
Subuh menempuh perjalanan singkat. Pagi memberi wawasan bagi hati untuk tersenyum. Singkat, padat dan jelas sebagai sapaan berwibawa. Suara berketukan pelan dalam irama yang jelas, aroma rempah-rempah menembus indra penciuman. Seorang lelaki yang masih mengenakan pakaian tidur tampak bersemangat dengan serius pada wajan berisi rendang sapi.
Blender bekas rempah-rempah yang dia gunakan masih terletak di atas kitchen sink. Bart meletakan rendang dalam piring putih. Membuka panci, di sana terdampar iga dari babi, lebih tepatnya sop. Sambal tomat dengan terasi, dua gelas susu dan dua gelas air dingin sudah tersaji di meja makan bersama rice cooker.
Posisi di pelukan selimut bulunya, dan mata sedikit sulit untuk terbuka, gorden masih tertutup. Lenia beranjak dari tempat tidur menuju arah dapur. Jam tengah menunjukan pukul 06:00.
"Limau purut?" Mengosok mata sambil berjalan ke arah Bart. Lelaki itu menyambut dengan sebuah pelukan, "kubuat rendang, dan kita akan makan pagi" Lenia mendongak, "aku mandi dan sikat gigi dulu!" Tetapi memejamkan mata dengan Bart sebagai sandaran, "aku akan memandikanmu hingga masa haidmu selesai!" Gadis itu membuka mata.
"Aku mampu mandi sendiri!" Pelan tapi pasti sebagai sanggahan.
"Tidak selamanya aku akan seperti ini." Lenia mendongak untuk kedua kalinya.
"Hingga phobiamu hilang total!" Tersenyum miring.
Sesuatu membuatmu bertingkah secara matang. Keputusan menjadi bagian penentu dalam berbuat. Apa yang terjadi saat hari terakhir?
Suara shower terdengar kasar, Lenia berdiri tanpa sehelai kain di hadapan Bart. Sedangkan lelaki itu hanya mengenakan celana tidur. Giliran tangan, menyentuh seluruh tubuh gadis di depannya dengan busa berisi sabun.
"Satu kali aku akan memaafkanmu." Tersenyum lebar.
"Aku tidak akan meminta maaf!" Tersenyum miring. Memberi pijatan pada kepala Lenia, saatnya busa shampo bergelembung.
Air shower menyapu busa sabun. Suara dari mesin cuci terdengar bernada lembut. Lenia mengenakan daster merah, mengeringkan rambut di depan meja rias Kartininya. Bart keluar dari kamar mandi berbalut kaus hitam anti fit style, dan celana kain hitam tanpa lipit.
"Kita makan." Sekilas gerakan tangan, rambut ikal Lenia bergerak perlahan dan mengikat dirinya sendiri. Tersenyum pada dirinya di cermin, memberi anggukan pada Bart.
Makan pagi tersaji di meja makan. Sendok dan telapak tangan beradu di piring. Dialog sehari-hari terdengar lantang. Di tutup dengan Bart terlentang sambil menyilangkan tangan, tertidur di atas paha Lenia. Posisi di atas sofa, TV menyala. Lenia menikmati setiap jeruk yang masuk ke mulutnya.
Menanam perang harus dengan orang berhati celaka agar perangmu diterima. Perang tidak akan berkumandang saat kau tidak tulus untuk berbagi. Seberapa berdarah pengalaman logikamu sehingga hati menjadi penguasa.
Lima hari berlalu, saatnya bunga di rapikan. Lenia duduk di sofa, serius pada ketikannya. Laptop menyala dengan kata yang tertera.
'Lei aku tunggu hingga siang ini!' Layar gawai Lenia menyala di atas meja. Kerutan pada dahi tampak jelas. Bart meletakan susu dan kue cokelat di atas meja makan.
'Jangan membawa simpanan ke rumah!' Pesan dari Bart tertulis di wallpaper gawai Lenia.
"Subuh dan pagi, dua orang membuatku stress!" Beranjak menuju kulkas dan mengambil ice cream. Gawai berdering, Eli menelepon.
"Aku yang angkat El!" Duduk di sofa, telinga dirapatkan ke bahu saat gawai berada di antara keduanya.
'Jangan terlambat aku akan mengirimkan naskah sore ini, Lei!' Lenia menarik napas.
"Aku akan mengirimkannya siang ini!" Suara terdengar lemah-lembut.
