." Menatap seluruh tubuh Lenia dengan tersenyum miring. "Aku akan mengeringkan kakak di atas nanti, aku tidak ingin mengganggu pemandangan di sini," mengedipkan sebelah mata.


      Lenia hanya menelan air liur, "di sini cukup panas!" Dengan cepat membungkuk dan berusaha merobek selaput berbentuk balon itu, sekuat tenaga!


      Muler tertawa lepas, "Lei, kau terlihat kacau." Lanjut tertawa,"kalau selaput itu mudah rusak maka akan sulit menopang kita berdua dan kita dapat dipastikan kehilangan Oksigen!"


      "Lalu bagaimana keluar dari sini!" Ekspresi Lenia terlihat khwatir.


      "Dengan ini." Mengeluarkan kabut biru dari tangan, kabut menyebar kesekeliling, selaput perlahan melelah dan hilang menjadi air. Air menghantam tubuh mereka, Muler dengan cepat menarik Lenia kepelukannya dan membawa gadis itu berenang ke permukaan.


'Rasa khwatirku perlahan pudar!'