Come Here Datu

Come Here Datu
Come Here Datu



      Lelaki itu tertawa, luka pada dadanya merapat kembali. Aura hitam mengambang, dari rajutan sarang laba-laba berubah merah dan penuhkan jubah hijaunya yang menyala. Langkah lelaki itu menuju ke arah Bart bersamaan dengan gerakan itu kepala Ricard mengeluarkan darah, tubuhnya tampak tidak setabil dan terhuyung ke belakang. Tekanan berat membuat kaki tergelincir dan tubuh terjatuh. Bart menatap dingin, kabut hitam mempercepat gerakan tubuhnya, dan dengan cepat menarik tangan kiri Ricard. Sedangkan lelaki yang di sebut Bart, Barol. Memegang tanagn kanan Ricard. Keduanya saling menatap dalam lantunan ganas angin saat tubuh jatuh melambat. Kabut biru dan hitam berada di kedua pihak.  Sebelum tubuh menghantam tanah, tali merah menarik Barol ke atas gedung dan bersamaan dengan itu cambuk pemotong menuju ke arah Ricard tetapi Bart membiarkan bagian paru-parunya terhantam. Lelaki itu tetap menarik Ricard sehingga keduanya dalam posisi berdiri saat kaki menyentuh tanah.  Beberapa detik di tanah tubuh Ricard terjatuh, Bart berjongkok di hadapannya, dan terdengar sirene ambulan dan polisi mendekat.


      "Apa yang lelaki itu katakan padamu?" Ricard tersenyum pada Bart saat luka lelaki itu kembali merapat.


      "Kau bertanya pada orang sekarat!" Ricard tersungkur.


      Bart mengambil kacamata dari saku celana dan memasang pada matanya, "tidak perlu di kejar!" Menatap ke arah tubuh Ricard yang sedang tak sadarkan diri.


      Seorang lelaki tua menampakkan diri dari bulatan hitam di samping Bart, membungkukan tubuh, "tuan!" Bulatan kabut hitam perlahan menghilang. Bart terlihat berjongkok dan memegang bagian kepala Ricard.


      Suara hutan mengerang dan kasar. Tubuh Ricard ditemukan sedang bersandar pada pagar, tim medis dibiarkan membawanya  dengan ambulance ke rumah sakit. Garis polisi di biarkan menutup area Rumah Sakit Tebu.


      Waktu berselang, Rumah Sakit Pangarawahan, gedung berbentuk jamur raksasa yang terbuat dari  bahan tiruan kayu dan berwarna cokelat.


      Seorang dokter tampak berbicara dengan Jean Kee di depan ruang Ricard.


      "Kami hanya menemukan luka gores biasa, mencari di sekitar kepala yang bersimbah darah dan di bagian perut saudara Ricard tetapi hasilnya tidak ada luka serius di sana. Pemeriksaan tulang yang kami lakukan juga memiliki hasil yang baik. Anda tenang saja pak, teman anda dalam kondisi normal." Menepuk pundak Jean Kee lalu pergi.


      "Mau makan?" Menawarkan pada Jean bubur di depannya.


      "Aku akan membiarkan orang sakit yang butuh!" Duduk di kursi samping Ricard.


      "Kau terlampau malam kemari." Sekilas senyum, "bukan salahmu, aku yang menerobos masuk!" Tersenyum sambil menepuk pundak Jean.


      "Aku hanya ingin meminta maaf." Lelaki imut itu menunduk lesu.


      "Membeli kopi di mesin penjualan, satu orang selalu tersenyum ke arahmu dan setelahnya menyenggolmu. Diretas tanpa sebab tapi memiliki akibat. Aku memafkanmu." Tertawa.


      "Sepertinya rasa bersalahku lebih dari itu!" Mengambil apel dan memotongnya lalu memberi pada Ricard.


      "Potongan pertama selalu lebih enak." Mengedipkan mata.


