Come Here Datu

Come Here Datu
Come Here Datu: Dia adalah Suamiku



      Lenia berdiri di depan jalan raya. Tepat di belakangnya Gedung Rarawen. Memegang gawainya, gadis itu terlihat menunggu.


Mobil antik berwarna merah mendekat dan berhenti tepat didepannya, "taxi!" Lenia terdiam karena harapan tidak sesuai kenyataan.


      Bardt membuka kaca mobil, "masuk!" Pintu terbuka otomatis. Gadis itu terlihat sinis, "mau aku mengangkatmu dari situ!" Lenia berjalan menjauh. Bardt tetap diam di dalam mobil. Beberapa langkah, gadis itu menghentakan kaki lalu kembali dan masuk ke mobil. Wajahnya terlihat marah.


      "Marah dengan siapa?" Menjalankan mobil.


      "Mungkin, seseorang pintar yang meninggalkan bekas setelah menggunakannya. Bukankah seperti itu tidak sopan!" Suara keras.


      "Siapa orangnya?" Fokus pada jalan.


      "Bajingan gila!" Mengerutkan dahi menatap Bardt.


      "Aku bukan orang." Berbelok kasar.


...      "Kamu sengaja?" Memasang seatbelt. ...


      "Aku mengingatkan gadis pintar, soal tata cara memasang sabuk pengaman." Menatap sekilas pada Lenia.


      "Berengsek ini, benar-benar membuat hati dan mulut ku berdosa!" Mengerutkan dahi.


      "Dia membawa seorang gadis!" Cleaning service membuang kantong sampah. Di telingannya terdapat handset kecil.


      "Bagaimana kerjaannya?" Seorang lelaki menepuk pundak sambil tersenyum dan ditangan sebelahnya terdapat kantong sampah, "menghasilkan?" Membuang kantong sampah.


      "Tidak begitu buruk!" Tersenyum.


      "Enaknya, menjadi orang kaya saat mereka menikah!" Mereka berdua menaiki tangga dan masuk ke gedung.


       'Lao, pastikan aman!' Suara berat dari laki-laki di handsetnya.


      Mobil merah berhenti di parkir penginapan. Lenia membuka seatbelt berniat membuka pintu mobil.


...      "Lei, bisa membantuku?" Gadis itu menatap datar, "bukakan seatbeltku!"...


       Tatapan Lenia begitu sinis, "kalau begitu hidup saja dan bernafas dengan tenang di situ!" Membuka lebar pintu mobil dengan sangat kasar.


      "Lei, fotomu terlihat," berpikir, memerhatikan foto di layar.


      Turun dari mobil, "bajingan gila itu!" Meraba tas, "gawaiku!" Masuk ke dalam mobil. Ekspresi marah yang jelas terlihat. Membuka


seatbelt Bart, "sudah, gawai!" Mengulurkan telapak tangan.


      Meletakan di telapak tangan Lenia, "Lei!" Mendengar panggilan, gadis itu menatap. Jilatan pada bibir Lenia lembut. Lenia menarik paksa gawainya dan menggigit lengan Bardt, "gigiku!" Memegang gigi depannya. Keluar dari mobil. Bart hanya tersenyum.


      "Bajingan gila itu, otot terbalut kain. Benar-benar kehilangan gigi dan bibir. Apalagi yang hilang setelah ini!" Teriakan kecil terselip.


      Bart mengunci pintu mobil hanya dengan scanner telapak tangan. Bersandar pada mobilnya sambil bersilang tangan. Menatap Lenia,  gadis itu memaki sepanjang jalan menuju gerbang penginapan. Bart berjalan pelan melewati sebuah mobil hitam, "kemari rupanya?" Tersenyum miring.


       "Nona, anda yang bernama Lenia?" Resepsionis tersenyum ramah. Tubuhnya dibalut dress batik Dayak. 


       Lenia berhenti masih dengan ekspresi sinis. Gadis resepsionis terlihat ragu dan takut. Lenia seketika merubah ekspresi wajahnya, "maaf, iya saya orangnya."


       "Nona, ada tamu untuk nona. Tuan tersebut sedang menunggu di ruang tamu penginapan." Tersenyum. Lenia terlihat menatap kiri dan kanan, "bisa lihat ulang, mungkin kesalahan pada nama!"


      Lenia menghembuskan nafas pasrah. Mengikuti bellgirl dengan lesu. Bart menatap Lenia dari pintu masuk penginapan.


      Seorang lelaki duduk di kursi rotan, posisinya membelakangi pintu masuk. Tepat di depannya sebuah meja rotan berbentuk bulat. Suasana ruang terbuka dengan pemandangan taman. Tubuh itu terbalut kaus kuning dan chino hitam serta slip on casual shoes putih.


