
Pintu keluar terbuat dari kaca dan terbuka otomatis, kaki Lenia tepat berhenti di ujung seberang. Gadis itu menatap lintas manusia didepannya. Banyak kata dari setiap hati tapi hanya satu yang tertera di wajah. Mendongak dan bayangan samar dari langit biru sebatas pandangan manusia. Samar terasa bayang seseorang berdiri di sebelahnya.
"Apa kita berdua searah?" Menatap Muler datar, anak itu mengenakan jas, baju kaos putih panjang dan celana kain serta alas slip on casual menjadi tembok kaki. Tangan kiri memegang gulungan payung.
"Lampu hijau kuyakin!" Tersenyum miring dan menggenggam tangan kiri Lenia, setengah berlari. Gadis itu terdiam. Muler melepas genggaman tangannya pelan dan menyunggingkan senyum. Keduanya saling bertatapan, "ingin ke pesta bersamaku atau bersama suamimu, kakak?"
Sekarang yang di tanya terlihat mengerutkan dahi, "sepertinya semua orang suka pesta!"
"Aku butuh pilihan jika kakak menghargai komitmenku!" Menghadap Lenia.
"Komitmenmu terlihat memaksa nak, aku berangkat dengan teman-temanku, kamu bahkan mendengar apa yang dikatakan kakek tua itu ta, maksudku Leon!" Melangkah melewati orang-orang yang sedang menikmati taman.
"Aku ingin kakak menjadi teman makan soreku!" Menghentikan langkah di belakang Lenia, gadis itu mengngikuti dengan raut berpikir.
Selalu ada dentang yang tidak mampu kita ubah, apalagi jika terlalu dalam. Dentang itu menunjukan pukul 15.25, waktu yang cukup untuk membuat dialog dan menata kata.
"Kamu sengaja memesan ice cream ukuran besar?" Keduanya duduk di taman, di depan mereka danau dengan mawar dan pohon jeruk sebagai tembok pembatas. Di tengah danau terdapat Pura, beberapa burung kecil menikmati kepak sayapnya. Aroma sore menyeruak, matahari terlihat mulai terbenam tepat di ujung Pura. Beberapa pasangan terlihat berjauhan dan mereka berdua menjadi sepasang anak SMP.
"Kakak terlihat suka ice cream, aku hanya mengambil satu sendok, tidak masalahkan?" Tersenyum miring.
Lenia memasukan satu suapan ice cream ke mulutnya, gadis itu terlihat menikmati. Muler menatap dengan tatapan datar, "bisa hentikan apa yang kamu pikirkan karena hal itu sedikit membuatku terganggu!" Menatap anak itu dengan sendok ice cream pada mulutnya.
Muler menarik sendok dari mulut Lenia dan meletakan kembali ke atas ice cream di tangan kananya, "ini kencan pertama dan akan menjadi yang terakhir dengan orang yang sama, jika aku tidak bisa memiliki komitmenmu, kakak!" Memasukan satu suapan ice cream ke mulut Lenia, gadis itu memasang wajah terkejut.
"Tidak semua hati, komitmen, raga, tubuh dan harga diri dapat kubagi gratis. Maka satu suapan ice cream ini akan terasa manis dan pahit di waktu yang sama." Memaksa tersenyum sambil menarik sendok dari mulut, "tapi hatiku selalu ini bertemu dengan seorang Muler jika bertemu dalam keadaan kedua hati saling bahagia dengan kisah berbeda." Meletakan sendok ice cream dan memberikan satu suapan pada anak itu. Muler memerhatikan sendok yang sedikit bergetar itu dan memegang tangan Lenia serta mengarahkan pada punggung tangan kiri gadis itu. Menuang satu sendok ice cream di sana dan tanpa pikir panjang serta pelan dan pasti Muler menjilat dan mencium punggung tangan Lenia, "kakak tahu jika aku hanya bisa sebatas ini menyentuh kakak maka akan kujaga dan ku hargai bagian yang ini dengan baik!" Tarian yang baik akan dicari letak kesalahnya dan tarian yang buruk akan di cari walau sedikit peluang baiknya.
