
'Tring, tring, tring.' Suara dering gawai di atas tempat tidur, di sana tertulis 'manja' pada layar. Lenia mengeringkan rambut dengan hairdryer berwarna putih dan tubuh masih terbalut kimono mandi. Seorang perempuan mengenakan hijab berwarna cream, wajahnya cantik terpampang pada layar gawai Lenia.
"Sayang, lusa kutunggu kedatangannya oke, kalau tidak datang aku benar-benar akan sangat marah." Sambil merapikan hijab.
"Sayang cium online dulu!" Lenia menautkan bibir, seolah-olah berpose duck face.
"Umah, aku hamen hanyu!" berpose yang sama dengan tambahan suara.
"Aku pasti datang, sayangku!" Lenia tersenyum manis.
"Sayang, kamu dengan siapa ke sini nanti karena Eli tidak bisa datang katanya?" Layar camera gawai bergerak.
"Aku dengan Rey, sayangku!" Sambil mengeringkan rambut dengan tangan kanan.
"Oke sayang, aku tunggu. Sayang lihat suami kita!" Memperlihatkan lelaki tampan dengan rambut ikal pendek dan mengenakan kemeja biru sedang duduk di sofa. Posisinya tampak sangat anggun.
"Suami kita, tampan sekali Molina!" Lenia membuat ekspresi wajah semanis mungkin.
"Sayang saatnya aku mematikan gawai, puaskan melihat wajah suami kita dan harap di tahan liur hingga resepsi ku selesai!" Tersenyum sambil duduk di sofa. Suami gadis yang Lenia panggil Molina memeluk erat istrinya itu lalu mencium pipinya.
"Aku tiba-tiba marah, sudah matikan saja!" Berpura-pura marah. Melihat ekspresi Lenia, suami-istri itu tertawa. Layar gawai akhirnya tetap di matikan.
"Aku harus memaksa Rey!" Melempar gawai ke tempat tidur. Mengacak rambutnya cepat.
Lenia meletakan kedua tangan di dagu dan itu dijadikan sebagai penyanggah. Duduk di kursi cafe menatap kemanapun Rey bergerak. Niat yang terlihat jelas. Di atas meja sling bag berwarna hitam. Kali ini Lenia kenakan baju kaus merah anti fit-style dan celana tailored trousers hitam sebagai bawahan. Sling back shoes warna hitam dengan lukisan bunga warna merah sebagai dekorasi pelengkap pada kaki.
Rey duduk di seberang kursi Lenia, meletakan cangkir kopi hitam tradisional beserta cangkir berisi susu pekat, "dan kenapa Eli harus menyuruhku ke resepsi pernikahan Bina bersamamu!" Menyilangkan kaki dan duduk bersandar. Rey mengenakan kemeja hijau dengan bagian tangan digulung rapi. Bagian bawah mengenakan celana kain hitam dan sepatu.
"Aku harus ke Australia lusa jadi aku tidak bisa mengantarmu. Aku baru bilang kan. Ya sudah aku tahu kamu tidak bisa menemaniku dan aku juga sama. Selamat bersenang-senang sayang. semoga tidak mendapat pasangan." Eli Mematikan telepon.
"Itu yang dia katakan, alasannya singkat, padat, cair dan rumit pokoknya terserah dia. Kau tidak kasihan sama sekali pada wajah ini, saudaraku?" Wajah memelas.
"Kapan kita bersaudara?" Memajukan tubuh dan meletakan tangan kiri di atas meja.
"Kau kemaren membantu seorang anak untuk melecehkan ku, hingga tadi malam dan lupakan!" Menyelidik dan mengancam tapi ragu dengan apa yang keluar sebagai kata selanjutnya. Karena dia yang akan terpojok.
Membaringkan kepala di meja lalu menutup wajah dengan kedua tangannya, "tidak ada yang terjadi dan pastinya dia teman kita waktu kuliah Rey?" Semua teralih pada topik berbeda dan terpampang tatapan dengan penuh harap.
"Dia temanmu bukan temanku, jurusan kita berbeda, tidak perlu mengarang. Bangun dari mimpi!" Menatap sinis, "aku akan menemanimu." Wajah Lenia seketika tersenyum penuh semangat, "tapi, ada udang di balik batu!"
Hal itu membuat tubuh gadis itu melemah kembali, "sudah pasti, kau tidak akan mau kalau cuma-cuma kan. Apa udangnya?" Mengerutkan kening.
"Kamu yang bayar kamar penginapanku selama di Palangka, oke." Berdiri.
"Dengan senang hati, saudaraku." Menahan senyum, dan memeluk Rey lalu melepaskan pelukannya dengan cepat. Rey melangkah menuju tempat pemesan kopi. Pasangan masuk ke dalam cafe. Rey tersenyum menyambut. Dia merangkap menjadi Customer service untuk cafenya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jejak pasti tinggal lama dalam kisah seseorang. Percaya pada masalah yang dihadapi orang lain dan percaya bahwa setiap tindakan pasti ada alasan. Alasan paling istimewa dan sederhana adalah alasan yang jujur.
Lenia menutup pagar lalu mengunci dari dalam. Gadis itu menggunakan duffel bag coklat muda, baju kaos polkadot dan wide leg pants lalu gladiator flat shoes sebagai pelengkap. Rambut ikalnya dibiarkan terbuka.
Rey membuka pintu belakang mobil, Lenia meletakan tasnya. Mereka berdua masuk kedalam mobil, "kau hebat dalam hal irit?" Rey menatap Lenia dengan sekilas sunggingan senyum. Lelaki itu menggunakan kaus putih anti fit-style dan celana baggy harem serta sepatu slip on casual.
"Kalau menggunakan pesawat terbang dari sini ke Palangka uangnya lebih dari pada biaya mobil. Kau memangnya membawa apa?" Berbalik badan, menatap kebelakang yang hanya tasnya di sana. Memasang seatbelt, "tidak perlu menjawab, sudah pasti jawabannya!"
"Aku akan membeli pakaian di sana ketika kita sampai nanti!" Mobil berjalan pelan, "sudah berdoa?"
"Tadi di dalam rumah." jawaban singkat.
"Mari mulai, perjalanan 4 jam kita!" Mobil melaju.
"Perjalanan ke Palangka itu 6 jam, bodoh!" Mulai berteriak.
"Aku terbiasa dengan 4 jam." Berakhir dengan perang kata.
Aku hamen hanyu\= Aku suka kamu