
Bagaimana mungkin kebohongan menyelamatkanmu. Karena dosa besar termaterai di sana. Semua orang gemetar karena kata jujur. Bagaimana mungkin demikian?
Kebohongan hanya mampu menutupi keburukan. Satu ukiran dari kata bohong maka akhir sejarah akan terkuak. Kejujuran itu sempurna dan kebohongan pasti terungkap.
Di tengah kota modern. Lenia masih berada di pelukan tangan Bart. Beberapa pasang makhluk yang melewati memberi hormat, bahkan yang menggunakan mobil dan motor serta kereta kuda yang megah sekalipun tetap menunduk.
Alat transpormasi darat dan air yang mampu terbang. Lenia terkagum, gedung- gedung tinggi berdiri kokoh bahkan ada gedung di atas tanah yang terbang.
Pintu restauran mewah berwarna merah terbuka otomatis untuk mereka berdua. Seorang lelaki tua dan seorang perempuan muda yang sexy tersenyum manis sambil membungkuk hormat menyambut kedatangan Bart dan Lenia. Lenia memberi senyuman ramah, "Bart turunkan aku!" Sedikit memukul pundak lelaki itu.
Bart menurunkan Lenia tepat di depan meja putih. Dekorasi meja rapi, sendok dan garpu, tisue, dan pot bunga tersedia berserta air putih pada gelas. Lelaki tua membawa nampan berisi dua mangkok mie ayam.
"Silahkan di nikmati!" Tersenyum ramah.
"Terima kasih." tersenyum.
"Apa aku boleh memakannya?" Bart menatap Lenia sambil tersenyum.
"Itu daging manusia!" Tersenyum bangga.
"Ini daging ayam nona, tidak ada daging manusia dan mie juga terbuat dari tepung beras bahkan bumbu dan kuah sesuai resep manusia." lelaki tua itu menjelaskan.
"Bart?" Suara memohon.
"Saat kau lapar kau tidak mempercayaiku!" Lelaki yang di tanya memasukan satu sendok mie ayam pada mulutnya.
Mata Lenia berkaca-kaca, "aku tidak akan mengajakmu kemari jika kau tidak bisa memakannya. Lelaki di sebelahmu ini manusia. Hapus air mata, makan!" Lenia menghapus dengan telapak tangan sambil menatap lelaki tua di sebelahnya yang tersenyum.
"Istri pilihan tuan memang berbeda, saya permisi." Membungkuk lalu pergi.
Lenia berdo'a dan mulai dengan satu sendok.
"Enak." Memasukan sendok kedua ke mulut, "kenapa tidak ada orang lain yang makan?"
"Istiku tidak minum, satu gelas saja." Lelaki tua itu meletakan satu gelas di nampan dan berniat menuang tuak pada Bart.
"Paman, biar aku saja yang menuangkan untuknya. Maafkan dia, dia sedikit manja dan tidak sopan." Lenia mengambil pelan botol dari tangan lelaki tua itu.
"Saya bertugas menuangkannya, nona!" Tersenyum.
"Bagi saya itu tidak sopan, lagipula paman dengan Bart terlihat akrab." Meletakan botol kembali di meja.
"Apa terlihat seperti itu?" Menambah senyuman pada wajah keriputnya.
"Nona yang di sana itu anak tuan, dia cantik sekali." Lenia tersenyum pada perempun yang duduk di balik meja melingkar di pojok.
"Dia istriku." Lenia terdiam.
"Maaf paman aku tidak tahu." Kedua telapak tangan menyatu di depan dada sebagai permohonan maaf.
"Dia memang aslinya seperti ini, lanjutkan saja kerjamu!" Bart telah menghabiskan mie ayamnya. Meletakan sedok dan garpu di magkok.
"Tolong jangan aneh okay." Lenia menatap Bart.
"Tidak apa-apa, lanjutkan makannya silahkan nona dan tuan. Kalian berdua pasangan yang cocok. Panggil saja saya Marko dan istri saya Neli Marko." Tersenyum, "saya permisi!" Membungkuk.
"Terima kasih layananya!" Melanjutkan makan, "Kau kenapa tidak ada sopan mu pada orang tua?" Menatap Bart dengan kening berkerut.
"Usiaku dan usianya berbeda!" Meninum tuak, "isikan untukku!"
Lenia menuang tuak lagi, "berapa usia mu kalau begitu, jangan-jangan selama ini aku menikah dengan kakek umur ribuan tahun?" Meletakan botol.
"Perubahan membutuhkan waktu yang lama, tapi istriku terlihat menikmati layanan dari suami tuamu ini!" Tersenyum miring sambil meminum tuak.
"Jelas-jelas aku yang melayanni bukan kamu!" Lenia melanjutkan makan tanpa komentar. Tanpa menatap Bart, fokus untuk menghabiskan mie ayamnya. Lelaki di depannya hanya memperhatikan. Meletakan pelan gelas tuak di meja.