'Lagi haid Lei, aku akan ke sana, butuh apa?' Terdengar khwatir.
"Selesai tadi malam, aku mencoba untuk tidak emosi El. Kamu malah memompa emosiku!" Mengambil beberapa tarikan napas, agar tenang.
"Kamu tidak apa-apa?" Pelan. Pintu rumah terbuka, pada tangan tampak kunci motor. Bersiap ke rumah Lenia.
'Dia menemaniku sampai tadi subuh!' Suara dari seberang gawai terdengar bertanggung jawab. Sunyi sedikit lama. Akhirnya jawaban menggema.
"Kalau begitu usahakan jangan sampai sore saat mengirimkan naskah padaku Lei!" Mematikan telepon. Menutup pintu dan nampak senyum singkat pada bibirnya.
'Aku butuh kopi saja Lei.' Balasan datang dengan cepat.
"Manusia ini ingin membicarakanku, pasti!" Mematikan TV dengan remote.
...***...
Ungkapan adalah soal rasa. Pertemuan hanyalah seberapa kuat logika menahan agar waktu terakhir penuh tarikan bibir. Penyesalan juga kata yang sama untuk mewakili emosi. Sedangkan bijaksana akan berada di ujung titik paling gelap dari hati. Saat semua terungkap kita tidak bisa memilih apa yang sudah dipilih. Mampu menarik lidah dan menutup bibir.
Tarian kain pada bibir jendela, pintu diketuk. Seorang nenek dengan rambut memutih, walau kerutan tampak sirna dari wajah, tetapi senyuman hangat melengkung di bibirnya.
"Aku sudah lama menunggu!" dr. Alan mempersilahkan duduk pada sofa di ruangannya. Wajah anggun perempuan albino yang sexy.
"Aku hanya ingin berterima kasih, dok!" Tersenyum sempurna, meletakan keranjang uei (rotan) di atas meja. Mencuat beberapa mawar biru, penuh di keranjang.
"Waktu yang lama, kurasa?" Menatap pada keranjang, "kuyakin kamu terlalu keras pada diri sendiri!" Tersenyum.
"Beberapa tahun yang lalu aku pernah kemari semasa muda, dan sekembalinya aku kemari," hening, "seseorang dengan kecantikan berbeda tapi, masih mampu kukenal berada tepat didepanku."
"Aku akan memberimu harapan!" dr. Alan menarik keranjang bunga tepat di depan dadanya.
"Harapan kecil dan besar aku punya, hanya butuh bergerak atau beristirahat!" Senyum hangat.
dr. Alan berjalan menuju vot bunga di dekat jendela. Tatapan tertuju pada hiruk-pikuk orang-orang di taman kantornya.
"Aku sangat suka melihat manusia, tidak tampak hari esok tetapi tetap berjalan semampunya!" Tersenyum sambil menata bunga, mengantikan dengan bunga mawar yang layu.
"Banyak waktu memang yang tidak bisa di miliki manusia, tetapi memiliki satu hari dengan bermodal seluruh rasa itulah penawar bagi manusia." Meletakan kotak kayu kecil di atas meja.
"Banyak hal tentang manusia yang tidak habis kita diskusikan. Penuh misteri yang tidak akan bisa terungkap. Membuat rasa cemburu menjadi, Boom!" Duduk kembali di atas kursi kerjanya. Menarik pelan satu telapak tangan nenek di depannya dan menggengamnya.
"Membuat nenek tua ini terharu, dan menerima nasihatnya. Merasa berhutang padamu, dok." Tatapannya hangat dan lekat.
"Lunaskan kapan saja dan di mana saja!" Mengedipkan mata.
"Hari ini aku berniat pamit denganmu, dokter Alan." Senyum hangat.
"Keserakahan tidak mampu memuaskanmu, dan persaingan akan menghilangkan kemanusiaan. Tidak sia-sia menjadi manusia dapat melakukan banyak hal di waktu yang singkat. Semua itu tidak bisa kumiliki!" Menarik nafas, "sampailah di tempat tujuanmu dengan baik, kau tidak bisa berhati-hati karena aku yakin tempatmu baik-baik saja." Tersenyum sebagai penutup dari dialog.
Butuh kata terarah untuk memiliki sebuah dialog yang tepat. Rantai takdir sebagai pengikat di antara tangan berjiwa. Tetapi, butuh satu hari di atas kereta dengan kusir berupa rasa. Karena takdir dari hidup dan mati adalah di pertemukan dan di pisahkan.