
Pintu depan cafe terbuka, Rey membawa air untuk menyiram bunga. 'Klang, duk.' tanpa menoleh kaleng soda tepat berada di telapak tangan kananya, "Lei, bunga bukan tempat sampah!" lanjut menyiram bunga. Lenia mengeratkan gigi, "pintar." menarik rambut Rey. Lelaki itu terlihat menahan tubuhnya agar berdiri stabil dengan wajah yang datar.
Memegang tangan Lenia, "ada bunga yang mengganggu?" Menatap Lenia. Gadis itu melepas kasar tangannya, "kalau tahu bocah itu mesum dan kamu masih menyuruhku ke sana, kau berkeinginan menjual ku?" Menghentakkan kaki.
"Ada lebah!" Menatap lebah di sekitar Lenia. Gadis itu terlihat lebih marah.
"Kau mendengarkan ku, sekarang aku semakin marah!" berjalan membungkuk tampak lesu, pergi melewati Rey.
"Bagaimana dengan bungaku?" Wajah datar.
Lenia menarik nafas lalu menoleh kebelakang, "ambil sendiri, dasar tidak peka. Pemahaman mu tingkat absurd!" Wajah dingin. Rey terdiam dengan wajah bingung.
Lenia berjalan menjauh, "dua bajingan yang kutemukan untuk hari ini." Berbisik.
Hal-hal yang perlu kau tahu, bahwa manusia kadang mengarahkan pikiran pada satu sisi. Membuat dan mencari alasan untuk diri sendiri. Melangkah dengan pemahaman sendiri membuatnya lupa akan kebersamaan. Karena hal itu membuatnya merasa terikat.
"Aku tak suka hal itu!" Lenia berdiri di depan rumah mewah bergaya eropa.
"Permisi, iya masuk saja. Aku sudah di dalam rumah!" Membuat dialog sendiri sambil membuka dan menutup pintu.
"Lei bantu aku!" Lenia menghentikan langkah tepat di depan sofa.
"Padahal aku berniat istirahat, nakku!" Melangkah lesu menuju manekin di depan Eli.
"Masalahnya?" Sibuk dengan maxi dress Dayak, gaun itu terbuat dari kain dan akar pohon asli. Menata rapi di atas mejanya.
"Nakku kau tahu aku di menerima ciuman tadi!" Serius.
"Ukuran sudah pas?" Merapikan lilitan akar pada gaunnya.
"Nakku kamu mengatakan apa, aku lagi membicarakan rahasia ku sekarang!" Menatap pasrah pada Eli.
"Aku mendengar sayang, tentang rahasia kan?" Mengambil potongan kain dari kotak.
"Sebelum kata rahasia?" Berdiri di depan Eli.
"Mendengar?" Menaikkan kerutan dahi.
Menghentak kasar tangan pada meja, "aku akan membantu menghancurkan meja ini!" Menarik nafas panjang.
"Bawakan dress itu kemari!" Berdiri di depan manekin.
"Benar-benar musuh bukan teman?" Menatap sinis, "aku datang." mengambil pelan dress lalu membantu Eli memasangkan pada menekin.
"Lei ambilkan kain di dalam kotak sekaligus mutiaranya!" Fokus menata dress.
Berguman sebagai jawaban singkat, menuju kotak dan kain lalu memberikan pada Eli. Membuka mutiara yang berbentuk kerang dan tanpa sengaja salah satu mutiara terjatuh.
Lenia mengambil mutiara dari lantai. Titik balik dari awal diputar di balik pikiran. Pakaian putih-abu-abu tanda masa muda berada. Masa gigi masih sangat gatal.
"Oh jadi kamu pencurinya ya?" Seorang gadis berdiri di depan Lenia.
Mendongak, "kau bicara apa, aku mengambil apa?" Lenia mengerutkan dahi. Beberapa pasang mata dari anak-anak SMAN 1 Paku menatap mereka.
"Kamu mengambil kalung mutiara ku kan, memang Pencuri!" Menatap remeh.
"Kau sepertinya perlu banyak minum obat, aku baru saja memungutnya!" Berusaha menjelaskan.
"Itu pasti jatuh dari tanganmu pada saat kamu ingin menyembunyikannya?" Kata teman lelaki gadis itu ketus.
