
"Dia rela menghancurkan orang lain demi sebuah tugas, profesional yang menakutkan!" Tiga botol wine kosong, pesanan ke empat datang.
"Sejak kapan kau peduli dengan kata orang, apa kita akan membahas tentangmu?" Jari menyentuh bibir gelas wine di meja.
"Kau tahu tentang kata mungil?" Meletakan botol kosong di meja.
"Kata yang paling kubenci dari makhluk seperti kalian, pedofilkah." Satu botol wine ke lima di letakan pada meja.
"Aku tertarik dengan kalimat yang dia ucapkan, anggap sebagai pilihan pribadi." Menuang wine ke dalam gelas Emon hingga menyentuh bibir gelas.
"Bukan hal yang anggun!" Emon mengerutkan dahi.
"Makan malam denganku besok, undangan resmi." Menyeruput wine.
"Aku memiliki acara yang sama," Rey berpikir, "ada hubungan apa kau dengannya?"
Emon tersenyum, "kau kira aku menyukaimu, tentu saja pilihanku berbeda."
Rey memeluk Emon, "aku lelah." Tertidur di bahu lelaki cantik itu.
Gadis bartender memerhatikan mereka berdua, "aku suka bercinta dengan gadis sepertimu dari pada dengannya." Kalimat Emon membuat gadis itu tersenyum.
"Sayangnya aku hanya bekerja bukan di jual, tuan." Sambil merapikan botol wine kosong.
"Penjualan tidak berlaku ketika dua orang saling berpikir pada arah yang sedikit nakal!" Emon mengedipkan mata.
Pribadi, keinginan dan ***** di tubuh dan pikiran yang sama. Sulit mengendalikan sebuah keserakahan daging ketika pikiran meminta. Bukan melawan tetapi menerima maka kau bebas. Menerima dalam arti yang berbeda. Pilih dengan hati-hati agar tidak menyakitkan bagi diri sendiri dan orang lain. Kebiasaan membuat kau merasa benar dengan apa yang kau pikirkan dan lakukan. Kau masih bocah dan belum bertumbuh dewasa untuk tahu nasihat.
'Rey dan Cerel ikut denganku, kami menuju ke sana, dan jangan telat.' Pesan di gawai lima belas menit yang lalu. Lenia fokus, menata rambut ikalnya yang terikat di samping pundak. Bunyi mobil di depan pagar, dress orange batik berkibar saat melewatkan mulut pintu. Kaki berhias open toe shoes masuk ke dalam mobil. Empat tubuh dengan warna yang sama dan motif berbeda.
Lilin terlihat berpenampilan mawar dengan dasar emas yang menggiurkan. Sajian makanan dari berbagai pulau di Indonesia. Tuak sebagai pelangkap. Rey mengenakan jas batik lengkap, Cerel, Lenia dan Eli menggunakan dress batik dengan style berbeda. Mereka berada di kursi berjajar, sedangkan di balik meja depan tampak Muler dan sepupu Bart mengenakan jas batik berwarna hijau dan Emon mengenakan long dress hijau.
Tuak tersedia di depan masing-masing kecuali Cerel dan Muler dengan juice anggur.
"Apa kita sedang ada yang melawar dan di lamar?" Men're membuka kata.
"Singgungan singkat, aku mengajaknya menikah!" Emon menatap Eli yang tersenyum padanya, "dan di terima begitu saja." Menyandarkan pipi pada telapak tangan berkaus hitam transparan dengan siku sebagai ujung tiang.
"Aku jadi ingin melamar seseorang!" Muler tersenyum miring pada Lenia. Gadis itu menatap sekeliling, "aku sedikit kedinginan!" Satu tegukan tuak dan berakhir terbatuk. Cerel dengan cepat mengelus punggung Lenia.
"Aku tidak akan melakukannya sekarang, terlalu kecil untuk itu." Memegang sendok dan garpu, bersiap untuk makan.
Emon menatap datar pada Rey dan tersenyum pada Cerel, "dia memang cantik?"
Men're memerhatikan tingkah di sekelilingnya, "aku tidak perlu menikah karena yang kuperlukan tempat tidur, apa kita bisa makan?" Kalimat dengan arti berbeda.
