
Layar gawai di meja kerja menampilkan foto Lenia dengan kebaya dan sanggul tipis. Bart merapikan lengan toxedo dengan motip bunga mawar merah di satu sisi bagian tangan ke tengah tubuh dan sisi polos pada bagian yang lain hingga celana. Berdiri dengan senyuman puas menatap ke luar kaca gedung.
Gedung 99 banyak pasang dan tanpa pasangan berkeliaran. Orang berada dan orang kecil, janda-duda, anak yatim dan semua kalangan berkumpul untuk perayaan kemanusiaan yang terselengara setiap awal bulan 12. Pentas budaya tarian Dayak dan makanan tersedia bahkan terbuka lebar bagi yang mencari sumbangan. Toxedo dan kebaya berhamburan di dalam gedung dan di luar gedung. Panitia penyelenggara untuk kemanusiaan punya bagian khusus membersihkan, memberi pakaian berupa toxedo dan kebaya, make up, dan melayani dengan tulus bagi kalangan yang kurang mampu. Pelayanan dengan seadil-adilnya bagi semua kalangan. Seluruh kalangan di haruskan berbaur tanpa memandang perbedaan. Mengumpulkan hati nurani ke satu gedung agar masyarakat luas tahu bahwa masih banyak yang butuh bantuan berupa rumah, pakaian dan makanan serta pekerjaan. Saluran dana setiap tahun yang masuk akan di berikan ke pada masyarakat luas yang kurang mampu.
Red carpet tanpa camera. Sebuah acara kemanusiaan tanpa perlu senyuman materi berupa kehormatan tersebar luas, hanya perlu sebuah undangan pada koran selama satu minggu berturut dan iklan pada layar kaca.
Lenia bergandengan pada Eli dan Rey mengandeng tangan kecil Cerel. Sedikit antre masuk ke dalam gedung. Di depan mereka semua kerumunan tertata rapi tanpa tahu kalangan yang bernama pembeda. Memasuki pintu gedung dan halaman luas tersuguh berbentuk bulat. Gedung 99 terbuat dari kayu ulin mengelilingi halaman terlihat kokoh. Pepohonan hijau, bunga berbagai jenis, kolam berisi air mancur dengan patung enggang terbuat dari ulin, dan panggung pertunjukan untuk penggalangan dana. Lampu tertanam di dalam sangkar besar di berbagai sisi gedung. Cahaya terlihat kuno tetapi berwajah tajam.
"Aku ingin menemui kenalan Leon terlebih dahulu!" Meninggalkan Lenia sendiri di tengah banyak manusia.
"Jangan lama itu pesanku El!" Sambil mengangguk pelan. Rey dan Cerel terlihat duduk di kursi dengan makanan pada meja mereka berdua sambil menikmati tarian sanggar Dayak. Lenia terlihat risih dengan bawahan kebaya yang ketat, tetap berusaha melangkah anggun dengan heel kacanya. Tangan kanan mengenggam bag mini terbuat dari rajutan uei, berisi dompet dan gawai. Menampilkan senyum ke berbagai sisi, "akhirnya aku malu."
Lampu terlihat lebih remang, waktu yang tepat menggengam awan. Pria memesona dengan rambut perak panjang terikat oleh rantai perak, anting runcing mencuat di belakang daun telinga kiri berwarna yang sama dan rambut di biarkan terjatuh di sebelah pundak kananya. Toxedo gelap-maroon nampak sexy dibalik lampu remang, senyuman dingin tersungging hingga banyak pasang mata terjatuh, dan langkah tegas serta kokoh terlihat hanya miliknya. Tanpa menatap, gelas tuak tertata rapi terambil dari meja begitu saja oleh sang pemilik pesona. Langkah berakhir tepat di depan Lenia, gadis itu dalam diam menopang kerutan dahi.
"Kamu tampak lebih tampan?" Mendongak, tatapan jatuh pada rambut Bart, lelaki itu meminum tuak di gelas dengan gaya yang anggun.
"Apa aku tampak menjadi makanan, untuk istriku?" Tersenyum miring.
"Suamiku jika orang melihat sekarang ke arahmu maka yang akan mereka pikirkan adalah saatnya membicarakan perempuan itu!" Balas tersenyum.
"Seorang gadis yang kamu kenal kemari!" Menarik Lenia dengan tangan kiri, ke pelukannya.
Eli mengerutkan dahi dan mulai tersenyum, "selamat malam?" Memberi telapak tangan kanan sebagai tanda perkenalan.
