
Jam 17:42 tiba di Penginapan Marin, tertulis di pintu pagar bambu. Memarkirkan mobil di luar arena penginapan dengan sistem pengamanan yang baik, CCTV di berbagai sudut. Keluar dari mobil, Lenia dengan tasnya dan Rey dengan barang belanjaannya.
Lenia mengetuk pada pagar bambu. Sekadar menastiakn isinya.
"Lei, di dalam bambu itu tetdapat besi dan saat lonceng tengah malam, pagar bambu yang kamu ketuk itu akan otomatis menutup." Berjalan masuk, Lenia mengikuti sambil melihat sekitar.
"Pasti keseringan menginap di sini hingga sedetail itu." Pohon yang berbunga di sekitar penginapan mengeluarkan aroma yang segar.
"Aku melakukannya berulang kali." Tersenyum bangga tanda memuji diri sendiri.
"Tidak perlu menjelaskan karena aku tidak butuh cerita mudamu!"
Resepsionis memberi mereka berdua kunci kamar masing-masing. Bellboy menggunakan baju batik motif dayak dan dress pants flat front terlihat berjodoh dengan sepatu pentofel yang dia gunakan. Terdapat Lawung Dayak sebagai dekorasi di kepala. Mengatar Rey dan Lenia menuju kamar mereka.
"Di sini tema pakaian bellboy, berbeda atau tidak setiap minggunya?" Lenia berjalan di belakang Rey. Jarak kamar satu dengan yang lain berjauhan. Penginapan itu tampak mahal dengan lahan terluas. Tetapi, tetap uang Lenia yang dikorbankan.
"Ingin tahu banyak kamu Lei." Rey fokus padalangkahnya.
"Kami mengganti tema pakaian setiap tiga kali seminggu nona." Jawaban bellboy itu memuaskan pertanyaan Lenia. Mereka berjalan di atas marmer cokelat yang sekilas terlihat seperti papan, "kamar nona di sini," menunjuk nomor 19, "dan kamar tuan di sebelah taman bunga ini. Silahkan tuan!" Bellboy mempersilahkan dengan tangannya yang terbuka.
"Aku tidak perlu di antar. Tapi, tolong antarkan pesanan makanku untuk jam 01:00 malam ini!" Tersenyum sambil memainkan kunci kamar pada tanngannya. Kaki itu melangkah menuju kamar nomor 20. Jarak antar kamar mereka berdua Lenia sekitar limabelas meter dengan pohon dan bunga sebagai pemisah.
"Baik tuan." membungkukan sedikit kepala, walau bellboy itu tahu hal itu tidak dipedulikan Rey yang hanya menampakan punggungnya. "Kalau nona, butuh bantuan apa atau pesanan, mungkin?" Tersenyum ramah.
"Aku oke, dan tidak perlu mengantar makan. Terima kasih sudah membantu." Tersenyum.
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu nona." Merapatkan kedua telapak tangan di depan dada lalu pergi.
Lenia membuka pintu dengan kunci otomatis. Menyalakan lampu. Sekilas terlihat seperti lampu tembok, bahkan warna dibuat senyata mungkin, cahayanyapun kekuningan.
Membaringkan tubuh di tempat tidur kingsize, berwarna putih. Dengan bulu-bulu halus sebagai desainnya. Menatap langit-langit dan mulai menutup mata perlahan.
Kartu kunci ruangan di scan ke kotak pada meja dan membuat akses pada panggilan darurat dan pengaturan lampu. Cahaya lampu dibuat temaram, "mandi dan setelahnya tidur." Membuka duffel bag, mengambil kimono dan peralatan mandi. Menata rapi pakaian dan sepatu di lemari lalu berlanjut pada alat make up di atas meja, semua tampak tertata. Mengenakan kimono dan masuk ke kamar mandi. Suara shower dan senandung beriringan.
Pikiran positif seseorang akan membuatnya aman. Bukan berarti pikiran negatif itu bodoh. Melihat sisi yang baik dan buruk adalah pilihan masing-masing.
Rey duduk pada sun lounger di depan kolam renang yang di design khusus seperti danau. Bebatuan dan tanaman serta rumput sebagai dekorasi. Sempanye di meja dengan dua gelas. Satu gelas terisi dan satu gelas lagi kosong. Gelas kosong berada di tangan, dan tatapan dia kosong. Mendekatkan gelas kosong miliknya pada gelas berisi sempanye di meja, "kau sudah dewasa rupanya?" Bunyi kedua gelas terdengar pelan saat bersentuhan. Hanya siluet orang yang tertampak di sebelahnya.
Cahaya kamar temaram. Lenia memeluk guling dan tubuh gadis itu terbalut selimut hingga dada. Rambut ikalnya berantakan di atas bantal.
'Tok...tok...tok!' Pintu kayu memanggil lembut. Kentukan berulang kali. Lenia membuka mata dan mencoba membangunkan tubuh perlahan, "jam?" Mengumpulkan nyawa untuk melihat jam dinding kuno yang terbuat dari kayu jati, "01:46, Rey akan ku bunuh kalau ini kamu!" Nightie hijau terlihat menggantung lembut pada tubuh. Lenia membuka pintu.
Sepatu slip on casual putih, celana biru kehitaman dengan kimono tidur berwarna biru bahannya sutera. Dada menampakan barisan rapi otot di tempat yang tepat. Lenia terdiam mendongak lelaki di depannya.
"Akhirnya gadisku membuka pintu!" Bardt melangkah masuk dan mengangkat tubuh Lenia dengan tangan kiri. Gadis itu terlihat sangat ringan di tangan lelaki itu. Menutup pintu pelan dengan tangan kananya. Wajah Lenia sejajar dengan ujung kepala Bardt. Gadis itu mengeratkan pegangan pada kedua pundak lelaki itu, yang sekarang mentap intens padanya.
"Gadis nakal!" Dengan tangan kanannya, Bardt menarik wajah gadis itu dan sebuah ciuman membuat Lenia menyadarkan dirinya. Dia memejamkan mata, perlahan. Ciuman yang semakin dalam membuat Lenia terpaksa membuka kedua bibirnya. Lidah Bardt benar-benar mengintimidasi. Ciuman demi ciuman ditimpakan, gadis itu hanya mampu menarik nafas. Ciuman lelaki itu membuat keadaan yang sulit untuk diikuti. Berdt mencium dagu dan turun ke leher Lenia.