      Kumpulkan harta di padang gambut dan kau akan melihat harta tak tertahankan berdiri megah.


      "Saat berburu kau hanya akan mendapatkan buruan sesuai kemampuan matamu menatap, sisa buruan tidaklah sia-sia karena yang akan mendapatkannya adalah pemburu yang tepat. Kita berburu untuk makanan sekaligus bersenang-senang." Ricard memakan potongan apelnya.


      "Nasihat tentang hutan?" Jean memotong bagian apel kedua.


      "Hal baik untuk ungkapkan makhluk seperti itu, mereka pemburu di bidang berbeda!" Mengambil potongan apel keduanya.


      "Sangat baik, potongan ketigamu!" Meletakan di mangkok bubur Ricard.


      Tanam hingga berakar. Paham akan pengampunan, mereka milik kita. Saat berakar hanya satu hal dapat kulakukan, cabut dan timbun di atas api. Kita akan lihat senjatamu yang hancur atau milikku.


      Sore yang baik untuk menghentikan diri dari kata, kerja. Istirahat cukup untuk penenang. Pulihkan diri untuk hal berulang.


      Pintu cafe terkunci oleh kartu otomatis. Cerel setengah berlari menuju Rey. Tangannya mengenggam  tangan kanan lelaki itu. Sekilas tatapan dari tangan sang pemilik.


      "Kita akan membeli kue pesanan, kak!" Cerel tersenyum manis, gadis itu berlapis dress rajut kuning hingga ke betis dan beralas platfrom shos.


      "Apa aku bisa meminta bungkusan?" Menatap Cerel lekat.


      "Kakak suka kue, padahal kakak suka kopi!" Rey berbalik arah dan menatap kedepan.


      "Kita akan membeli di toko Illa!" Cerel mengikuti langkah Rey, lelaki itu mengenakan kaos hijau anti fit-style, celana tenun anti fit-style berbentuk rok, dan di padankan dengan slip on pada kaki. Tangan lelaki itu masih dalam genggaman.


      Musik menggema pelan, di dalam rumah Eli, Emon tampak menata long dress pernikahan mereka. Lelaki cantik itu mengenakan long dress hijau kemerahan, dan tanpa alas kaki. Eli menjahit bagian dari long dress dan Lenia menjahit berlian dengan hati-hati di atas sofa. Selang beberapa lama tubuhnya di hantamkan pada punggung sofa, "aku benar-benar merasa pusing dan mual lagi. Musik dan bau parfume menyengat sekali." Keringat di keningnya, padahal pendingin ruangan menyala. Langkah kakinya cepat menuju toilet, Emon dan Eli menatap secara bersamaan.


      "Aku tidak bisa berkata." Eli menghentikan mesin jahitnya. Menggeleng kepala saat Lenia berguling di sofa.


      "Sayang, kita tunggu beberapa menit lagi." Emon memberi ingat dengan kata pelan. Lenia berhenti berguling dan duduk rapi di sofa, "aku akan melanjutkan pekerjaanku, aku tidak tahu kenapa aku emosi sekarang?" Mengambil berlian lagi.


Menjahit dengan benang sutera.


      Pintu di ketuk, dan terbuka. Rey dan Cerel melangkah menuju mereka. Lenia tampak menampilkan senyum manis. Cerel meletakan kotak berisi lamang dan creamnya bersama kue durian. Lenia mengambil satu potong lamang dan mengigitnya. Tapi wajahnya kembali menempilkan ketidaksenangan dan menangis.


      Cerel mengambil air dari dapur. Rey duduk di sebelah Lenia dan menepuk punggung gadis itu. Memberi isyarat pada Emon dan Eli, 'kenapa?' Mereka menjawab dengan menggelangkan kepala serentak.


      Cerel memberikan air minum pada Lenia dan gadis itu meminumnya pelan. Cerel tetap berdiri di samping Lenia, sedangkan Emon dan Eli mendekat, keduanya tampak seperti amplop melekat. Emon memeluk Eli dari belakang.


