
'Saat ini aku tidak tahu apa yang kupikirkan. Aku hanya merasa semua yang telah kubangun kosong dan runtuh. Sekarang hanya keinginan daging yang paling kuharap. Dia menggodaku dengan bisikan bodoh. Dan aku terlanjur menjerat leherku sendiri.'
Suara nafas, ciuman, pegangan, tatapan serta bisikan adalah modal sebuah nafsu di dalam dunia. Sekarang dua pasang manusia memilikinya. Hujan dan malam bagian terbaik untuk pelampiasan.
Bardt memulai dan jelas terlihat tidak akan pernah mengakhiri dengan irama yang mudah, "Kau bisa!" Semua yang ingin diucapkan Lenia tertahan oleh suara kecil yang keluar di sudut ucapannya. Di tengah nafas, seorang gadis akan sesak saat semua dimulai karena tidak menentu akhirnya.
Tubuh kecil Lenia menghantam dinding lembut, masih dalam pelukan. Suara nafas memburu. Jilatan pada bibir kecil gadis itu. Tatapan semakin sendu dan semua menjadi takdir yang bernama keinginan. Wajahnya memerah di balik lampu temaram.
"Benar-benar gadis nakal!" Bardt menarik kaki kanan Lenia, hingga posisi melingkar pada tubuh lelaki itu. Senyuman miring tersungging. Ciuman turun ke leher Lenia. Pegangan lembut dan kasar pada kedua dada gadis itu. Bardt mengeratkan pelukan dengan tangan kirinya. Ciuman panas dari lidah turun ke dada Lenia. Bardt merobek nightie milik gadis itu.
Ciuman demi ciuman di sana. Lenia memeluk erat kepala lelaki itu, antara terkekang dan pasrah atau terpesona pada tarian malaikat. Semua pikiran telah lengah.
Kaki kiri Bardt di gerakan lembut di tengah tubuh sensitif Lenia. Menutup mulut agar suara kecilnya tidak terdengar. Namun, itu malah membuat lelaki itu menggila.
Bardt membuka kimononya dan menurunkan Lenia. Membuat tubuh gadis itu membelakanginya. Kedua tangan Lenia ditekan ke dinding, tepat di atas kepala gadis itu, "bentuk yang sangat ku suka dari dirimu Lei!" Telapak tangannya turun dari leher hingga ke bagian belakang tubuh Lenia. Merobek nightie gadis itu hingga tidak bersisa. Semua lekuk terlihat jelas memesona di bawah cahaya lampu.
Bardt mencium telinga Lenia dan tangan kanan bergerak di bawah tubuh gadis itu dengan ketukan tanpa nada. Suara kecil gadis itu terdengar semakin jelas dan menggema, "aku!" Tubuh Lenia bergetar hebat, dengan sisa pikiran untuk menahan suara.
Tubuh bagian bawah Bardt bergerak pelan dan mulai kasar. Air mata Lenia menetes dari seorang gadis yang mempertahankan gelarnya dan sekarang telah runtuh. Semua rasa menghantam syaraf. Darah terlihat memenuhi bagian bawah Bardt. Melepaskan ciuman dari bibir Lenia dan beralih ke punggung gadis itu. Tubuh Lenia bergetar dan suara panjang terdengar lagi.
Membalikan tubuh Lenia dan mengangkat gadis itu lalu menjatuhkannya pelan di atas tempat tidur. Lenia terlihat menutup kedua mata dengan tangan. Bardt menarik tangannya dan menahan diatas kepala gadis itu. Mencium leher Lenia. Wajah gadis itu terlihat memelas.
Bardt memasukan tubuhnya lagi pada Lenia. Gerakan kali ini benar-benar kasar. Ciuman semakin panas pada dada gadis itu. Gigitan lembut pada leher, hingga mengeluarkan sedikit darah. Gadis itu mencapai dimensi warna yang sulit untuk dijelaskan, hal yang berulang-kali.
'Aku tidak bisa menjadi kebutuhan siluman ini. Dia kasar dan lembut, semuanya membuatku ingin, lepas dari perjanjian itu!' Lenia menutup matanya perlahan. Suara air hujan lebih deras.
Perlahan membuka mata, Lenia duduk. Selimut bulu jatuh dari tubuh bagian atasnya. Tubuhnya kini tanpa sehelai bulu untuk menutupi. Jejak ciuman terlihat mulai merah keunguan. Pada leher gadis itu terlihat sedikit bekas gigitan. Lenia menatap sekeliling. Ingatan yang membuat gadis itu menutup mukanya.
"Kalau bertemu siluman bajingan itu, akan aku kuliti, dasar pintar. Pergi dengan enak, memang laki-laki berengsek!" Mengeratkan gigi. Membuka selimut, dia terdiam. Menarik nafas menatap tubuh bawanya. Tidak ada bekas darah yang tersisa pada lantai, seharusnya akan meninggalkan bekas tetesan darah pada lantai tapi di selimut bulu meninggalkan sedikit jejak kehitaman tanda darah telah mengering, "siluman menyukai darah?" Memegang leher bekas gigitan, "apa yang terjadi jika dia tahu apa yang telah dilakukan bocah itu padaku?"
Aku hidup dalam hal yang sulit untuk dilihat oleh orang lain. Dan hanya beberapa orang yang menyadarinya. Semua orang terlihat menikmati hidup mereka tanpa beban, walau kita tidak pernah tahu jejak apa yang mereka buat. Kau harus tahu bahwa waktu membuatku berhenti seperti mereka. Tekanan yang kuat membuatku ingin mengakhiri semuanya. Namun, waktu juga yang mempertahankan hentakan takdir untukku.
Hematophobia adalah hantu yang kasar. Setitik darah membuat tubuhku kaku, bergetar dan hal itu menjadi pikiranku kosong. Menangis karena hal itu mengerogoti mentalku. Aku harus selalu berdiri bersama trauma dan fhobia yang kupunya serta berjalan searah untuk memutus garis ketakutkan agar tetap hidup. Semua harus mampu ku atasi perlahan.