
Pikiran mulai terisi. Senyuman dinamis berayun lambat. Pemahaman terasa mulai pudar.
"Siapa yang memulai, sayang?" Suara mulai terdengar menggoda.
"Akhirnya kakak membuat sayang ini berpikir, kujawab mungkin dari kami berdua sama rata!" Lenia membuka satu matanya.
"Begitu beruntung kalau begitu sayang!" Memasang blush on orange cair pada pipi Lenia, "tidak ada perjalanan yang berjalan lancar sayang, hanya saja kita perlu dewasa dalam berpikir dengan hati dan logika." Memasang mascara pada alis gadis itu.
"Kak, jika sebuah keraguan besar di hati seseorang apa yang akan terjadi?" Menatap lurus ke pantulan matanya pada cermin.
"Kata orang semua masalah ada solusi tapi dalam hal hati akan sangat bertentangan dengan logika, yang artinya jika dengan hati semua masalah tidak semudah yang dipikirkan oleh logika, sayang!" Tersenyum manis. Scanner tangan pada punggung kursi dan sebuah rel lantai terbentuk di bawah kaki kursi, "ikuti aku, PO!" Rel terbentuk mengikuti langkah kaki yang anggung di samping Lenia, sedangkan gadis itu bergerak mundur sesuai petunjuk rel kursi. Berhenti tepat di depan wasbak berbentuk bulat, kursi gadis itu perlahan renggang hingga membuat tubuh Lenia setengah terlentang dan leher gadis itu tepat pada silikon pelindung wasbak untuk memudahkan mencuci rambut.
"Kakak kapan pertama kali bertemu dengannya?" Menutup mata menikmati tarian tangan pada kulit kepala.
"Sayang, mamah tidak ingin mengatakan kapan tapi jika saat pertama kali bertemu dia seperti hal yang tidak bisa di sentuh, begitu melindungi dirinya dari siapapun, sangat dingin dan panas di waktu yang tepat." Selesai mencuci rabut, kursi kembali tegap, handuk keluar dari lemari tanam dan meletakan pada punggung Lenia.
"Kalau begitu aku tidak tahu apa yang dia tampilkan sekarang itu asli atau palsu, kakak?" Hairdryer bulat mencuat dari arah langit-langit dan tepat di atas kepala Lenia. Gadis itu terlihat kagum.
"Semua pribadi yang di tampilkan tidak ada yang palsu, dia menampilkan sisi pribadi yang berbeda tapi dilakukan secara sungguh-sungguh sayang!" Tersenyum melihat rambut Lenia di oleskan vitamin oleh tangan robot yang keluar dari sandaran kursi.
"Kalau begitu presepsi memang tidaklah salah yang salah jika manusia terlalu mengandalkan presepsi tanpa menjadikannya hal yang nyata, kak!" Rambut gadis itu perlahan di tata.
Anggukan lembut sebagi balasan, "sayang jika kamu pulang untuk berganti baju sepertinya tidak cukup waktu, lagipula tatan rambutmu akan rusak selama perjalanan." Tersenyum menggoda.
"Artinya aku minta tolong padanya untuk mengambil bajuku, aku tidak akan melakukannya kak!" Tersenyum dan mengeluarkan gawai dari tas yang sedari tadi masih bergantung di tubuhnya, 'El aku butuh pakaian untuk ke pesta malam ini hanya saja aku sekarang ada di Jə!'
"Sayang katakan padanya bawa kebaya maroon!" Meletakan make up pada lemari, dan membuang spons pada lubang yang mengarah ke pembuangan sampah di belakang toko serta memasukan kuas ke dalam kotak besar pencuci kuas khusus tertanam di dinding pojok ruangan. Lenia menatap sekilas dan mengetik, 'bawakan aku kebaya maroon El!'
Selang brberapa menit, sebuah suara gawai menyadarkan keduanya dari laku masing-masing, 'aku ke sana sekarang.' Lenia tersenyum puas.
Banyak pasang mata mengarah pada Muler yang duduk di ruang tunggu, suara berbisik hampir jelas terdengar, dan terlihat jelas bahwa anak itu tidak memedulikan hal itu. Tanganya santai menggerakan layar gawai.
'Aku ingin kamu berburu sesuatu malam ini!' Pesan yang membuat Muler menatap tajam pada arah pintu keluar.
'Aku ada urusan, bersenang-senanglah aku sudah membayar untukmu!' Singkat bagi Lenia untuk paham. Menarik napas panjang, "dia pergi!"
