
Pintu terbuka otomatis dengan keycard, penjara tertutup sempurna dengan manusia berada di sana. Kemeja putih dan celana kain tanpa lipit serta brogue sebagai alas, terpampang sangat rapi. Langkah itu berhenti di salah satu penjara.
"Kau ingin aku menggagalkan rencanamu? Pertanyaan terlontar begitu saja di depan jeruji besi sebagai pemisah. Jean tersenyum sambil duduk di tempat tidurnya, kedua kaki menekuk, dan tangan dibiarkan di atas lutut.
"Catatan di meja, pembicaraan di rumah sakit, mobil klasik di CCTV, seseorang yang meretas gawai di penjualan kopi otomatis padahal kau tidak suka kopi sama sekali." Kata berlanjut, "Bahkan jika kau ingin membunuh maka tidak perlu mencuri, siapa yang ingin kau kuliti?
"Aku penjahat yang bodoh." Mentertawakan diri sendiri, "mereka dua pihak yang membuatku merasa jiji dengan diriku sendiri karena tidak bisa menyelamatkan adikku dari bunuh diri." Pernyataan yang dapat di percaya dari seorang tahanan.
"Menyalahkan orang lain adalah hal tak patut di puji." Lagi-lagi Ricard membuat Jean tersenyum sekaligus tertawa. "Mengundurkan diri, kau benar-benar memperhitungkan waktu untuk merasakan jeruji besi." Menarik napas lesu.
"Apa akan tetap menjadi rahasia kepolisian kematiannya?" Menatap Ricard.
"Kau bersyukur karena hanya menjalanni hukuman atas berita palsu dan penculikan dengan sedikit bumbu seksualitas." Tangan memegang gawainya.
"Aku justruh merasa aman di dalam penjara daripada di luar, karena gagal berarti mati. Lelaki itu menyelamatkanku sementara, aku harus berterima kasih dengan benar setelah keluar." Jean menampilkan senyumnya lagi pada Ricard.
"Mereka akan membangun tugu peringatan kematian Bart dan memakan tempat berhektar-hektar. Kita akan ke sana, kutunggu di luar jeruji." Ricard berbalik arah, "aku sedikit sedih karena kau selalu mengawasi pertemuanku dengan Bart." Pergi dengan sedikit labaian tangan.
Jean tersenyum dingin.
'Alat untuk mengeluarkan musuh dari permainan anak kecil adalah dengan menjadi teman dan musuh secara bersamaan. Politik adu domba sangat cukup kupermainkan.'
Angin memakan tubuh, tubuh tua menuruni tangga rumah sakit. dr. Gres memerhatikan dari jendela gedungnya. Laki-laki dan perempuan setengah baya beserta anaknya terlihat keluar dari mobil dan menjemput wanita tua itu. Senyum dari mereka terlihat jelas tergambar dalam kenangan.
Rey memeluk gadis kecil dengan dress hijau dan pada kaki melekat kaos kaki hijau bersama espadrille putih tampak mungil. Wajah tuanya tetap sangat tampan. "Cel, Dior ke mana?" tubuh berbalut kemeja putih dan celana kain tanpa lipit beserta sepatu watchout pada hiasan kaki.
Seseorang yang dipanggilnya sedang menata kotak berukuran cukup besar, dan berisi macam-macam makananan, "anakmu itu memilih berburu dari pada mengurus cucuku!" Kerutan tua terlihat jelas pada wajahnya, "lebih baik cepat takut kita akan terlambat, kakak Leilei akan marah besar!" Tubuh tua mengenakan kaos hijau yang sedikit ketat dan celana hitam anti fit-style berjalan dengan kitten heels, langkah menuju ke arah mobil. Rey mengikuti dari arah belakang, "Cerel, tolong bukakan pintu untukku!" Wanita tua di depan Rey terlihat mengerutkan dahi dan hal itu membuat kerutannya kalah. Rey tertawa bersama cucunya.
Tubuh dan wajah tua Emon dan Eli tampak menata tempat di atas rumput. Pemandangan labirin pohon buah, bunga dan patung menjadi objek penyegar mata. Kemeja anti fit-style putih dan jeans melekat pada Emon sedangakn Eli mengenakan kemeja putih anti-fit style dan rok denim semata kaki, alas kaki kitten heels di letakan pada luar parmadani. Lelaki setengah baya dengan kaos putih dan celana kain tanpa lipit melangkah dengan kaki berlapis brogie bersama satu anak laki-laki dengan pakaian yang sama berada dalam pelukan, lelaki itu telihat berdiri di luar parmadani, "mah, di mana yang lain?" Pertanyaan dengan jawaban berupa bukti mata. Rey dan Cerel bersama cucunya dari arah parkir melangkah ke arah mereka. Sedangkan dari arah samping mereka tampak suami-istri melangkah dengan berpegangan tangan. Suaminya terlihat mengenakan batik dan celana kain hitam berlapis pentofel pada kaki sedangkan istrinya mengenak batik ketat selutut dan heels di kaki. Senyum mengambang bersama lambaian tangan.
Suara manusia terdengar samar, pohon buah menjadi penghalang dari sinar alam. Tatapan selalu dimanjakan.
