
Gadis itu memejamkan mata pelan lalu membuka keduanya dengan cepat. Seperti semula, sunyi seolah hanya bayangan dari tidur singkat. Tidak ada lagi banyangan aneh di sekeliling kemahnya dan hanya suara jangkrik yang terdengar.
Lenia mengambil senter dari dalam ransel, membuka kemah pelan dan menyalakan senter lalu menutup kemah. Senter tertuju ke segala arah hutan. Gadis itu melangkah seperti tertarik pada arah riam. Dari beberapa langkah membuatnya berhenti, sesuatu terasa seperti mengawasi dari balik atas pohon. Langkah yang pasti, tatapan sinis sebagai pendukung keberanian. Rambutnya semula terikat sudah sedikit berantakan. Kaki berhenti, riam seolah membuat tatapan misterius baginya. Senter terarah ke segala sisi riam. Menajamkan tatapan pada arah bebatuan.
Gadis itu menatap bayangan berbentuk dirinya di air, hal yang tidak akan pernah mungkin terjadi saat malam apalagi posisi senter tepat di bayangan itu. Terlihat jelas dari bayangan itu terbentuk sebuah tangan yang terulur mengarah ke Lenia dan membuat gadis itu tersadar. Sebelum tangan itu menyentuh kakinya, dia berlari. Bekas sentuhan meninggalkan lendir putih pada batu.
Tanpa suara, tanpa kata dan tidak peduli apapun, yang Lenia tahu hanya harus lari untuk sekarang. Menghentikan langkah, suara napas terengah-engah dan tangan berpegangan pada pohon. Suara-suara burung bercampur dengan suara buas dari binatang lain di gunung itu. Gemuruh terjadi pada setiap pohon. Dia mengarahkan senter pada satu tujuan di depannya, untuk kemah.
Kali dan kali serta beberapa kali dia berlari, posisi gadis itu malah berputar, dan kembali pada tempat yang sama, "pohon ini!" Terbata. Keringat menetes, ikat rambut terjatuh di atas tanah. Gadis itu bahkan tidak peduli dengan rambut ikalnya. Lari adalah ketakutan dan kemah adalah jalan pelindung terbaik baginya. Kembali pada posisi awal, memukul pohon dan bersandar. Pegangan pada senter melemah, ketika hampir terlepas dari tangan, sebuah sinar lampu kemahnya terlihat dari arah samping kiri. Sebuah kesempatan terbaik.
Lenia tanpa pikir panjang lalu berlari menuju arah yang terpikir olehnya adalah kemah. Kaki gadis itu berhenti ketika cahaya yang dilihatnya ternyata sebuah istana megah terbuat dari emas. Pohon berubah bentuk menjadi pagar berwarna yang sama. Semua pohon terlihat membentuk sebuah jalan panjang, bahkan akar terhampar rapi seolah karpet, gabungan antara warna cokelat dan hijau. Lenia menelan air liur dan berbalik. Di belakangnya dua makluk hitam di lihat olehnya di riam, mendekat. Gadis itu tetap dalam posisi. Seorang nenek tua dari belakang Lenia terlihat mengibaskan tangan hingga membentuk kabut hitam dan membuat gadis itu melemah. Tubuhnya jatuh di atas akar yang perlahan terlihat bergerak, pintu gerbang terbuka sendiri dan membawa nenek, dua makluk hitam dan tubuh Lenia masuk. Pintu gerbang tertutup, nenek tua berubah wujud menjadi gadis cantik dengan rambut panjang, mengenakan long dress terbuka dari bulu tingang berwarna ungu, hiasan emas pada mahkota, kalung, ikat pinggang dan lingkaran gelang berbentuk ular yang sama, cobra.
Kolam khusus bertabur bunga. Sekali kibas dari tangan gadis ular, pakaian Lenia terjatuh di lantai batu. Lenia hanya mampu mengedipkan mata. Tubuhnya di letakkan pelan oleh dua pengawal ke dalam kolam dan hanya menyisakan bagian kepala dalam posisi setengah tertidur di bebatuan pinggir kolam.
Beberapa dayang memandikan Lenia. Gadis itu seolah menurut.
Di atas singgasana berbentuk dua rusa saling memunggungi. Rusa emas dengan empat tanduk. Seorang lelaki tampan dengan mahkota emas berbentuk simpulan tali, rambut putih panjang terjatuh di tubuh kekarnya, telinga runcing, tatapan mata sendu dan wajah tampan tertanam jelas. Kenakan jubah bulu berwarna putih tebal, lilitan kain serta celana panjang berwarna emas. Di tangannya tuak, "bagaimana pengantinku, Kalia pendapatmu sebagai ratu para ular menurutku sangat penting?" Menatap tuak di gelas emas di tangannya yang mengeluarkan asap kecil berwarna putih.
"Sangat menarik dan sudah kami siapkan manusia itu untuk tuanku Uria Roles, akan tetapi tuanku Uria dari baunya," Kalina menghentikan kalimat. Gelas berubah bentuk menjadi tuak dan menetes di tangan.
"Bergelar gadis atau tidak bukan masalah asal manusia!" Ekspresi datar.