Muler berdiri di depan Jə. Eli keluar dari mobil antik kuning, "aku hanya sebentar kalian tunggu saja di sini oke!" Berlari kecil masuk ke Jə dengan kebaya maroon bermotip beras dan high heel serupa. Tangan membawa sebuah tas uei berukuran sedang. Rey hanya menggelengkan kepala, lelaki itu mengenakan jas toxedo merah lengkap. Pintu mobil tertutup otomatis. Cerel menampakan setengah tubuh melewatkan kedua kursi, sekilas terlihat tubuhnya berbalut kebaya maroon bermotip bangau.
Pintu terbuka untuk Eli, "ruang VIP, aku menanyakan namamu dan mereka mengenalmu sebagai tamu VIP, bahkan sudah lunas pembayaran, apakah kita perlu bangga dan tepuk tangan atas kekayaan ini?" Menatap Lenia yang sedang berdiri menatapnya.
Pintu tertutup, "Sayang dia membutuhkan kebaya aku rasa itu yang paling dia butuhkan sekarang!" Suara lembut dari balik Eli dan gadis itu menatap pantulan di cermin.
"Jhonson Emon!" Eli kaku tapi terlihat jelas jika dia bahagia dengan dua baris nama itu.
"Bukanya pemilik merek ini memang itu, aku yakin kamu senang sekali El karena ini merek kesukaannu bahkan kamu nengidolakan sosok yang membangun merek Jə ini." Lenia membuka pakaian dan menyisakan pakaian lapis dalamnya.
Lenia terdiam, "kakak sebenarnya laki-laki!" Suara gadis itu meninggi.
"Sayang aku bahkan tidak tahu jika ada yang tidak tahu jenis kelamainku!" Tertawa lepas dan Eli hanya menutup mata dengan tas uei tanda malu yang mendarah daging.
"Kak aku minta maaf, aku benar-benar tidak tahu." Lenia terlihat memelas. Keluguan yang kacau.
"Ini sangat lucu, mungkin karena mamah suka berpenampilan seperti ini dan suara sekilas seperti perempuan akhirnya banyak yang tertipu." Menghapus jejak air mata karena tertawa lepas.
Menuju Lenia, "kemari bawakan kebayanya!" Tersenyum lembut. Eli menuju kedunya dan memberikan tas uei.
"Padahal mamah Emon, aku mendengar kabar bahwa mamah masih di Bali kemarin dan sekarang malah di sini membantu anak ini mah." Menatap Lenia.
"Ada seseorang yang ingin aku temui jadi aku kemari lebih awal, sayang." Membantu memasangkan kemben di tubuh Lenia.
"Aku memanggilnya kakak dari tadi El?" Terlihat bingung.
"Mamah Emon suka di panggil mamah, Leiku!" Senyum memberi pemahaman. Lenia hanya mengangguk.
"Kalian berdua begitu akur, ya sayang!" Tersenyum pada keduanya.
"Sebenarnya tidak juga mamah, karena di depan dan belakang panggung akan sangat berbeda!" Terlihat senang.
Eli meletakan pakaian awal Lenia ke dalam tas uei. Ketiganya berdiri di depan cermin, kecantikan mereka terlihat alami dengan tonjolan tipis dari make up.
Pintu keluar terbuka, Lenia dan Eli keluar di antar oleh Emon hingga ke parkiran mobil di samping marketnya.
"Kapan-kapan kami akan kemari mamah!" Pamit dengan pelukan singkat. Pintu mobil terbuka otomatis, "kakak Leilei!" Panggilan kecil dari Cerel.
"Belum cukup pegal untuk menunggukan?" Eli tersenyum.
"Mungkin tidak karena aku pikir kalian akan berulah bukan sekadar memasang baju." Rey tersenyum.
"Kami berangkat mah." Eli dan Lenia masuk ke dalam mobil.
"Mamah menunggu kunjungannya, sayang!" Tersenyum dan lambaian tangan sebagai pengiring ketika mobil mulai bergerak.
Langkah kaki Muler berhenti di samping Emon, "bagaimana?"
"Aku tidak akan berkomentar, itu saja dariku, dia sangat manis, kuambilkan fotonya untukmu, sayang!" Mengedipkan mata dan tersenyum pada Muler di sampingnya. Suara gawai anak itu berbunyi.
"Kuanggap artinya iya!" Anak itu menyunggingkan senyum, menatap layar gawainya, "satu makhluk pasti menyukai foto gadis ini."