      "Aku ingin makan dengan berengsek itu!" Rey mengerutkan dahi, tanda bertanya dari kalimat Lenia.


      "Suaminya yang dia maksudkan sayang!" Emon menjawab.


      "Kau ingin menikah lagi dengannya?" Eli tampak berpikir.


      "Aku sudah menikah dengannya untuk apa aku melakukannya lagi?" Terdengar meringis, menghapus air mata dan menggigit lamang lagi.


      Emon mendekat dan Rey mengeserkan diri. Lelaki cantik itu memeluk Lenia dan Cerel melakukan hal yang sama. Eli duduk di tangan sofa, tubuhnya bersandar pada bahu Rey. Emon terdiam saat memeluk Lenia, lelaki itu mengelus rambut gadis itu sambil tersenyum. Lenia memaksakan lamang masuk ke dalam mulutnya.


      Rumah sakit masih menanam gendang di telinga. Huru-hara tampak jelas di posisi masing-masing.  Wajah Bart tertampil pada LCD  layar biru di depan mata Ricard dari layar gawainya yang tertidur pada selimut.


      "Aku tidak menerima kata terima kasih." Bart memperbaiki kacamatanya. Layar dari kacamata memantulkan dirinya.


      "Aku meminta maaf." Ricard tersenyum sinis.


      "Aku tidak bahagia sama sekali?"  Tangan perempuan memberi Bart kue.


      Ricard meniakan sebelah alis, "kau romantis sekali waktu itu!" Tertawa kecil.


      Bart mengambil satu potongan kue, "aku merasa tersinggung." Membalas dengan tersenyum dingin.


      "Aku mengatur bagianku dan kau mengatur bagianmu!" Ricard meminum susu dari gelasnya.


      "Semoga kau cepat tumbuh besar, aku merasa seperti membeli harga dirimu!" Bart menggigit kuenya.


      "Aku akan menyusut, kau jangan khwatir, aku tidak pernah memperdagangkan harga diri untuk uang. Aku orang yang pernah merasakan tinggal di jalan bagaimana mungkin aku takut dengan kehilangan uang." Tertawa, "sekalipun kau berada di atas, kau tidak akan pernah bisa mempengaruhi pendirian yang beralaskan keuntungan kemanusiaan. Aku jatuh cinta dengan pekerjaanku Bart." Lanjutnya dengan tersenyum dingin.


      "Aku akan mengancammu dengan orang terdekat!" Menghabiskan kue, menjilat perlahan ujung jempolnya.


      "Kalau begitu aku akan tetap menang, keluargaku tidak menyukai keluarga yang menghancurkan orang lain demi kepuasan pribadi." Mengedipkan mata.


      "Kau manusia yang paling buruk." Menyeruput kopi.


      Meletakan gelas susu di bedside table, "dia tidak akan menbunuhku karena aku orang yang menarik baginya!" Tersenyum.


      "Dia, kau bisa memegang perkataan itu karena ada buktinya." meletakan kopinya, "topik yang menarik, kau hidup tanpa kelemahan, apa semua orang kau anggap lemah?"


      "Justruh aku sendiri menganggap diriku adalah kelemahan, oleh sebab itu aku berpikir apapun yang terjadi aku harus melindunginya." Ricard tertawa lagi, "aku orang yang beriman pada Tuhan, oleh karena itu aku percaya pada sisi di sebelah manusia yang tak bisa kulihat. Metafisika di luar fisika, mungkin!"


      Bart menatapnya dengan senyum miring, "teruslah menjadi manusia yang menarik, kadang kata bisa menjadi nasihat dan bom waktu!"


      'Jangan pernah membunuh dirimu demi siapapun, orang yang kau tinggalkan akan sangat kehilangan dalam rasa bersalah.'