Come Here Datu

Come Here Datu
Come Here Datu



      Pintu taxi terbuka, tubuh Lenia keluar dari pintu belakang. Hujan mulai turun perlahan. Baju rajut merah anti fit-style hingga ke paha, di pasangkan dengan rok putih bermotif mawar merah transparan di atas mata kaki dan sedikit menampilkan lapis dalam putih tak sama rata. Platform shoes batik merah dan putih pada kaki. Berdiri memandang gedung megah di depannya.


      Lenia berbaur dengan lalu-lalang, pesta, tanpa memerlukan undangan, cukup melewatkan diri pada pintu, dan scanner tubuh. Kau dipersilahkan untuk masuk. Pesta untuk keserakahan selalu mempersilahkan, apalagi perempuan dan uang. Gadis itu menapakkan kaki di area pesta penjahat, pemandangan tak wajar membuat mental berontak. Tempat paling duniawi, hanya obat terlarang dan senjata tidak di ijinkan sistem scanner masuk. Posisi yang tidak dapat kita lihat apakah arti benar dan  salah sepikir oleh kita dan mereka. Otak serasa mengecil jika kau disana dan melihat pemandangan saat ini.


      Tempat bermain uang, dan area menari serta berpuas *****. Sofa di sediakan dimana-mana, kau hanya harus memilih bagianmu. Pemandangan tabu yang kasar, manusia harus memiliki ijin untuk ini. Tetapi gedung ini di ijinkan oleh pihak berwajib untuk mengadakan pesta dengan syarat tidak obat terlarang, senjata dan penjualan manusia. Poin terakhir tidak berlaku di sini, tampaknya mereka tidak menjual tetapi memberi.


      Lenia melangkah semakin ke dalam pesta, banyak lantai ke atas dan ke bawah tanah tertampak di layar sentuh pada lift dan tentu saja tangga gedung pesta ikut setuju dengan hal itu. Bartender tersedia dimanapun mata dan kakimu singgah.


      Seorang perempuan mengenakan dress hitam dengan peep toe melangkah bersama godaan di setiap sisinya. Menuju ke arah sofa di balik pilar cokelat, laki-laki dan beberapa perempuan saling menggoda di sana. Kaki tampak melemah karena pemandangan berluka terulang pada saat ayah Lenia bercinta dengan para gadis di rumah mereka. Hal itu menjadi kesedihan paling dalam untuk ibunya dan dia.


      "Kau harus menikmati pestaku Bart!" Sepupu Bart mengedipkan mata.


      Bart menatap gadis berdress hitam yang saat ini berada di sampingnya, dan menarik dagu gadis itu untuk menahan gerakan yang lebih jauh dari itu. Mata penuh harapan untuk di pandang, karena tangan liar sedang berusaha membuka celan kain Bart. Tatapan lelaki itu tampak menyiratkan suatu pesan dan membuat tubuhnya mendekat ke telinga. Rantai kacamata jatuh di bahu gadis itu dan berlabuh senyum miring tersungging. 


      Menahan air mata, Lenia yang menyedihkan.  Beberapa lelaki tampak terpesona dengan wajah alami gadis itu, mendekat pada Lenia yang sedang kaku. Memasang wajah tersadar dan meronta.


      "Ingin menari dengan kami?" Senyum dari lima lelaki di sampingnya yang berbalut ajakan panas.


      Pikiran gadis itu tampak terpojok, hanya mampu menepis dari sentuhan mereka. Satu sentuhan pada tangannya dan membuat gawai terlempar ke arah pintu keluar.


      'Dia menari dengan darah, Lenia.' Layar gawai menyala, seseorang memberi pesan pada Lenia dan diakhiri dengan foto gedung pesta. Suara Lenia tercekat, pikirannya diterjemahkan ke arah masa lalu, tangan dan mata mencoba meraih gawai tetapi tarikan dan dorongan dari salah satu laki-laki di sekitarnya kuat. Tubuh terbawa menuju tempat menari yang diiringi musik klasik.


      "Aku harus mengambil," kata tercekat tapi mata tetap menuju arah gawai, "pesanku." Mata berkaca.


      "Menari akan membuat tubuhmu kembali sehat, nona!" Satu laki-laki menggenggam lengan Lenia dan membuatnya tampak menari. Empat perempuan yang sedari tadi berada di stool mendekat pada tiga laki-laki yang menjauh dari Lenia tetapi satu laki-laki yang tersisa tetap bersamanya.


