Come Here Datu

Come Here Datu
Come Here Datu



      Jikalau ada awal kisah di ujung jalan maka akan kutulis ulang sebagai imbalan yang sepadan dengan perjuangan. Orang lain yang mengatakan, ada saatnya kita meneteskan air mata, dan ada saatnya senyuman di sela sebagai pengharapan. Saat do'a terkabul, akankah baik untuk hati orang lain?


      Mata rantai tertuju pada materai hati. Lorong telah menjadi tarian berkobar api. Tenggelam di dalam kegelapan, tetapi satu bayangan perlahan mendorong tubuh keluar. Saatnya berbalik dan menatap, siapa yang ada di belakang?


      "Saatnya ke kantor polisi tuan!" Polisi di belakang mereka berdua mengingatkan.


      "Aku tidak akan pergi dari kantor polisi sebelum gadisku menjemput!" Ciuman pada bibir Lenia, gadis itu menarik kecil ujung  samping toxedo Bart, saat lelaki itu berada di tangga yang sama dengannya, "jika kau tidak keluar pada waktunya maka aku akan bersama Muler!" Tatapan lekat dengan air mata.


      "Gadisku terlihat seperti anakku?" Menghapus air mata Lenia dengan punggung jarinya. Gadis itu terpaksa melepas pegangannya pada ujung toxedo. Dua polisi mengikuti setiap langkah Bart, lelaki itu menatap mobil polisi di depanya.


      "Dia seorang calon tersangka pencuri mobil!" Polisi di sebelah Bart menjelaskan.


      "Apa aku bisa menggunakan mobilku, karena aku yakin mobilku akan sedikit merepotkan!" Terlihat berpikir, "aku tuduhan atas kejahatan berat!" Berbalik pada mereka berdua, satu polisi membuka pintu belakang mobil, "kami hanya perlu menelepon mobik derek!" Tersenyum pada Bart.


      "Kalian terlalu adil dalam menyamaratakan!" Tersenyum miring, masuk dengan sukarela. Menyilangkan kaki, tersangka di sebelahnya nampak mengerutkan dahi dan tampak membuang muka dengan borgol melekat pada tangan.


      Bart menatap ke luar jendela mobil, "aku rasa bukan hanya aku menjadi tersangka," menarik napas panjang, memperbaiki toxedo, dan menatap ke depan, "akan menambah masalah?" Dua polisi di depan mereka menatap keluar jendela dan fokus ke arah depan mobil lalu menjalankannya. Di ujung tangga atas seorang lelaki terlihat mengamuk tidak ingin ikut ke kantor polisi.


      Lenia ikut dalam alur berpikirnya, Eli diam di samping gadis itu, begitu juga dengan Rey dan Cerel, ketiganya tidak berkeinginan mengusik tata letak pikiran dari seorang Lenia. Menarik napas kasar.


      "Lei apa kita tidak ikut ke kantor polisi?" Eli membuka suara, sekadar menyadarkan.


      Lenia menggelang, "dia tidak ingin aku ke sana sekarang!" Berbalik menatap Eli dan Cerel, yang duduk bersamanya di belakang.


      "Aku akan mengantar kalian ke rumah masing-masing!" Rey berkata tegas dan menyadarkan tiga gadis dibelakangnya. Anehnya tidak tampak perlawanan dari ketiganya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


      Keputusan bukan sekadar kata yang mampir tetapi sebuah peringatan dengan nasihat di dalamnya. Makna yang lusuh akan pernyataan tersurat. Di balik pintu pasti ada lubang rahasia.


      Bart dan lelaki calon tersangka pencuri di sebelahnya di bawa masuk ke dalam kantor polisi dengan dekorasi megah bulu burung enggang. Seluruh barang bawaan termasuk KTP di periksa untuk sekadar pengumpulan barang bukti. Dua kursi dan ruang kaca, dengan penanganan kasus yang berbeda pula untuk keduanya. Beberapa detektif di luar ruang kaca terlihat berbisik lalu dengan isyarat mata saling memahami. Bart duduk santai memunggungi mereka, dengan tatapan dingin ke arah polisi laki-laki yang sedang serius menghadap laptop di hadapannya.


      "Apa aku harus cukup lama menunggu waktu introgasi atau wawancaraku?" Bart memperbaiki kacamatanya.