"Pembicaraan kita berdua sudah mulai lari?" Menarik tangan dari genggaman Muler dan mengambil ice cream dari tangan anak itu. Suapan demi suapan menutupi mata seorang gadis yang mulai memerah. Rasa dingin menghancurkan haru yang dingin. Muler memerhatikan dengan senyum miring khasnya. Anak itu berdiri, dan mengulurkan tangan pada Lenia.
"Acara mulai jam 6 aku akan mengajak kakak ke suatu tempat." Mengedipkan mata.
Ketika sebuah dongeng dari awal kehidupan di lagukan sebagai pengantar tidur bagi seorang anak maka artinya akan sama tetapi, jika dongeng kehidupan di lagukan pada manusia dewasa rasanya akan berbeda terutama dari kisahnya.
'Jə' terpampang jelas nama sebuah merek ternama dari sebuah make up. Rambut panjang, wajah cantik terlihat anggun, dan tubuh tinggi dengan gaun hitam terlihat pas ditubuh rapingnya. Suara langkah kaki berdekorasi higt hell hitam dengan kupu-kupu biru bertahta di area mata kaki. Langkah elegan terlihat menarik, banyak pelanggan sedang di layanni baik pembelian make up maupun di make over.
"Aku bahkan belum mandi!" Isyarat tatapan pada Muler yang berdiri di sebelahnya.
"Tidak ada waktu untuk itu." tersenyum miring. Beberapa pasang mata tertuju pada mereka.
Suara lembut menyadarkan Lenia, "sayang kemari ikut dengan mamah." Senyuman ramah dari seorang penyambut. Lenia hanya menurut, sedangkan Muler melambaikan tangan. Gadis itu terus menoleh ke belakang. Mereka berdua masuk ke sebuah ruangan yang Lenia tahu bahwa itu ruangan khusus, VIP.
"Silahkan duduk sayang." Tersenyum manis. Lenia mengangguk dengan melempar senyuman yang sedikit ragu. Sebuah kaca dengan lampu pada pinggirnya. Menempelkan telapak tangan dan seketika keluar aplikasi make up dengan produk Jə. Wajah Lenia sebagai objek make over.
"Produk yang mahal aku rasa kak." Tersenyum.
"Mahal juga tidak bisa menjamin kualitas sayang, sekarang mamah akan menunjukan hasil make up yang sudah jadi bersama dengan penataan rambutmu dan nanti kamu tinggal pilih ingin yang seperti apa baru mamah bikin, sayang." Tersenyum bersama lantunan suara yang bersahabat. Mulai menggerakan layar cermin, yang pertama rambut Lenia terlihat di sanggul rapi dengan make up Flawless Bold Look, yang kedua rambut lurus dengan pita mutiara dan make up natural, "sayang kamu suka yang mana dari keduanya atau belum ada?"
"Aku tidak yakin dengan kedunya, yang pertama make upnya dan yang kedua rambutku harus, lurus." mengatakan dengan sedikit ragu.
"Kalau begitu bagaimana dengan yang ketiga?" Dan sebuah layar menampilkan tataan make up dan rambut yang membuat gadis yang menatap dirinya, tersenyum puas.
"Aku menyukai yang ini."
Membuka lemari tanam pada dinding dengan jentikan jari, beberapa Varian shampo, cleanser, masker, Foundsion, BB Cream, CC cream, DD cream, concealer, eyeshadow, blush on, bedak, contour, pensil alis, eyeliner, mascara, lips keluar bergantian, "bulu matamu terlihat panjang sayang jadi tidak perlu menggunakannya!" Mengembalikan bulu mata ke lemari tanam pada dindingnya. Mengambil bahan yang perlu sesuai tata make up pada aplikasinya.
Semua alat make up tertata di meja rias, "Kita mulai sayang ya!" Tersenyum dan ayunan lembut dimulai dengan cleanser dan berlanjut dengan masker wajah. Gerakan demi gerakan di atas varian make up, jari lentik memegang kuas.
"Apakah dia baik padamu sayang?" Pertanyaan yang membuat Lenia membuka mata almondnya.
"Dia siapa kakak?" Menutup mata lagi.
"Dia yang mengantarmu sayang?" Kuas berjalan di sekitar wajah bersama senyuman manis yang terus tersungging.