Emon berdiri, "acara makan malam, kita buka dengan baik, perjamuan kita membuat saling mengenal, dan silahkan dinikmati." Lenia, Cerel dan Eli tampak melipat tangan dan menutup mata sedangkan empat lelaki di sekitar mereka ikut melipat tangan tetapi dengan pandangan mata mengarah pada tujuan pandang. Saat ini pikiran ke arah yang tepat.
Eli duduk di atas meja rias Astinanya, bersama malam yang sangat cerah. Gadis itu terlihat pasrah melihat alis mata di pantulan kaca. Selalu tidak sesuai dengan keinginan. Sedikit sia-sia jika tampilan makan malam yang telah tersapu kuas tak terselesaikan hingga titik sempurna.
Beranda kamar terbuka, angin menyapu arah pandang Eli. Gadis itu tergoda untuk menatap ke arah pintu beranda kamarnya. Posisi duduk kini mengikuti tujuan mata.
"Aku lupa menutup pintu!" Mengerutkan dahi dan berjalan sekadar menutup pintu beranda. Ketika gadis itu berbalik arah, sosok tubuh tampa alas kaki, mengenakan kimono maroon yang menampilkan sedikit otot kecil pada celah dada, rambut panjang di biarkan terikat kasar dan terjatuh di punggung. Wajah cantik dan tampan beradu pada pesona, Emon memegang gelas wine di tangan yang di silang. Lelaki cantik itu sedikit menyandarkan tubuh di ujung meja rias.
"Aku ingin mengajarkan sesuatu padamu, jadi kemarilah sayang!" Emon meletakan tuak di meja dengan anggun.
"Kalau begitu mari kita liat sayang!" Nada suara di biarkan berat. Langkah gadis itu menuju Emon, dan berhenti tepat di depan lelaki cantik itu. Tubuh mereka saling menyentuh, bahkan membiarkan napas berada di wajah masing-masing. Gaya mengintimidasi yang lemah-lembut. Eli duduk di stool dan menatap pentulan punggung Emon di cermin.
"Aku bahkan tidak menyadari kau kemari, sayang!" Emon tersenyum mendengar pernyataan Eli. Lelaki cantik itu diam dan mengambil pensil alis dari meja. Menopang tubuh di ujung meja rias, tapi tangan menari lembut pada alis gadis di depannya.
Eli menelan air liurnya kasar, "aku akan mengingat hal itu sebagai ujian pertamaku!" Mempertahankan nada bicaranya yang berat dengan tetap tersenyum.
Emon menarik perlahan dagu Eli hingga mata bertatap lekat, "hasilnya kelihatan pasti sayang." Tersenyum pada Eli.
"Karena sepertinya aku sedang terburu-buru untuk makan malam kita maka aku tidak akan mempertanyakan hal yang belum cukup waktu untuk di bicarakan. Tetapi, terima kasih untuk alisnya." Eli tersenyum, dan berdiri. "Aku tidak tahu bagaimana kau melakukannya, tetapi aku akan tetap menunggumu di meja makan." Mencium pipi Emon, "sayang." Setengah berbisik.
Tuak menyentuh bibir dan tenggorokan serta disandingkan dengan juice anggur pada meja. Sendok, garpu dan piring beradu.
Malam larut oleh tingkah yang berbeda. Pikiran tenang telah terusik. Badai mulai melanda. Tetapi waktu kembali ke posisinya.
Mobil klasik maroon menembus jalan kasar, "katakan sesuatu?" Men're bertanya, posisi saling berhadapan di kursi belakang. Membiarkan seorang gadis manis menjadi sopir mereka, tapi fokus gadis itu tak terusik.
"Siapa yang akan membuka suara?" Muler tersenyum miring.
"Aku ingin sekali-kali menikah, hal itu menyenangkan!" Memerhatikan cincin putih di jarinya.
