Come Here Datu

Come Here Datu
Come Here Datu: Pemandangan yang Mengusik



      "Cring, cring, cring..." Bunyi dari Gelang Dadas milik tarian Dayak Ma'anyan.


Lenia berdiri di antara kerumunan.


      "Nye kaliru sa rami, tanyani! Ang neh ia?" (Seperti itu bagus tariannya! bukankah benar begitu nak?) Kata seorang nenek terdengar bangga menatap Lenia.


      "Bujur iru tak!" (Benar sekali nek!) Puji Lenia sambil tersenyum dengan raut wajah penuh fokus pada tarian. Tangannya memegang gawai, sekadar untuk membuat video. Seluruh pasang mata tertuju pada satu arah panah, tarian yang karismatik penuh alunan musik khas Dayak.


      Mata Lenia kembali tertuju pada layar gawai. Tarian memesona membuat gadis itu terdiam. Mendekatkan fokus matanya pada layar, pemandangan di sana tampak berbeda, hanya seorang lelaki menari dengan anggun dan melambaikan tarian Mandau pada tangannya. Tatapan tajam, senyuman dan gerakan penuh karismatik dalam setiap hentak. Lenia kaku, awal terlihat semakin membingungkan, beberapa penari yang dia pikir dan lihat sedari tadi kenapa berubah menjadi hutan lebat. Tarian itu seolah hanya ditunjukan padanya. Malam berhias kabut yang terpantul oleh cahaya bulan..


       "umpu, inu  ulah nu hapi nu  ri maintem. Tau mahanang tangannu negeini sika puang kaiuh midio jua." (Cucu, apa yang kamu lakukan dengan gawaimu, layarnya terlihat hitam. Akhirnya nanti tanganmu sakit, apalagi merekam video yang jelas tidak bisa.) Kata seorang lelaki tua dengan handuk kecil melilit kepalanya. Lenia tersadar dengan kata itu lalu berusaha menghidupkan layar gawainya yang menghitam dan usaha pun gagal. Gawainya tetap dalam kondisi layar menghitam walau pun sudah menggunakan kekerasan tetap tidak mampu menunjukan kehidupannya.


      "*Wuah inun?" (Kenapa?) Lanjut lelaki tua di sebelah Lenia.


      "Puang malu, hapikuna mula eter ni." (Tidak apa-apa pak, gawaiku memang sering seperti ini.) Lenia tersenyum sambil menarik nafas, "dahulu aku, kah. Katuluhni!" (Aku duluan, kek. Semuanya!) berpamitan pergi dengan senyuman. "Hiyai*!" Kata beberapa warga sambil mengangguk. Lenia berlalu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...      Seorang penyihir yang gila mengatakan, 'aku telah menjual jiwaku pada sang perusak , dia beritakan kehidupan dalam kematian. Aku terjebak oleh alam dan mengkhianati nilai batasanku. Jika jiwaku pun diberi harga maka tidak ada yang tulus di dunia kecuali kehidupan dan kematian. Waktu tetap melangkah saat kau berpikir, semua yang kamu perbuat dan perjuangkan memiliki kendali atas rasa palsu dan nyata. Semua mampu di perdagangkan bahkan kerja kerasmu sekali pun tetap di beri harga pantas berupa rasa. Membawamu pada satu titik kata, penjual dan pembeli. Apa aku salah satu penjual atau pembeli?'...


...Penyihir itu tersenyum....


      Lenia membuka mata, kini di depannya telah tersuguh sebuah pemandangan alam dengan langit malam beserta pengikutnya, "aku tertidur lagi." tubuh gadis itu terbaring di atas rumput di halaman taman. Jam tangan menunjukan pukul 00.32. "Sudah larut, kira-kira dua jam tertidur." perlahan duduk dan menatap laptop di samping tubuhnya. Cahaya kecil berwarna biru di keyboard menandakan laptop menyala. Menatap sekeliling, "tidak ada seorangpun yang membangunkan ku." menggosok mata dan menguap. "Aku lupa bahwa taman ini mengandung makna sakral, saat malam." matanya seketika membulat dan buru-buru mematikan laptop, mengambil buku  dan memasukan semua kedalam tas hitamnya. Tidak ada sinyal satu manusia pun di sana.


      Suara nafas menggema, "aku pun akhirnya lupa bahwa harus berjalan kaki ke rumah." mengacak rambutnya, "Lei kamu sangat bodoh sekali." memaki diri sendiri dengan suara bergetar menahan rasa takut. Berlari sambil menutup mulut dengan tas agar teriakan tertahan.


