Come Here Datu

Come Here Datu
Come Here Datu



      Lekuk tarian yang rapi dan senyuman sebagai pengiring. Setiap proses memenuhi sebuah hasil, detik proses yang keras belum tentu memiliki hasil yang sesuai kebanggaan tetapi perjuangan sampai kapanpun tidak akan dapat dipertaruhkan dengan hasil.


      Dua bentuk tubuh saling menghimpit tubuh lainnya, di antara kerumunan berdiri Bard jauh di belakang Lenia dan Eli. Lelaki itu berdiri menghindarkan sorak dan senyuman manusia, dan satu gadis walaupun gadis sudah tidak berlaku bagi statusnya saat ini. Lenia sesekali menatap ke arah Bart, lelaki itu membalas dengan senyuman miring dan mengangkat gelas tuak seolah-olah sebagai isyarat, 'aku ada di sini, jadi tenang saja Lei!' Tatapan kembali fokus pada hentak tarian membentur lantai. Berhias senyum dari bibir Lenia. Bart tersenyum semakin miring di setiap tatapannya.


      Satu tegukan tuak sebagai simbol dari kata, tatapan dari setiap tegukan semakin dingin. Lampu ruangan semakin temaram seolah bermelodi sendu. Waktu semakin dekat, selalu ada harapan saat berani berjuangan dan mempertahankan. Berpegang teguh pada pendirian walaupun kadang kita harus tahu bahwa pasti ada air mata di sana. Nyanyian di utarakan seperti wuwuhiang (langit berbintang).


...      'Naan kisah, rueh kauulun sameh ngamule atei, santuhian hungei tatau ulah intan,...


      Bart berbalik arah dan meletakan gelas tuak beras di atas meja. Langkah kasar terlihat memburu menuju tangga, bahkan tanpa menatap Lenia, ekspresi dingin melewatkan setiap orang yang di temuinya. Langkah pasti menuju toilet dan berakhir pada toilet perempuan.


...      'Kiak andri rimut jari watu, bulu wunge kami rueh puang tau tumu, jaka iuh mulek ada ngamule babaran,...


      Memperbaiki toxedo dan menuju toilet ujung. Ketukan pada pintu toilet. Pintu terbuka pelan.


...      'Daya hanangni puang iuh na antuh biar hang ujung lela, penu kalelu ulun kude hanye riu mateku itati.'...


      Tepuk tangan dan riuh menjadi penutup bertudung merah. Saat terbuka malah tersaji hunusan pedang berdarah. Senyum pertama kian pudar, di malam itu.


      'Aku tidak bisa mengawasi toilet perempuan, ada signyal pengganggu untuk pendeteksi tubuh diruangan khusus.' Suara di seberang aerphone, "aku akan ke sana!" Ricard mematikan earphone  kulit pada telinganya.


      "Tunjukan padaku CCTV layar tengah menuju toilet!" Staf perempuan berpakaian batik dan rok kain terlihat bingung karena seorang staf laki-laki berstatus yang sama dengannya memberi printah, "maaf sebelumnya, anda panitia pengantar makanankan?" Lelaki di depanya memberi lencana kepolisian, "kami sedang berburu, nona!" Meletakan jari telunjuk pada bibir sebagai isyarat untuk diam, "kau tahu nona, keserakahan berdasar pada alasan mempertahanan akan sangat berdarah!" Meletakan tangan di atas tangan gadis itu, mouse sedikit bergeser.


      Rey menarik Cerel dari kerumunan, "kita terpisah lama dari Lenia dan Eli!"


       "Kalau begitu kita tunggu di kursi saja kak!" Gadis kecil itu menatap sekeliling.


      "Kita akan mencari mereka Cece!" Ekspresi wajah Rey terlihat dingin. Cerel hanya mengangguk tanda sebuah persetujuan.


      Pintu toilet terbuka seorang gadis terlihat sedikit merapikan kebaya dan menutup pintu, langkahnya berhenti ketika sekilas tatapan jatuh pada punggung lelaki di belakangnya. Keduanya saling bertatap punggung. Gadis itu perlahan berbalik arah, dan sebuah pemandangan  membuatnya kaku. Ruangan lebih dingin dari pemanas ruangan.


     Gadis itu berjalan gontai seperti mayat hidup, wajah yang pucat tampak jelas tercermin, membuat pertahanan di sepanjang dinding, menguatkan diri untuk keluar dari ruang toilet. Ricard menuju ke arahnya, "ada mayat di toilet!" Nada datar, gadis itu terjatuh dalam pelukannya, menghidupkan earphone, "Segera kemari!" Mengangkat gadis itu dalam pelukannya, langkah tegas menuju ruang toilet perempuan. Pintu ruang toilet terbuka lebar, Bart terlihat membersihkan tangan di wastafel tepat di atas mayat, pantulan wajahnya di cermin memperlihatkan tatapan tajam, dan sekilas senyum  miring dari bibir di balik sapu tangannya. Tidak ada wajah gentar di sana. Ricard mendekat, "aku akan membawamu!" Nada dingin, menatap mayat di bawah Bart.