Pesta penuh tarian, hingga acara besar untuk penata busana, penata rias, artis dan aktor untuk berkumpul. Emon mengulurkan tangan pada Eli. Lelaki cantik itu mengenakan long dress biru, rambut tersanggul dengan topi biru kecil di puncak kepala, kaos tangan transparan bermotif biru putih menjadi hiasan jari, pump kayu cokelat mengantung di kaki. Eli menerima uluran tangan itu, keduanya menuju ke tengah lantai tari. Eli mengenakan celana kain dengan denim menopang sobekan pada paha kirinya, kemeja putih anti fit-style di masukan ke celana depan dan dibiarkan memanjang di bagian belakang tubuh. Denim dibiarkan menari pada tangan kanan dan di sisi lain tubuh, kain berwarna merah, hitam dan putih menjadi penopang kancing tengah tubuh. Kaki beralas brogue cokelat dan rambut terikat jatuh di bahu, wajah cantik tampak tampan kali ini.
Tarian yang mengikuti irama musik dari kecapi, "tanpa berucap kau sepertinya paham apa yang akan kuucapkan, Eli!"
"Ikuti saja arah kakiku." Tarian semakin mengayun lembut dan kasar.
"Karena kau sangat memesona hari ini, bagaimana jika menikah denganku?" Emon mengeratkan pelukannya.
"Apa tawaran ini berlaku sekali seumur hidup?" Senyum sexy Eli sangat memesona.
"Sekali seumur hidup, dengan orang yang sama, masa berlaku kalimat yang kuucap hingga ke peristirahatan terakhir, jika kau tidak menerimaku sekarang!" Mengedipkan mata.
"Tanggal berapapun aku akan menunggu, jemputan ke tempat berbulan madu." Eli berniat menjauh dari lelaki cantik itu tetapi tangan mereka masih saling terikat. Di jari Eli melekat cincin berlian berbentuk kerang terukir. Emon memperlihatkan cincin berlian polos di antara jari jempol dan jari tunjuknya, "kau harus memasangkan untukku, setelahnya aku bisa melepaskanmu!"
Eli tersenyum, dan memasangkan cincin pada jari tengah Emon. Ciuman terlontar di tengah tarian yang hangat.
Senyum miring yang cantik, sambil membuka jendela mobil klasik. Sepupu Bart menikmati botol wine di tangannya. Dua kehidupan di depannya punya pikiran berbeda dan tenggelam di sana.
Matahari subuh memupuk perjalanan waktu. Rey terbaring di bench, pada tengah tubuh tertempel jas batik orange, tubuh masih berselimut kemeja putih dengan dasi longgar dan celana kain terpasang rapi. Penampilan tadi malam tampak terlihat. Cocktail table berhias sembilan botol wine kosong tanpa gelas. Menutup mata dengan lengannya.
Mobil klasih terparkir bersebelahan. Muler, Rey dan Men're bersandar di mobil masing-masing, posisi tubuh saling menatap.
"Apa kita sedang di gunung salju, kalian pasti paham bahwa ini Indonesia." Men're membuka kata.
"Kau kira Indonesia tidak memiliki gunung salju!" Rey mengerutkan dahi, posisi tangan disilang pada dada dan kaki kiri sedikit menekuk.
"Tapi bukan di Borneo!" Beberapa gadis melewatkan mereka dengan senyum dan kesempatan baik untuk Men're menampilkan pesona. Kakinya tertarik mengikuti tiga gadis yang lewat.
"Kau ingin bicara?" Muler membaringkan kepala pada dua tangan yang di silang di atas kaca mobil, "aku tidak memiliki waktu!"
"Kau selalu yakin untuk melakukan tugas, dia tidak akan melepaskanmu dengan mudah?" Menatap Muler lekat. Anak itu tetap di posisinya.
"Aku tidak akan rugi, bekerja sama dengannya?" Tersenyum miring menatap lautan cahaya malam yang tergantung.
"Jika kau memilih keputusan dan hal itu kau sesalkan lebih baik berhati-hati. Seberapa profesional kau hingga berani meletakan bom waktu pada kaki." Rey memberi ingat.
Cerel, Eli, Emon dan Lenia keluar dari restauran. Senyum dan sedikit tawa dari keempatnya. Langkah menuju ke arah parkir.
Muler tersenyum, "sebenarnya, tugasku benar-benar tidak membosankan!" Tertawa di dalam mobil. Men're dan Emon terbangun di sampingnya. Wajah mereka menunjukan keterkejutan.