       Pintu lift terbuka dan tubuh Ricard dengan penuh bangga berjalan ke arah ruang introgasi. Ruang introgasi siap merekam suara dan wajah. Bart terlihat menyilangkan kaki sambil sesekali memperbaiki kacamatanya.


      "Kenapa tidak ada yang berani membuka penglihatanmu?" Duduk di depan Bart dan menyajikan dua kaleng minuman dingin di depan mereka. Bart mengambil dan membuka satu kaleng serta langsung meminumnya. Meletakan pelan di meja, "aku yakin kau tidak terlalu suka basa-basi, begitu juga aku?" Jarinya di letakan pada pinggir kaleng minuman dan diputar.


      "Kau tidak takut aku memberimu racun, artinya kau siap menjawab pertanyaanku?" Membuka kaleng minumanya.


      "Kukatakan aku saksi tetapi kau berusaha melucut pakaianku!" Tersenyum bangga pada dinding di depannya, "jika aku tidak bicara maka ada cara untuk bicara, jika aku berbicara kebohongan maka akan tercium busuknya, dan bagaimana jika kukatakan kejujuran yang berlapis kue manis!"


      "Kita berbicara tentang kesepakatan, aku tidak peduli soal tersangka atau saksi kau tidak pantas masuk kategori keduanya?" Menggenggam dua tangan dan membuat gundukan di depan dagunya.


      "Kalau begitu kau ikut ke dalam permainanku, biar kukatakan tentang sebuah alasan, aku tidak memenuhi syarat sebagai tersangka karena bukti dan saksi yang kau punya terlampau kecil, dan aku tidak bisa menjadi saksi untuk gadis itu karena kukatakan aku hanya melihat mayat tidak kejadian perkara yang kulihat, kudengar dan kualami, kurasa kau sudah tahu hal itu tapi kau bumbu dengan memberiku borgol?" Tersenyum menatap Ricard.


      "Sepakat!"


      Suara ketukan lima kali pada mixrophon dari ruang kamera dan audio diperdengarkan di ruang introgasi. Isyarat yang membuat Ricard berekspresi dingin.


      "Kau punya panggilan yang mampu mengalihkanmu, karena kau memberiku minuman maka kuberi waktu 1 menit dari sekarang untuk pertanyaan pribadi!" Meneguk minuman kaleng di tanganya.


      "Saksi dan bahkan bukan tersangka maka salah besar jika kugunakan kaleng minumanku untuk membeli sebuah info pribadi milik!" Menarik ujung alis kirinya, Ricard sekerika berdiri dan menuju pintu. Hilang dibaliknya. Bart tersenyum dan dengan bangga keluar dari ruang introgasi. Pintu tertutup pelan, sebelum tangan Ricard membuka pintu ke ruang bagian kamera dan perekam, Bart berjalan ke arahnya, dua polisi berjaga di depan pintu lift.


      Keduanya saling berhadapan, "Aku memberimu sebuah pesan dariku!" Mendekati telinga Ricard, "satu tetes kau lumuri pada ujung senjatamu maka akan menjadi setajam keserakahanmu." Menjauh dari Ricard yang terlihat berpikir, Bart berjalan menuju lift, di sana tampak dua polisi berdiri tetap gagah menunggunya, langkah berhenti.


      "Jika keadaan buruk, kau harus melakukannya!" Tersenyum miring.


     Pilihan tidak membuatmu bangga malah akan membuatmu kacau. Sesaat manfaat kendali akan menjadi kuat di tangan yang lemah. Tetapi tidak ada yang salah hanya saja kurang teratur.


      Lenia terlihat gusar di atas tempat tidurnya. Mata yang berusaha di tutup malah membuatnya berontak, pada akhirnya membuka mata adalah pilihan terbaik. Larut dalam pikiran akan membuatmu membodohi mental. Membuka pintu kulkas dan meneguk air ice dari dalam botol. Tarikan nafas membuat lahan kosong untuk berpikir semakin berhektar-hektar.


      "Dia selalu berhasil membuatku terlihat semakin bodoh!" Menutup kulkas. Menuang air  ice ke dalam bak plastik kecil dan meletakan pada samping tempat tidur tepat di bawahnya. Memasukan kaki  satu di sana, menggunakan selimut dan memejamkan mata.


      Kita tidak tahu kapan mata akan menjadi hantu dan berburu di pikiran. Memamerkan taring yang tak terlihat tajamnya. Malah memperluas arena kemenangan.