      "Dengan senang hati, tapi aku yakin kau membutuhkan bukti," berbalik arah dan mengambil sapu tangan pada mulutnya sebagai lap. Langkah tegas melewatkan mayat dibawahnya, jejak alas kaki yang berdarah dan berdiri tepat di samping Ricard, "aku tidak menyentuh mayat itu!" Tersenyum bangga.


      "Kalau begitu aku akan kesulitan menggunakan luminol?" Beberapa panitia datang dan berdiri di depan pintu, semuanya menggunakan kaos tangan karet berwarna putih.


      "Kau benar-benar sedang memburu, satu hal kuperingatkan, kau salah memburu!" Satu panitia laki-laki memasang borgol pada tangan Bart, "tuan terlalu banyak bicara, silahkan ikut kami ke kantor polisi dan selesaikan di sana!" Beberapa panitia mendekati mayat, "kita tunggu petugas forensik!" Menatap pada Ricard.


      Setiap jejak meninggalkan bekas yang akan mulai memudar seiring langkah. Selalu ada senyuman dingin di sela pertempuran. Berburu dengan pemburu yang handal.


      Sapu tangan menutup borgol pada tangan Bart, lelaki itu menatap tempat kerumunan di dalam gedung yang mulai terlihat kosong. Suara borgol terlepas, "kau lebih baik menggunakan ini!" Memegang kedua tangan polisi di sebelah kirinya dan borgol berpindah posisi. Polisi itu terlihat kesulitan membuka borgol pada tangannya. Bart memamerkan kunci melingkar pada jari telunjuknya. Kedua polisi di sebelahnya pasrah dan tetap melangkah mengikuti, di luar gedung satu ambulance dan beberapa mobil polisi terparkir gagah. Banyak pasang orang terlihat mulai pergi menjauh dari gedung ketika menyelesaikan pemeriksaan senjata dan luminol scanner pada tubuh.


      Cerel dan Rey di dalam mobil menunggu Lenia dan Eli. Kedua gadis itu menuruni tangga ke arah mereka. Eli melangkah lebih dahulu dari Lenia.


      'Kau di mana?' Jari diletakan pada kata kirim, di layar gawai. Lenia melangkah pelan di belakang Eli, "anak tangga ini terlihat bersemangat!" Sesekali menatap layar.


      Bart memasang kacamata dan layar biru terpampang di depannya, 'jemput suamimu di kantor polisi besok jam 12!' Menghentikan ketikan tangan dengan sunggingan senyum. Polisi di sebelahanya menatap pada tangan lelaki itu, dan terlihat menggeleng.


      Lenia terdiam menatap pada layar gawainya, tatapan diarahkan pada mobil polisi dan mobil Ricard yang masih terparkir di halaman parkir gedung. Berbalik arah dan menaiki tangga, melepas haighel dan sedikit merobek roknya, gadis itu menaiki tangga.


      "Lei kau mau kemana?" Panggilan Eli tidak dihiraukan olehnya. Gadis itu tetap menaiki tangga seolah sedang berburu dengan detik. High heel mengelantung di tangan dan tatapan jatuh pada satu arah, pintu masuk. Dipertengah tangga gadis itu berdiri, langkahnya berhenti di sana, sosok tubuh yang dia kenal berada di ujung tangga. 


      Tatapan lelaki itu lekat pada Lenia dengan senyuman miring yang tersungging. Langkahnya memberi isyarat pada gadis itu. Lenia melangkah pelan dan mulai cepat menaiki tangga. Berdiri tepat di depan Bart, telapak tangan melayang pada pipi dan sebuah pelukan erat setelahnya. Gengaman tangan kiri melemah dan menjatuhkan high heel tetapi tangan kanan Bart sempat menagkap kedua heelnya, sebelum jatuh di atas anak tangga. Dua polisi di belakangnya dan beberapa pasang mata sedang lalu-lalang terlihat kebingungan dengan ekspresi yang tertampak jelas.


      "Kau tahu cerita Cinderella, dia meninggalkan pangeran bersama sepatu kaca, dia hanya sekilas berbalik pada pangeran lalu menghilang bersama kereta kudanya sedangkan gadisku terlihat berbalik arah dan meninggalkan kuda serta membiarkan sepatu kaca pecah demi pukulan dan pelukan!" Tangan kiri membalas pelukan Lenia. Gadis itu menarik diri kembali dan sedikit menjauh dari lelaki di depannya. Bart memegang pipi Lenia dan sedikit mengangkat dagu gadis itu, "suamimu hampir percaya pada kata khawatir?" Terdiam saat menatap mata gadis di depannya berkaca-kaca.