Come Here Datu

Come Here Datu
Come Here Datu



      Hari menentukan kisah, saat kau menoleh semuanya masa terlewat. Masa kini mampu kau tatap. Masa depan rangkaian yang terkumpul.


      "Lei, sedari awal telah menjanjikan sesuatu yang pasti ditepati!" Memeluk pinggang Lenia dan mengangkat gadis itu dengan satu tangan. Seperti bayi, posisi tangan kanan Bart memeluk pinggul Lenia hingga ke bawah paha. Kaki gadis itu dibiarkan terjuntai ke bawah. Dua tangan memegang kedua pundak Bart. Langkah pelan tapi pasti menuju tangga jukung. Kaki Bart Pelan menginjak tanaman bunga mawar biru dan menyisakan tanaman yang semakin bertumbuh. Duri tajam tidak menembus kulit lelaki itu. Tatapan Lenia fokus pada sekitar.


      Melangkah pelan naik melewati tangga. Pelan dan pasti sesuatuku perhatikan telah berubah. Lelaki yang memegangku sekarang berbeda.


Tubuh Bart berubah menjadi bulu putih, ekor yang panjang terseret di tangga, wajahnya penuh bulu dan taring di sana. Kuku berubah panjang serta tajam dan sayap keluar membuat kimono rajut itu robek. Sayap yang tenang, belang. Mereka berdua berhenti di tengah badan jukung.


      Keduanya saling menatap, warna mata biru. Di sana seolah terlihat wajah polos Lenia. Gadis itu menyentuh pelan sayap Bart. Tanpa ada penolakan dari yang memiliki.


      "Aku baru pertama kali melihat." Kata Lenia pelan.


      "Kau yakin dengan apa yang kau katakan?" Bart memindahkan posisi gadis itu. Kedua paha Lenia ada di perut Lelaki itu. Kaki di biarkan bergelantung di samping tubuh Bart. Wajah keduanya hampir tidak menampilkan jarak. Tatapan tanpa rasa takut dan rasa kasihan di mata Lenia, seolah gadis itu menatap makhluk yang sama.


      "Waktu bertemu kelihatan ketakutan di sana." Wajah Bart sedikit mendekat.


      "Itu pertama kalikan, untukku!" Menjelaskan, "lukamu sembuh!" Tersenyum sambil memegang leher Bart yang tertutupi bulu.


      "Lei, kau ingin ke suatu tempat denganku!" Gadis yang di tanya mengangguk sebagai jawaban.


Kepakkan sayap dan kunang-kunang menjauh. Tubuh mereka terangkat. Bart memeluk gadis itu dengan tangan kananya lagi. Tubuh mereka dengan ujung pohon hanya beberapa centimeter. Lenia tersenyum, pemandangan yang tersaji bukan hanya 3D tapi nyata. Lampu dari rumah dan gedung yang hidup dan di matikan jelas terlihat.


      Masuk ke tatanan hutan. Tubuh keduanya mencapai tanah. Di depan Lenia gerbang terbuka dan menampilkan kehidupan yang berbeda. Semua berbentuk seperti lelaki yang sekarang berdiri di belakang Lenia, Bart.


"Kami memiliki kota, gedung dan alat canggih lain. Berkembang selayaknya manusia." Kepala Bart di bahu Lenia.


      "Ada yang seperti manusia ada yang mempertahankan bentuk asli?" Lenia menunjuk.


      "Yang mempertahankan bentuk asli itu karena masih muda belum bisa berubah dan ada juga yang memilih tidak mengambil bentuk manusia." Bart mengulurkan tangan pada Lenia. Tangan lelaki itu kembali normal, yang menjadi pembeda adalah luka pada leher sembuh dan rambut putih yang panjang serta pakaian robek perlahan kembali rapi seperti semula. Gadis itu menerima uluran tangan Bart.


      "Kalau bukan makhuk yang sama, manusia tidak dapat masuk!" Lenia menghentikan langkah.


      "Kenapa kau mengajakku kalau begitu, aku akan menunggumu di depan gerbang." Bart menyunggingkan senyum.


Membungkukan tubuh, "istriku punya ijin khusus sebagai tamu."   Memegang rangkaian bunga aggrek di kepala Lenia. Gadis itu memegang mahkota yang masih terpasang di kepalanya.


      Suasana riuh terlihat sebuah acara yang besar. Pasar terlihat menjual berbagai macam makanan manusia, darah, daging mentah serta isi perut dari binatang, bunga dan tanaman, menjual sihir serta batu-batuan memiliki kekuatan, pakaian dan alat sehari-hari seperti manusia. Banyak yang menjual dan banyak yang membeli. Pakaian modern yang di jual, hanya saja pakaian penjual dan pembeli masih mengenakan pakaian tradisional Dayak. Semua terlihat cantik dan tampan dengan warna berbeda dan bahkan rambut dengan berbagai warna.


      Semua tempat yang mereka lewati memberi salam hormat. Penjual bunga memberikan Lenia setangkai bunga mawar biru, "terima kasih." gadis itu tersenyum.


      "Sama-sama nak." tersenyum dan mempersilahkan dengan tangan.


      "Malam ini akan ada acara?" Menatap sekeliling.


      "Pergelaran tari Dayak, di sini tempat khusus untuk menikmati festival." Lenia mengangguk. Di arah depan mereka beberapa pemain musik berkumpul dan penari terlihat bersiap-siap.


      "Pantas di sini berbeda dengan di sana. Lebih terlihat adat dan budaya bahkan rumah semuanya rumah Betang. Berbeda dari gedung-gedung dan transpormasi terbang di sana." Semua orang berkumpul menikmati tarian. Semua berbaris rapi. Bart dan Lenia melewatkan barisan dengan berjalan keliling. Dua tempat duduk tersedia dekat dengan panggung penari. Tempat duduk yang khusus. Mereka berdua duduk dan di layanani, untuk Bart pelayan yang cantik dan untuk Lenia pelayan yang tampan. Beberapa pasang mata laki-laki dan perempuan yang duduk berhadapan dengan mereka tersenyum ramah. Terlihat sekali kedudukan yang berbeda. Lenia membalas dengan senyum.


      "Mereka begitu ramah, apa semua orang yang ke sini di sambut ramah?" Menatap para makhluk yang berdiri menonton tarian.


      "Bukan orang, kau menjadi perwakilan para peri untuk bertamu." Bart meminum tuak dari gelas emas.


      Gadis itu menikmati tontonanya. Pelayan menuangkan tuak pada gelas Lenia dan memberinya makanan, daging terpanggang tersaji rapi di atas piring seperti sajian dari seorang chaf.


      "Terima kasih." Lenia berniat memotong daging dengan pisau. Bart memegang tangannya, "terima kasih tolong beri dia buah." Memberi piring kembali pada pelayan.


      Lenia menatap Bart yang menatapnya. Tatapan berarti pilihan. Gadis itu menggeleng tapi akhirnya mengangguk setuju dengannya. Buah tersaji di atas meja.