Cerel membuka kotak dan mengeluarkan makanan. Mereka bergantain menyusun makanan pada parmadani biru di atas rumput.
"Dona, panggil nenekmu kemari!" Gadis cantik dengan rambut ikal yang baru datang itu mengangguk. Setengah berlari dengan dress putih berbumbu bulatan kuning sebagai motif. Topi bundar kuning pada kepala, dan spatdrille di kaki.
"Kau tidak akan menjadi feminim walaupun seperri itu!" Cerel mengeraskan suaranya, Dona membalikan tubuh dan berlari terbalik.
"Aku sangat perempuan nenek dua!" Panggilan untuk Cerel. Wajah tua itu menampilkan senyum dan gelengan kepala.
"Dia sama seperti Lenia dulu!" Rey berucap. Mereka tersenyum pada tubuh gadis yang hilang di balik pohon anggur.
Angin membawa ingatan pada masa yang sempat singgah. Wajah tua terlihat letih di bawah rindangnya pohon apel. Tak tampak buah yang jatuh di sekitarnya. Tapi hal yang menjadi pembeda di taman buah itu adalah mawar biru yang tumbuh mengelilingi hanya di satu pohon apel saja. Tak tampak duri yang menyentuh tubuh tua itu. Bunga perlahan mekar, sekilas cahaya seolah tangan dan tubuh menggantikan bunga untuk memeluknya. Tangan tua Lenia tampak memegang catatan bersama bolpoin di sana.
Pagar mengelilingi setiap buah di taman, bunga sebagai hiasannya. Banyak tubuh manusia bersama keluarga berada di sana hanya sekadar bersantai dari kehidupan berpeluh.
'Harus kukatakan apa yang kulakukan saat ini, bukan atas dasar membencinya. Berdiri dengan takdir masing-masing adalah keputusan yang kita pilih.'
Mata Lenia tua terbuka perlahan, di sambut dengan wajah cucunya yang sedang bersilah dengan apel di mulut.
"Mereka sudah menunggu." Lenia tua memegang pohon sebagai pertahanan tubuh. Dona tersenyum saat tangan tua itu terulur, gadis itu berdiri dan memegang lengan neneknya. Satu apel terjatuh tepat di antara mawar biru yang mengelilingi pohon, Dona berbalik dan mengambil apel dari sana, "nenek bilang saat apel jatuh dari pohon rasanya jauh lebih manis!" Memberikan pada neneknya yang sudah berada di luar pagar pohon.
'Adam dan Hawa, pikiranku bertanya, kau bukan anak dari mereka, tapi kenapa?'
Lenia tersenyum dan mengambil apel dari cucunya.
"Memang sangat manis!" Keduanya tertawa dan membawa kaki melangkah.
'Banyak kehidupan yang berulang. Pasangan yang sesuai dengan manusia yang berhak memilih alurnya!'
Cahaya orange memberi peringatan akan sore hari. Cahaya menembus setiap mata yang menatap. 'Seolah dia ada bersama kita.'
Rey memeluk Cerel sedangkan Eli dan Emon bermain dengan cucu dari dua keluarga. Perlahan tapi pasti wajah dan tubuh tua kembali menjadi muda, tak tampak kerutan pada mereka. Lenia bersandar pada pundak Dona, gadis itu menepuk pelan punggung neneknya.
'Wajah tua tak bisa tergantikan bagi manusia.' Lenia tersenyum dan menutu mata.
'Sekarang saatnya untuk ucapkan selamat tinggal, hiduplah untuk hari esok. Tak ada hal yang sia-sia saat kau dilahirkan, menjadi bayi kecil mungil, dan sekarang menjadi dewasa adalah sebuah nasihat. Dialog yang kubuat sudah kuakhiri, tak akan percuma sebuah perjuangan karena sekarangpun mampu tersenyum dalam ingatan masa muda. Aku memiliki kisahku sendiri dan kuharap kau menulis kisah milikmu dengan pilihan yang disesuaikan.' Tangan Lenia tua menutup catatan di bukunya.
'Hingga 100 tahunku berakhir, sumpah yang telah kukatakan tak akan terkikis aliran waktu.' Membuka mata dan tersenyum.
'Tugu Peringatan Keluarga Klar.' Tertulis pada jalan masuk taman. Malam menyatu, pagar besi putih setinggi dada yang mengelilingi taman tampak memanjangkan tubuh hingga berbentuk sarang burung, saling menyatu, pada ujung jauh terlihat bulatan terbuka seukuran bulan di langit, dari jeruji besi putih menampilkan banyak cahaya biru kecil saat malam pada puncak akan semakin terang. Hal yang sama di tampilkan oleh cahaya biru dari jeruji besi kecil pelindung pohon. Lampu kuning di seluruh taman menyala bersama air mancur bulat setinggi gedung dua lantai dengan patung juwe yang gagah.
Sebuah air mata menetes pada lembar novel.
"Untuk apa kau menangis sambil tersenyum?" Pertanyaan dari gadis berpakaian SMA.
"Karena novelnya berakhir bahagia!" Jawaban singkat dari gadis di depannya.
"Aku hanya merasa itu akhir yang menyedihkan." Membuka novel di tangannya.
"Tergantung kau memilih pesan terakhirnya!" Menutup buku dengan senyuman.