      Satu tangan mengambil gawai dari atas parmadani merah, sedikit putaran pada benda itu, dan berakhir dengan mematikan cahaya gawai. Langkah tegas menuju ke arah tempat menari. Sedikit mendorong kasar kedua tubuh lelaki yang menghalangi pandangan Lenia ke arah gawainya. Mengambil tangan gadis itu dan meletakan gawai pada telapaknya.


      "Kau ingin menghilangkannya dengan menari di sini!" Kalimat yang Lenia yakin bukan pertanyaan, tatapannya tidak pasti karena air mata belum terjatuh.


      "Dia ingin menari denganku dan kau menghalanginya?" Tangan satu laki-laki berusaha menarik tangan Lenia tetapi malah menerima pukulan dari lelaki di depan gadis itu.


      "Gadis ini menyukai sentuhan dariku, bagaimana mungkin kau ingin merebutnya dariku?" Saat kalimat itu terucap, beberapa lampu dan sofa bahkan botol kaca pecah. Semua orang bingung pada apa yang dilihat. Empat lelaki yang ingin mendekat mengurungkan niat karena tubuh terpental ke arah dinding, pilar dan meja. Beberapa pasangan menjauh dari mereka, sepupu Bart tetap diam di sofanya tanpa berbalik. Dua perempuan memeluknya erat tetapi kepala menuju ke arah belakang pungung sofa.


      Bart mengangkat tubuh gadis itu ke dalam pelukan dari satu tangannya. Seolah posisi duduk di lengan kiri lelaki itu. Air mata Lenia terpaksa jatuh ke pipi, pandangan mata dan pikirannya kembali pada kenyataan. Gadis itu memeluk leher Bart erat dan menyembunyikan wajah pada dada kokoh lelaki itu.


      "Ingin tetap menari?" Pertanyaan kedua terlontar dan hanya di jawab dengan gelengan kepala oleh Lenia.


      "Kita pulang!" Kata yang tegas. Lenia kembali meneteskan air mata di leher Bart. Lelaki itu tersenyum. "Kenyataan pada mata, bahwa gadisku tetap menjadi gadis kecil!"


      "Bodoh siapa yang mau?" Lenia menjawab cepat.


      "Sepertinya aku harus pulang karena istriku sangat mengkhawatirkanku jika terlalu lama berada di pesta." Menatap sekilas ke arah sepupunya lalu berbalik arah dan berjalan keluar. Lima laki-laki terpental masih meringis di lantai dan di bawa oleh robot yang di pandu gadis sexy, tubuh kenakan long dress cokelat berbulu dengan rambut lurus seleher. Beberapa pasangan menepi untuk memberi jalan ke arah lift. Seperti tersihir, semua pasang mata tampak tidak peduli dengan apa yang terjadi dan kembali melanjutkan pesta.


      Bart berbalik arah dan menuju pintu keluar. Tidak peduli dengan pasang mata dan pesta. Senyum dingin tampak jelas dari wajah sepupu Bart, "dia menghancurkan pestaku!" Tertawa dan banyak pasang mata menuju ke arahnya.


      Air menghambat diluar, "hujan deras." Lenia terdengar berhenti mengeluarkan air mata, hanya sesekali membunyikan hidungnya.  


      "Pakai ini untuk kepala, kau cepat terkena flu, walau hujan melambat!" Membuka jas dan meletakkan dengan tangan kanan di atas kepala gadis itu. Lenia tetap di posisi yang sama. "Tempat parkir lumaian jauh!" Melangkah. Lenia cepat menutupi kepala Bart dengan sebelah jas.


      "Masih melihat jalankan?" Pertanyaan yang membuat lelaki itu menampilkan senyum singkat.


      "Kau berhenti menangis!" Pernyataan singkat.


      "Cukup hujan yang menggantikan, air mataku akan sia-sia jika tidak terlihat dan kita berdua semakin basah!" Sebagai peringatan dari Lenia.


      "Kau mau menciumku!" Bart menghentikan langkah di tengah jalan. "Turunkan aku dan aku akan berjalan sendiri!" Ucapan untuk memperbaiki keadaan.


      Bart mengeratkan pelukan sebagai peringatan. Lenia melemah dan perlahan mencium ujung kepala lelaki itu lembut. Memeluk Bart cepat, saat suara guntur dengan kilat memberi cahaya tambahan. Bart tertawa kecil dan kembali melangkah membawa gadis itu ke mobil klasiknya.