
...Bab II...
Aku percaya bahwa dunia ini sangat luas hingga titik akhir tetapi hanya ilusi perputaran. Aku memercayai takdir ternyata berakhir karena rasa. Kita yang menginginkan takdir sebab itu terjadi sebab rancangan. Aku tidak ingin menjadi yang terbesar di dunia ini, tanpa petunjuk yang pasti. Hal itu sekarang membuat ku membeku.
Semenjak kejadian telah lalu, seseorang selalu mengirim ku setangkai bunga mawar biru. Aku bahkan tak mengetahui siapa sang pengirim. Dia seolah bersembunyi di kegelapan. Lalu apa yang sebenarnya ku lihat, fiksi atau nonfiksi. Karena datang tanpa perjanjian, berakhir selalu ku buang ke tempat sampah. Namun, akhir-akhir ini aku membiarkannya layu dalam pot bunga di kamarku.
Dering gawai Lenia membangunkannya. Mengusap mata yang terlihat bengkak. Meraba gawainya di samping bantal. "Iya, sia," kata terpotong.
"Bagus semakin pintar kamu, Lei. Sekarang ini sudah jam berapa kamu bilang akan mengirimkan ku naskah novel!" Suara teriakan. Lenia menjauhkan gawai dari telinga, lalu menatap jam di gawainya. Pukul 14.39, tiba-tiba membulatkan mata tanda terkejut. Mencoba tersenyum, "aku kirim sekarang." tertawa ringan.
Ketukan pada pintu terdengar memanggil.
"Tunggu sebentar, hatek (sibuk)." melepaskan tangan dari keyboard laptop. Berjalan menuju pintu, dan pintu dibuka. Eli menatap tajam Lenia dari balik kacamata. Gadis itu mengenakan topi dengan baju kaos putih dipadu hot pants bersama sepatu biru. Memberikan tas pada Lenia yang tersenyum paksa, "aku menghubungimu pagi ini berkali-kali, Lei." kata Eli tegas sambil berjalan menuju pintu kamar. Lenia melihat lagi pada gawainya, "matilah." berbisik.
"Lei kamu harus tahu berapa kali aku harus bolak-balik ke sini dan," menunjuk Lenia yang masih mengenakan pakaian tidurnya, "masih sulit bangun untuk sekadar bernafas dan memberikan tanda bahwa kamu masih hidup nakku, memang ada saja gila mu?" menarik napas dalam dan langsung berbaring di kasur Lenia.
"Aku buatkan minum, nakku sayang." kata terbata sambil membuat tingkah yang sangat imut.
Eli duduk lalu melangkah menuju kursi kerja Lenia, "aku akan edit di sini, buatkan minum Lei!" Mulai menggerakkan tangan pada keyboard.
"Oke nakku sayang." Lenia mencium pipi Eli lalu menuju dapur.
"Mawar biru lagi?" Dengan suara kecil, "Lei kamu memangnya dari mana tadi malam?" Suara agak keras. Tatapan pada pot bunga di atas meja.
Lenia membawa secangkir teh ditangan lalu meletakan di meja. "Rey yang mengatakan?" wajah menyelidik, "aku mencari ide-ide, kamu nakku pasti akan paham maksudku." Eli menatapnya.
"Nakku bagaimana jika, jika ada kejadian fiksi berjalan di depanmu." meliukkan tangan pada Eli, "bagaimana pendapatmu nakku?" Lenia duduk di ranjang. Ekspresi wajah penuh pertanyaan dan butuh jawaban cepat berupa pendapat.
"Berarti hanya ada satu hal, enak minumannya Lei." Menyeruput kopi.
"Fokus nakku." Lenia menatap datar. Eli berhenti menekan keyboard lalu menatap Lenia, "khayalan mu kadang keterlaluan, Lei!" Kembali fokus pada laptop. Lenia terlihat berpikir lalu membaringkan tubuh di ranjang, "setelah ku pikir-pikir, tidak atau mungkin bahkan iya?" berbaring menyamping, "aneh atau iya." menggaruk kepala. Jawaban yang diharap menambah kata menjadi ragu.
Eli menatapnya, "sudah cukup aku harus fokus oke!"
"Aku merasa seakan banyak kutu di kepala ku!" menjauhkan tangan dari kepala, "aku mandi dulu sebentar baru masak dan kita makan nakku." berdiri dan mengambil kimono mandi putih dari lemari. Menutup pintu kamar mandi.
"Anak itu selalu saja, mengganggu. Tapi kapan dia selalu membeli bunga dan menyukai bunga mawar biru?" Memegang tangkai bunga mawar biru lalu melepaskannya kembali seolah tidak peduli, "Lei flashdisk mu di mana?" Memanggil.
