Come Here Datu

Come Here Datu
Come Here Datu



      Sabang hingga Merauke. Tumbuhkan yang hijau, menamkan putih yang dingin dan berbalut cincin merah raksasa penuhkan negeri. Saatnya memupuk obor di atas langit, di sisi manapun kau berdiri ada sang abad pemisah.


      Kantor polisi di lobby. Ricard masuk, di sambut hormat oleh beberapa polwan dan polisi yang bertugas lalu-lalang di sana. Satu polwan dengan name tag, Erina Membes mendekat, "dari lantai 18 kendali ruang introgasi ingin bapak ke ruangan tersebut." Mempersilahkan.


      "Terima kasih." Ricard menuju lift terlihat buru-buru. Pintu lift terbuka, langkah menuju ruang yang menanti.


Ketika pintu terbuka, ruang bermotif hitam dan putih, sectional di pojok ruangan, dan 10 desk dengan manusia yang rapi menyambut. Petugas di ruang kendali audio dan video terlihat tidak sabar membuka informasi. Tangan dan tubuh ingin memberi hormat tetapi isyarat tangan Ricard lebih dulu menepis, membuat mereka tetap di posisi duduk.


      "Apa yang kalian dapat?" Ricard menatap monitor yang tertanam di dinding.


      Petugas bernama Lina Nort meletakan tangan di atas mouse komputer di mejanya, sekarang monitor besar di dinding menampilkan rekaman dari CCTV pesta. Dua layar terbuka di hadapan mereka.


      "Mulai presentasikan!" Ricard meletakan kursi side chair di depan Layar dan duduk. Dagunya di letakan di ujung punggung kursi dengan beralas kedua tangan.


      Rico berdiri, "Satu jam sebelum terjadi, CCTV lorong ke arah toilet menampilkan Saudari Lenia Klar menuju toilet dan setelahnya diikuti oleh saudara Bart M Klar." Memberi isyarat tatapan pada Lina untuk mempercepat Video, "Saudara Bart terlihat menunggu saudari Lenia dan korban masuk. Setelahnya, saudara Bart dan Saudari Lenia pergi dari toilet. Selang berapa lama satu laki-laki masuk tanpa kami tahu identitas menuju ke toilet perempuan."


      "Hentikan presentasi di layar itu dan perbesar!" Ricard memberi kode dengan tiga jari. Wajahnya serius memerhatikan, "lanjutkan!"


      "Selang beberapa waktu perempuan sebagai saksi yang terjatuh di depan anda pak, menuju ke toilet, dan setelahnya baru saudara Bart ke toilet lagi serta terjadi seperti yang anda tahu." Rico mengisyaratkan video di hentikan. Tangan Ricard menyuruh untuk tetap di putar.


     "Kenapa lelaki itu tidak keluar?" Menatap monitor saat gadis saksi keluar dan pingsan di pelukan Ricard.


      "Kami berusaha memperbaharui video dan audio, ada masalah di dalam data. Kami takut ada ketidakvalidan data, pak." Rico sedikit mengerakan kursi putarnya lagi.


      "Artinya CCTV di retas, karena pihak kita, Detektif Jean dan tim masuk ke dalam jaringan panitia." Ricard terlihat berpikir.


       "Pertanyaan yang paling mendesak, kenapa saudara Bart M Klar berdiri di sana hanya sekadar menampakan jati diri seolah menjadikan dirinya sebagai budak. Menumbalkan diri agar tampak sebagai tersangka?" Rico mengigit kuku tangannya, "kalaupun bisa di retas maka teknologi kita dan kita kalah tertinggal, pak!" Dio Clen menambahkan sambil memegang pelipis dengan tiga jari, dan tatapan pada Ricard.


       "Pendapatmu kurang tepat, teknologi dan sumber daya manusia boleh tertinggal, tetapi bukan sudut itu yang terlalu berdampak hanya saja kita kurang jahat dalam menangani kelicikan!" Tersenyum miring, "berpikirlah sesuai dengan apa yang mereka pikirkan, walaupun akan memengaruhi mental. Dampak tali yang meliuk, pikiran kita adalah kenapa budak tumbal rela melindungi wajah kemungkinan seorang pelaku yang sudah ditampikan pada layar CCTV. Menarik bukan, jika kau ulur tali yang licin?" Ricard masih menatap layar monitor yang masih menyala pada dinding.


      "Kami berusaha mengambil langkah untuk meminta bantuan pada tim kita untuk memeriksa CCTV sekitar gedung pesta dan pada sekitar rumah korban sekadar mencari langkah kemungkinan pelaku tetapi tidak membuahkan hasil pak!" Kelvin Coril menampilkan pada layar monitor dari sudut rekaman CCTV berbeda, "kami juga tidak menemukan dashboard pada mobil Saudara Bart, mobilnya berteknologi tinggi, pak!"