Bart memberi gelas tuak pada Lenia, gadis itu mengambil dengan wajah tampak ragu, dan lelaki itu menerima uluran tangan Eli, "semoga malam yang baik, nona Eli!" Tersenyum dengan tatapan lekat.
"Mungkin aku tampak mengumbar jati diri, nama tuan siapa?" Menatap Lenia memberi isyarat.
"Suami gadis ini!" Menyiratkan arti bahwa harus Lenia yang memperkenalkan, gadis itu tampak mengangguk, "Bart!" Tersenyum ragu. Pemilik nama memeluk erat Lenia, dan Eli tertawa canggung.
"Lei dia, tampak" Eli berpikir sambil menatap dari atas sampai bawah, "baik!" Terdengar sedikit ragu.
"Pujian sungguh-sungguh memang terasa nona Eli!" Menyunggingkan senyum.
Eli memeluk Bart, "jangan berhenti mengkhawatirkan gadisku!" Berbisik di telinga kanan Bart lalu melepas pelukannya. Terdengar sebagai peringatan tersirat. Lenia terlihat mengerutkan dahi karena sebagian pasang mata menatap mereka, "apa kita bisa duduk sekarang?" Ragu.
"Kurasa sudah sewajarnya, di sana saja!" Eli menunjuk meja Rey dan Cerel yang melambai ke arah mereka. Satu nenek bersama mereka berdua, tersedia 6 kursi untuk satu meja.
"Suasananya tampak mengkhawatirkan nak?" Nenek di sebelah mereka membuka dialog.
"Kami baik-baik saja nek!" Eli menjawab dengan senyuman.
"Pertunjukannya tampak sangat menarik nek!" Cerel mengarahkan kursi menuju arah panggung dibaliknya.
"Lei, dia tampak merusak pemandangan!" Rey membuka suara, jelas terlihat tujuannya pada Bart.
Lenia hanya membulatkan mata penuh tanya, "apa kita harus membuka suara di sini?"
Bart menatap dari ujung mata pada Rey, "kita berdua akan membicarakannya nanti!" Menatap Lenia dan berdiri. Mencium kening gadis itu, "aku permisi dulu!"
"Perlu dipertanyakan nanti?" Eli menarik alis ke atas dan satu suapan kue pada mulutnya. Bart berlalu dengan senyuman dan di ujung langkah terlihat dari meja mereka Bart menata kata dengan seorang gadis berkebaya hitam yang sexy.
"Lenia tahan diri agar tidak terbakar!" Mengangguk pelan dalam suapan. Sekilas berbalik untuk menatap kejadian, Bart tampak menampilkan senyum dalam setiap dialog.
"Belum terlalu tersulut jika tidak ada kompor sepertimu El dan juga Rey!" Membalikan tubuh membelakangi tujuan, tatapan jatuh pada Rey.
"Aku tidak akan membahas untuk malam ini!" Rey meminum juice anggur.
"Aku harap semuanya begitu karena tarian di sana lebih baik!" Menggeser kursi tapi tangan di meja membuat suapan pada mulut.
Lampu terlihat lebih remang, penglihatan sangat terbatas. Panggung bersinar menapilkan bermacam-macam pertunjukan. Semua orang berdiri dan sedikit berkumpul ke arah panggung. Eli berdiri di depan Lenia sedangkan Rey menarik Cerel ke pelukannya dan sedikit mengangkat gadis kecil itu agar penglihatannya lebih jelas. Nenek tua itu tampak menikmati punggung kerumunan dari kursinya, "malam mendebarkan?"
Lenia tetap kesulitan melihat ke arah depan karena tinggi tubuhnya walaupun menggunakan heel tetap tidak terlalu mampu mebantu.
"Lei ikut denganku sebentar!" Bisikan tepat di daun telingan Lenia lembut. Telapak tangan hangat menggenggam tangannya, gadis itu mengikuti langkah yang membawanya dari kerumunan.
Sampai di ujung anak tangga ulin, punggung yang dia kenal, "Bart aku kesulitan melangkah!" Lelaki itu berbalik dan memeluk serta mengangkat Lenia. Langah demi langkah pelan dan pasti menaiki anak tangga. Suara sepatu berdentang di tengah lampu remang sepanjang lorong gedung. Satu pintu terbuka dengan keycard di tangan kanan Bard. Kamar mewah dengan tata ruang tampak kuno, cahaya orange-kemerahan menjadikan ruang itu VIP. Pintu tertutup dan Lenia di turunkan dari pelukan tangan kiri Bart.
"Aku lagi tidak ingin melakukannya!" Menatap tajam pada Bart.
"Aku ingin bicara Lei!" Wajah lelaki itu tampak dingin.