"Ada di dalam lemari." suara terdengar kecil dari balik pintu kamar mandi.
"Kamu yang mengambil jangan aku, dasar gadis nakal!" Menjauh dari laptop dan mengambil gelas kopinya tadi. Berjalan menuju dapur kecil dengan dekorasi ukiran kantong semar di setiap sisi lemari Lenia, "anak ini kecapean sekali sampai-sampai belum memasak?" Meletakan di meja tamu gelas kopinya yang dia bawa sedari tadi. Membuka Rice Cooker dan mengambil sebagian nasi ke dalam piring, mengambil telor dari kulkas, memotong sayur dan bawang. Suara minyak berpadu dengan wajan menggema di sana. Dua piring nasi goreng di meja tamu.
"Lei makan nakku!" Mengambil air ice dan menuangkan ke dalam dua gelas. Menyalakan televisi dan mulai makan.
'Kalimantan Tengah tepatnya di Barito Timur banyak hewan mati seketika dan setelah pemeriksaan masih belum pasti penyebabnya. Pada saat pemeriksaan pada tubuh hewan, semua hewan yang mengalami mati mendadak tidak mengeluarkan darah...'
"Kaget sekali?" Tatapan meremehkan.
"Lei Direktur Leon menanyakan kamu tidak apa-apa sendirian tadi malam?" Eli memakan nasi gorengnya.
"Kenapa paman tua itu bertanya?" Penuh selidik dengan raut muka tampak tidak suka. Kembali memakan nasi gorengnya lagi.
"Entahlah, katanya dia melihatmu tadi malam sekitar pukul 22.:00 lewat ada di taman. Karena buru-buru ada yang di urus, akhirnya dia memilih tidak menyapa?"
"Yang ku pertanyakan kenapa ada kalimat, tidak apa-apa sendirian, jelas-jelas tadi malam di jam segitu banyak orang lalu lalang?" Menatap layar Televisi.
"Mungkin dia mendengar kabar bahwa taman itu memang," Lenia menatap Eli, dia terlihat berpikir "angker?" Mengangguk.
Suara gawai tanda panggilan masuk.
Eli berdiri dan sedikit berlari kecil. Membongkar tasnya yang di letakan Lenia di kursi kerja. "Halo, setengah jam lagi aku ke sana." Mematikan panggilan dan membawa gawai bersamanya. Lenia menatap tanda bertanya.
"Ada sedikit masalah dengan design ku." Tanpa pertanyaan Eli menjawab. Gadis itu duduk melanjutkan makan.
"Bagus." menunjukan jempol tangan sambil tersenyum.
"Sudah, walau ada masalah mereka harus juga tepat waktu kalau ingin komplain, bukan begitu Lei?" Lenia menatapnya. Tatapan Eli membuat gadis itu tersadar bahwa dia melakukan kesalahan hari ini.
Lenia tersenyum malu dalam takut, "aku tidak akan mengulanginya lagi, lagipula hanya sekali nakku." berusaha bersikap imut.
"Biarpun teman harus tetap sesuai waktu, tidak ada harga teman karena teman tidak dapat dibeli!" Kalimat itu tegas.
"Aku ingat, cepat makan sebelum dingin." Dengan nada menggoda.
Eli mengambil flashdisk dan memasukan ke dalam tas, "aku berangkat Lei. Pulup-pulup" Langkah tegas yang tergesa-gesa lalu menghilang dibalik pintu.
"Hati-hati nakku sayang aku tidak mengantarmu keluar." Menaikkan suara dan melanjutkan makan. Hanya suara motor terdengar dari luar.
Mencuci piring, gelas dan wajan.
Selain sebagai editor, Eli adalah seorang desainer pakaian khas Dayak yang sangat terkenal. Bahkan beberapa karyanya dikenal di kalangan artis dan aktor dunia. Dia seorang gadis dengan penampilan yang berbeda setiap hari. Tema berpakaian dan make up membuatnya terkenal di kampus, tapi tanpa di ketahui orang lain jika dia seorang jenius desainer pakaian.
Lenia berbaring di tempat tidur. Menarik nafas, "apa yang ku pikirkan?" Menatap bunga mawar biru segar di samping kepalanya. Setangkai mawar biru yang masih terasa hangat bersama mawar biru lainnya pada pot.
Pulup-pulup\= diucapkan saat seseorang ingin pergi, pada saat orang lain lagi makan. Biasanya diucapkan agar tidak terjadi apa-apa pada orang yang berangkat. Semacam Do'a agar mudah dipahami.