"Oh Tuhan tolong aku.Tuhan tolong anakmu." Panjatan do'a terdengar getir dan tulus.             


"Apalagi ya Tuhan, bulu tanganku berdiri." Suara yang bergetar. Memeluk tasnya semakin erat dan mundur perlahan. Wajahnya terlihat tegang, "jika ini takdir, aku menyesal mencari inspirasi di luar taman, tolong!" suara teriakannya terdengar pelan. "Aku bertobat, selamatkan aku!" akar pohon bergerak menuju Lenia dan membuat gadis itu terjatuh, "telungkup." mengatakan dengan susah payah. Berusaha berdiri tapi kakinya bergetar dan lemah, "astaga kaki, aku mohon ayo berdiri." Kaki yang gemetar dengan penuh perjuangan untuk berdiri. Berusaha sekuat tenaga, walupun hal itu hampir sia-sia. Menatap akar melayang kearah dirinya, akar yang begitu runcing.


      Lenia menutup matanya sambil memeluk tas. Berlari tanpa menatap ke belakang. Akar di belakangnya mengikuti, "jangan pasrah." membuka mata dan terus berlari.


     Sekelebat cahaya biru seolah percikan api dan kabut biru muncul. Tujuannya tepat pada makluk pohon di belakang Lenia. Maklum itu terlihat meleleh di atas aspal.


      Lenia berlari dan tanpa sadar melewati seseorang. Gadis itu membulatkan mata tanda terkejut. Orang itu menariknya dengan cepat, gadis itu menatap "Rey!" Lenia memukul lelaki di depannya.


      "Sudah sampai!" ekspresi wajah Rey datar. Wajahnya mengisyaratkan gang tempat tinggal Lenia.


"Kenapa keanehan selalu terjadi padaku?" Lenia menatap jam tangan, "pukul 01.20 sudah larut sekali kalau lambat di minum nanti hambar, maksudku obatku karena mungkin aku stres atau aku pasti belum puas tidur. Sudahlah besok ku ceritakan, yang pasti sekarang aku adalah seorang yang tampak tidak baik-baik saja sekarang." Mengangkat jari telunjuk dan melambaikannya, "jangan mengkhawatirkan diriku oke. Silahkan pulang tuan tidak perlu mengantarku sampai rumah." Menatap sekeliling, kata terakhir membuat gadis itu enggan menyebutkan.


Rey mengerutkan kening, "mulutmu tidak punya jeda saat takut Lei, hanya saja malam ini sedikit sial karena malah bertemu dengan gadis pelari dan mengantarmu hingga, sampai." langkah mereka berdua berhenti di depan pagar rumah berwarna putih. "Tutup pintu, aku pulang!" Rey membalikan tubuh dan melambaikan tangan singkat sambil berjalan. Lenia tersenyum, "hati-hati pintar."


     Lenia menutup pintu, membaringkan diri di ranjang, "kenapa beberapa hari ini kejadiannya semakin aneh?" Mata tertuju pada langit-langit kamar, "kuharap bukan fiksi, apa karena dia?" mengerutkan kening, "pasti bukan?" Dengan wajah menyelidik kalau menggeleng.


      Sebuah langkah terdengar sama tapi berbeda. Suara membuat sadar, Rey menghentikan langkah, "merasa menjadi sang Penyihir?" Dengan ekspresi wajah yang dingin.


...     "Kau harus selalu mengingatku dalam suka maupun duka karena aku ada untuk mendukungmu." Kata sang gadis sambil menagis dalam pelukan lelaki bermata biru, "aku akan mengingatmu dalam ranjangku...(pakk) tangan melayang dan meninggalkan sebuah bekas merah. "Kamu kira aku lagi bercanda kamu sekarat sekarang..." lelaki itu hanya tersenyum dan memeluk sang gadis lagi, "aku harus membuatmu menangis dan tertawa bersamaan." Sang gadis kaku......


     


      "Dialognya terdengar cukup bagus!" tertawa sambil bersenandung dalam kamar mandi. Jam dinding menunjukan pukul 05.18. Keluar dari kamar mandi  dengan kimono merah, dan mengeringkan rambut dengan handuk berwarna yang sama. Bersenandung adalah iringan, "sekarang di mana bukuku?" langkah menuju ranjang tapi kaki gadis itu seketika berhenti, saat setangkai bunga mawar berada di atas ranjangnya. Lenia terdiam, jendela terbuka, membiarkan angin membawa daun-daun kering masuk kedalam kamar.


...Perjanjian akan tetap perjanjian bagaimana surga (svarga) mengikat tadir makhluknya...