Lenia menarik nafas, gadis itu membuang kalung mutiara itu ke luar pintu. Menendang gadis di depannya lalu memukul. Beberapa orang teman gadis yang sedang dipukul Lenia, berniat membantu gadis itu. Eli membuka hoodie, melangkahi meja dan dengan setengah berlari mulai memukul lalu menendang teman-teman gadis itu. Kekacauan merajalela di sana.
"Sebenarnya apa yang kalian lakukan!" Kepala sekolah Riyan menarik nafas, suaranya bergetar menahan marah. Melihat wajah mereka penuh dengan warna merah yang mulai keunguan.
"Pak gadis yatim-piatu itu mengambil barangku!" Menunjuk Lenia.
Lenia berniat memukul lagi, "sudah cukup, cara bicara yang tidak sopan!" Riyan menepuk meja kasar, "Lenia, apakah benar yang dikatakan Ambar?"
Lenia diam dan menatap tajam mereka. Eli berada di sebelahnya menatap Lenia.
"Pak kalau kami bilang kami tidak melakukannya, hanya dengan ucap mulut apa bapak percaya kata-kata tanpa adanya bukti?" Menatap sinis pada kepala sekolah.
"Tentu saja, bukti penting!" Kepala sekolah Riyan mengangkat alis.
"Karena itu, dan itulah poin masalahnya, lebih baik kami diam kan pak?" Memasukan tangan di kantong depan hoodie.
"Baik, lalu di mana kalung mutiaranya sekarang?" Menatap mereka yang sedang berbaris di depan mejanya, "setelah ini lepaskan hoodie baru bisa keluar ruangan saya." menatap Eli, Riyan duduk di kursinya pelan.
"Belum ketemu pak, soalnya tadi anak itu melemparnya keluar sudah pasti dia berencana menyembunyikannya!" Gadis bernama Ambar itu menjawab ketus.
Ketokan pada pintu dan pintu pun terbuka, "Pak Riyan, ta" seorang gadis baru masuk ruangan itu, menatap mereka bingung, "Saya dan teman saya menemukan kotak merah di toilet perempuan pak." Meletakan di meja.
"Itu kotak tempat mutiaraku pak!" Mengambil kotak dari meja dan membuka isinya yang memperlihatkan kalung yang sama dengan apa yang dipungut Lenia. Kepala sekolah menatapanya lesu.
"Nama, alamat dan orang tua atau wali serta surat pangilan untuk orang tua atau wali." Riyan mulai menghidupkan laptop.
"Pak jangan pak, saya janji pak saya tidak akan mempermasalahkan yang terjadi tadi pak. Asal jangan ada surat panggilan untuk orang tua pak!" Mereka berlutut. Menatap Eli dan Lenia memberi isyarat agar berlutut. Keduanya tersadar lalu dengan cepat berlutut.
"Untuk apa kalian berlutut, yakin tidak masalah untuk tadi?" Riyan berdiri. Dibalas dengan anggukan cepat.
"Oke, kalau begitu maka bersihkan toilet dan kedua belah pihak saling membuat surat permintaan maaf 10 lembar lalu bawa kemari." Membuka telapak tangan tanda mempersilahkan pergi.
"Pakkkk!"bersamaan.
Namun, keluar dari ruangan kepala sekolah dengan lesu.
"Lalu kalung mutiara yang di pungut nya tadi, kalung mutiara siapa?" Menatap Lenia yang sedang berjalan di belakang Eli.
"Bar, itu kalung mutiara yang jatuh dari tasku, tenang saja itu barang palsu, tapi maaf!" Gadis babak belur yang dipanggilnya Ambar menatap marah.
"Hoodienya di sita satu minggu." Ucap Lenia pelan, "terima kasih sudah membantu." Eli menghentikan langkah di depan Lenia.
"Mau berteman denganku?" Eli berbalik mentap Lenia. Gadis yang di tatap terlihat bingung.
"Dua gadis tanpa kasih sayang, memang sangat cocok!" Lenia dan Eli menatap tajam pada Ambar dan teman-temannya.
"Hebat juga, tadi. Maaf soal tadi!" Berjalan melewati mereka berdua.
Lamunannya kembali pada masa sekarang.
"Kenapa jadi berpikir, masa bodoh pada kelas yang ikut babak-belur?" Lenia memberikan mutiara pada Eli.
Keduanya sibuk dengan dress. Akhirnya sadar ketika rumah sudah memerlukan lampu.