      Bellgirl tersenyum lalu pergi. Lenia menuju kursi rotan.


      "Silahkan duduk!" Lelaki tampan yang terlihat ramah dengan senyuman. Tangan mempersilahkan duduk.


      "Terima kasih!" Lenia duduk di seberang lelaki itu, "tapi kira-kira ada apa, kalau saya tidak mengganggu waktu bicara anda?"


      "Benar-benar langsung pada inti. Aku bahkan kesulitan mencari intro." Menyodorkan beberapa foto pada Lenia.


      Gadis itu melihat secara bergantian, foto demi foto. Terlihat tanggal dan waktu tercantum pada foto, "dari CCTV?" Semua menunjukan foto laki-laki dari setiap sudut, pakaian dan tanggal berbeda akan tetapi lelaki yang sama. Tangan Lenia berhenti pada sebuah foto, "Bardt!" Suara pelan. Menatap lelaki di depannya.


      "Kau bahkan tahu namanya. Pasangan yang rumit. Sebelum lanjut, nama ku Richad Ice. Tidak perlu berkomentar tentang nama. Topik pembahasan kita, dia berada di waktu berbeda pada saat kejadian yang berulang." Tersenyum ramah.


      "Hubungannya?" Lenia tersenyum.


      Ricard serius, "setiap saat kejadian pembunuhan kepada seorang perempuan, dia berada di lokasi yang berdekatan. Setiap saat." Memberi penekanan pada kata terakhir sebagai isyarat titik masalah. Menatap dingin, meletakan tangan pada foto.


      "Dia tersangka, Bukti?" Membuka telapak tangan tanda meminta.


      Tersenyum ramah, "dia hanya dalam pengawasan kami!"


      "Tanpa bukti jelas anda tidak harus menyudutkan orang lain. Apalagi di depan seorang gadis seperti saya. Hubungannya apa?" Mengerutkan dahi.


      "Kalau dia terbukti tersangkut paut masalah ini gadis seperti anda akan bagaimana?"


      "Jawabannya, saya dijadikan tersangka pembantu tindak kejahatan atau sebagai calon korban yang dilindungi?" Meletakan tangan di foto.


      "Kami hanya ingin melindungi orang yang baru dia kenal malam ini, jika itu yang terjadi!" Bersandar di punggung kursi dan menyilang kaki.


       Berdiri pelan, "saya mengenal Bart jadi anda tidak perlu khwatir. Tetapi khwatirkan pada anda yang menguntit saya. Karena fakta kelam tidak terukir begitu saja tuan. Lagipula kematian para korban sudah di konfirmasi, bukannya pelaku sudah tertangkap!" Menatap tajam.


      "Seorang saksi mengatakan jika mereka melihat dia di TKP saat kejadian. Semua terjadi memang karena kecelakaan, pembunuhan dan bunuh diri. Korban dan pelaku sudah dikonfirmasi. Tapi ada yang lebih menakutkan dari pada fakta tersebut!" Menatap Lenia intens.


       "Lebih menakutkan?" Pertanyaan yang terulang sebagai penegas.


       "Menakutkan, rahasia kepolisian." Tersenyum, "kami kepolisian Barito Timur bekerja sama dengan kantor polisi Palangka Raya untuk konfirmasi lebih jauh. Saya harus melindungi sebelum menambah masalah. Bagaimana tawarannya?"


      "Aku pasti menolak." Suara terdengar berbisik.


      "Selalu ada alasan, bukan begitu. Apa karena orang berbahaya akan terlihat begitu memesona." Menatap Lenia sambil tersenyum. Rambut hitam ikal gadis itu tersapu oleh angin. Pohon dan bunga di taman jelas menari dengan ketukan lambat.


      Mendorong ujung kursi hingga posisi masuk ke bawah meja, mengantongi sebuah keputusan dari tindakan. "Anda mudah sekali menaruh senyum dan senyum itu tampak ramah tuan tapi, banyak tipuan dengan itu sebagai senjata. Apalagi untuk kisah orang lain. Aku bahkan tidak tahu kapan anda benar-benar jujur. Dan satu hal, bagaimana mungkin aku dilindungi dari suamiku sendiri!" Lenia tersenyum lembut.


      Ricard menatap gadis itu kaku.


      "Permisi." Berjalan pergi meninggalkan Ricard dengan beban pikiran.


'*aku mengatakan dai suamiku tetapi nyatanya aku mengkhiatanninya waktu itu, cepat atau lambat aku harus memberitahukannya*!'