      "Kita kedatangan hantu!" Ricard berdiri dan membalikan kursi ke arah mereka, duduk dengan anggun di sana. Dering gawai milik Lina, di sambungkan ke layar.


      'Melapor bu, tim otopsi mendapatkan ijin VER dari keluarganya di Tarakan, mereka baru sampai di Tamiang Layang dan hasilnya, tubuh korban meninggal karena patah tulang leher dan kehabisan darah sedangkan alat pembunuh tidak pasti, bu!'


      "Bicara Ren?" Lina antusias.


      'Dari bentuk luka terlihat jelas jika itu cakar, tetapi untuk menghentikan dugaan yang parah maka alat pembunuh kemungkinan besar adalah cakar besi, bu!'


      "Kalian menemukan sisa karat pada luka?" Ricard menambahkan.


      'Kami hanya menemukan sisa kue pada luka di punggung, sedangkan zat besi menjadi sulit karena darah juga mengandung Fe pak dan jejak korosi tidak ada, Al, Cu, dan SiO2, Na2O, dan CaO bahkan zat kimia pada kayu kami tidak menemukannya pak!"


      "Sedangkan senjata laser akan memakan waktu untuk membunuh dan pasti ada jejak terbakar?" Ricard menyanggah dagu dengan kedua tangan terlipat, siku berdiri di atas paha. Rico memberi isyarat tangan untuk mematikan gawai pada Lina.


      "Reno laporkan kembali jika ada hal kecil sekalipun!"


      'Baik bu.' Mematikan layar gawai bertuliskan detektif Reno Kami.


      Kepala Ricard tertuju pada layar monitor di desk Lina, "siapa yang ingin siapa yang terlihat. Memang ada yang berburu selain kita."


      Neraka akan siap menuang harapan berupa senyum yang sedih. Simpul yang kau buat menjadi kusut oleh rasa simpati. Buah tangan tidak dari hati, semasa waktu menunjukan pukul yang tepat.


      Perpustakaan sepi dengan manusia yang diam menjawab pikiran dalam buku masing-masing. Senyum dan sedih dalam diskusi berupa definisi yang ketat. AI hologram penerjemah bahasa isyarat berada di sebelah perempuan tunawicara sebagai penerjemah. Bart dan Lenia mendekat dengan buku Kerajaan Nan Sarunai dan Sejarah Tamiang Layang, meletakan pada meja. Di baju batik hijau gadis cantik tunawicara yang bersanggul terpampang name tag, Carina Nai Pihing.


      Carina menggerakan tangan dan mulut sebagai bahasa isyarat, 'buku VIPnya tuan dan nona!' Bart meletakan blackcardnya di meja sebelum penerjemah di samping gadis itu berucap. Lenia sibuk dengan terjemahan dari AI hologram di samping Carian.


      Bart menggunakan bahasa isyarat sebelum Carina bertanya, 'dua minggu peminjaman  hingga batas maksimal yang biasa!' Carina mengangguk dan sibuk pada komputer layar sentuhnya.


       Lenia memerhatikan saat AI hologram kembali menterjemahkan bahasa isyarat yang gadis itu yakin bukan dari Carina tetapi dari Bart. Di belakang mereka antre seorang lelaki muda membawa gadis kecil bersama buku, Tanuhui Dayak Maanyan. Carina memberi tas rotan sebagai tempat dua buku Lenia, 'terima kasih sudah berkunjung, tuan dan nona.'


      Lenia tersenyum sebagai jawaban.


      "Kakak ini bukuku, kata kakak aku boleh meminjam?" Meletakan di atas meja Carina dengan tubuh yang mungil. Bukunya hanya mampu diletakan pada ujung meja.


      "Bukunya hampir jatuh, Masya." mengeser buku agar mendekati Carina.


      Berbahas isyarat, 'Tunggu sebentar kakak daftarkan peminjaman di komputer.' AI hologram sebagai penerjemah.


      "Kakak cantik sekali, pantas saja kakakku suka meminjam buku ke sini!" Berpegang pada ujung meja agar tubuhnya sedikit naik. Carina terlihat memerah. Kakaknya dengan cepat menutup mulut adik kecilnya. Lenia memerhatikan mereka sebelum pintu lift terbuka.


      Semua manusia tidaklah bertindak dengan sia-sia. Tetap melangkah sesuai dengan alur yang terbentang. Menggapai hal selesai dengan pencapaian. Saat mencoba mengubah takdir kita tidak tahu akan menjadi baik dan buruk di masa depan.