
Muler berjalan pelan mendekati Lenia. Memasukan telapak tangan dengan bahu yang terluka ke saku celana. Berjongkok di depan gadis itu. Lenia menyipitkan mata.
"Katakan padaku apa alasan Bart menjadikanku makanan?" Pelan.
"Tidak ada penjelasan yang dapat menjelaskan bukti kecuali kepercayaan. Cukup itu, kita pulang kak!" Mengulurkan tangan.
Lenia menatap uluran tangan Muler, "kenapa kau mau bekerja untuknya?" suara gadis itu lemah.
"Kau bisa menganggapku memiliki tugas negara. Tugas negara ada karena kaum yang tidak di ajarkan dengan baik cara bertindak." Tersenyum miring. Mata Muler terlihat semakin cokelat terang. Celana dan jas terlihat basah oleh darah, bahkan dari luka di punggung menetes hingga ke ujung jas dan jatuh ke pasir. Lenia memperhatikan tetesan darah di bawah anak itu, penglihatannya berkunang-kunang. Gadis itu dengan cepat menatap ke arah wajah Muler.
"Berapa banyak korban siluman itu?" Suara tersendat dan tubuhnya bergetar.
"Ternak dan manusia sudah tidak terhitung. Dia masih bukan siluman datu yang berbahaya. Karena, yang berbahaya adalah siluman datu yang berbaur bersama manusia." Tersenyum.
Lenia menatap lekat, "Kau seperti menyinggung Bart, apa kau juga dari kaum yang sama?" mengeratkan kepalan tangan, untuk menenangkan diri.
Muler berdiri dan menatap ke langit, "aku yang paling berbeda!" Mengulurkan tangan pada Lenia. Gadis itu hanya menatap sekilas dan memilih pohon jeruk sebagai alat penolong untuk tubuhnya berdiri. Berjalan pelan tapi mendahului Muler. Anak itu masih berdiri di posisinya sambil menyunggingkan senyum.
"Terus terang jika aku sebagai alat pemutus untuk pembunuhan berantai maka hal Itu membuatku sedikit, lega!" Berbalik dan menatap Muler. Anak itu berjalan gontai. Lenia setengah berlari ke arahnya.
"Kau tidak bisa menyembuhkan lukamu?" Khwatir.
Tersenyum miring, "sudah ku katakan, aku berbeda dari mereka."
"Kau masih bisa tersenyum!" Lenia melatakan tangan kanan Muler di pundaknya dan membawa tubuh mereka keluar dari hutan. Terlihat mobil antik beberapa meter di depan mereka.
Lenia membuka mobil dan meletakan Muler di kursi depan. Lenia duduk di kursi pengemudi, keduanya posisi sama rata. Anak itu masih membuka mata tapi tubuhnya lemah.
Membuka pelan jas Muler, beserta kemeja putih dan dasinya, "seperti terbakar?" Luka cakar pada bahu dan punggung membuat daging di bagian yang terluka menyusut dan melepuh. Darah biru mengalir. Lenia terlihat ketakutan, gadis itu bergetar dan air mata di pipi. Berusaha keras membalut luka Muler dengan robekan kemeja tapi usaha yang sia-sia. Darah mengalir tanpa ada kata berhenti.
"Muler kau tahu tempat Bart!" Suara pelan sambil terisak.
Suara isakan Lenia menjadi-jadi, "Leon!" Mengambil gawai dari saku cardigan. Tangannya bergetar dan membuat gawai jatuh. Meraba pada bawah tempat duduk kemudi. Layar menampilkan nama 'si tua' dan terhubung.
"Leon kau tahu tempat Bart!" Suara isakan membuat Leon kesulitan mendengar.
'Lei kau katakan apa?' jawaban bingung.
'Tempat Bart sekarang?" Setengah berteriak sambil terisak.
'King of the Mouse' Lenia melempar gawai ke kursi belakang sebelum Leon melanjutkan kalimat. Menyalakan mobil, tangannya yang bergetar dan konsentrasi berkurang karena hemophobia membuat Lenia kesulitan mengendalikan mobil. Mobil melaju kasar di jalan.
Ricard keluar dari gedung perusahaan King Of The Mouse dan membuka kunci mobil antik dengan kata 'Ricard' tingkat pengenalan suara jarak jauh tersambung ke gawai. Mobil membuka pintu bagian kemudi. Melihat ke arah depan dan belakang lalu masuk ke dalam mobilnya. Mobil menyala dengan otomatis. Tanpa memegang setir pada mobil antiknya, Ricard melaju dengan sistem stir otomatis, "aku harus mengambil cuti untuk beberapa minggu!" Ingatan kembali pada tataan emosi.
Pintu depan gedung terbuka otomatis. Seorang perempuan menyambut Ricard dan dengan telapak tangan mempersilahkan menuju lift dan pintu lift tertutup.
Ricard menatap ruangan yang sama.
"Aku ingin melihat CCTV, penjelasan di mana kau berada dari kemaren?" Ricard berdiri tidak jauh dari pintu ruangan yang terbuka. Bart duduk di sofa, "kau bisa melihat sesuka hati!" Tersenyum.
Waktu menunjukan pukul 04.01 di layar mobil antik. Mobil berhenti tepat di depan gedung perusahaan King Of The Mouse milik Bart, "aku ke dalam gedung!" Muler terlihat lunglai. Pintu otomatis terbuka seorang perempuan menyambut Lenia, "Bart di ruang mana?"
Perempuan yang di tanya terlihat bingung, "tuan Bart di ruangannya, apakah ada janji?"
"Aku istrinya!" Penekanan pada kata istri. Wajah memerah dan mata sembab. Perempuan itu membawa Lenia ke lift dan mengantar gadis itu ke ruangan.
"apa pintu ini bermasalah, tolong bukakan pintunya!" Tegas dan pelan. Pintu di buka dengan scan kode khusus dari gawai dan scan seluruh badan keduanya. Pintu terbuka, Bart sedang berada di ujung meja kerjanya, dengan kemeja putih terbuka dan perempuan di antara kedua pahanya. Perempuan cantik dan sexy berbalut long dress merah dengan rambut berwarna emas. Lelaki itu berciuman dengan perempuan didepannya tanpa tahu dan peduli Lenia di depan pintu. Perempuan yang mengantar Lenia menunduk.
Lenia berbalik tapi menghentikan langkah. Akhir, berbalik lagi dan berjalan menuju arah Bart. Menarik rambut perempuan itu hingga menjauh dari suaminya. Gadis itu terlihat marah tapi tatapan mata dingin Lenia menghentikan gerakan berontaknya. Tertekan berwarna di wajah Bart. Lenia menarik kemeja lelaki itu dengan kasar, "Dengar, Muler sekarat bagaimana cara menolongnya?" Menahan marah dan air mata. Setiap kata penuh tekanan.
"Bawa dia ke cafe Moon di sana ada kolam bunga di tengah labirin. Dia cukup berendam di dalamnya!" Menatap Lenia lekat. Lenia melepas kasar kemeja Bart dan berjalan menuju pintu, "aku akan mendengar alasan setelah ini!" Melewati pintu.