Come Here Datu

Come Here Datu
Come Here Datu: Hubungan yang Semakin Mengkhawatirkan



      Bunyi sirine mendekat, melewati mereka. Lenia tiba-tiba mengeratkan pegangan pada toxedo Muler. Anak itu tetap diam dan melanjutkan langkahnya.


      "10 menit lagi kita sampai!" Sedikit menaikkan posisi tubuh Lenia keatas. Wajah Lenia semakin dekat ke leher Muler. Lenia menelan air liurnya.


      "Aku bisa berjalan sendiri!" Ucap Lenia pelan. Wajah gadis itu malu, terlihat menghindar dari tatapan Muler.


      "Kalau begitu!" Melepaskan tubuh Lenia. Gadis itu kini dalam posisi berdiri, "jalan!" Kepala sebagai isyarat dari Muler.


      Anggukan adalah jawaban, satu langkah di mulai, ketika kaki kiri  menginjak tanah ekspresi Lenia berubah total. Raut wajah terkejut tampak jelas, tertimpa dengan ekspresi menahan rasa sakit. Namun, mencoba tetap berjalan sambil menutup mulut agar tidak mengeluarkan suara rintihan. Langkah pelan dan tertatih.


      "Pada dasarnya kamu memang gadis yang tidak dewasa!" Muler dengan cepat mengangkat tubuh Lenia. Gadis itu dalam pelukan tangannya untuk kedua kalinya, "menyerah?" Menatap dingin.


      "Bocah, kamu tidak akan melepaskan ku di jalan dengan begitu saja, kalau misalkan kakimu sakit?" Menatap Muler dengan mata berair.


      "Aku tidak akan melakukannya kalau kakak mau mencium ku?" Mendekatkan pipi ke Lenia.


      "Aku dari tadi ingin bertanya satu hal, bocah kamu mesum dari lahir atau dari lingkungan?" Ekspresi Lenia mulai membaik.


      "Menurut orang dewasa seperti kakak bagaimana?"


      "Dari lahir!" Menyelidik.


      "Aku akan memperlihatkan bagaimana mesum sejak lahir itu!" Menatap Lenia sambil tersenyum miring. Gadis itu memasang ekspresi penuh tanya.


      Di bawah cahaya bulan. Ruang cafe tampak remang. Rey menatap ke luar jendela kaca, menikmati seteguk kopi hitam yang masih panas sambil duduk dengan menyilangkan kakinya.


      "Benar-benar sudah di mulai!" Meletakan cangkir di piring kecil pada meja. Jari kanan membuat lingkaran di bibir cangkir.


       Memberi untuk menerima atau diberi untuk diterima. Manusia kadang serakah dengan keinginan. Jangan karena satu alasan maka berhak untuk memberi. Alasan, manusia jadikan pembohongan keji. Agar dapat memeluk dunia yang hadir sesaat untuk dirinya.


      "Pintunya!" Lenia tersadar dan membuka pagar rumah dengan tangan kiri. Masih dalam pelukan Muler. Menutup pagar lalu mengunci. Anak itu menatap sekilas rumah Lenia.


      "Rumahku kecil jadi maaf, setelah mengantarku kamu harus segera pulang!" Sinis.


      "Kalau rumah masih bisa menghirup oksigen, artinya semua orang berhak hidup didalamnya. Bagaimanapun bentuk nya kan?"


      "Bagaimana kau tahu rumahku. Padahal dari tadi aku belum memberitahukan mu, penguntit?" Mengerutkan dahi.


      Muler menarik nafas, "aku mengantar bunga pada pemesan bunga yang kau tinggal tadi." Ekspresinya terlihat datar.


      "Kenapa aku merasa dua bajingan sedang bekerja sama." Berbisik dengan nada sinis, "walau tahu rumahku bukan berarti kebetulan bertemu di jam sekarangkan?" Menatap toxedo Muler.


      "Aku tidak akan menjelaskannya sekarang!" Diam. Baik di depan pagar dan di depan rumah tidak ada cahaya lampu.


      "Kau memanggil ambulance tadi?" Menarik nafas panjang lalu menghembuskan pelan.


      "Aku hanya menunjukan belas kasihan!" Mereka berhadapan dengan pintu rumah.


      "Kakak seharusnya duduk terlebih dulu!" sebelum peringatan, Lenia sudah lebih dulu duduk di sofa. Kakinya terlihat bengkak. Muler menuju dapur dan mengambil botol air ice. Berjalan menuju sofa, duduk di lantai sambil mengangkat kaki Lenia. Meletakan botol tepat pada bengkak kaki gadis itu.


      "Bocah setelah kamu menelepon ambulance tadi,  kamu langsung membawaku yang sedang pingsan, kenapa tidak menunggu di sana?" Siku di paha, sebagai penyanggah dagu.


      "Kakak tidak ingin menimbulkan masalah kan?" Menuang air ice ke kaki Lenia.


      "Bagaimana dengan CCTV dan Black Box mobil dan truk?" Melihat teliti gerakan tangan Muler di kakinya.


      "CCTV rusak dan mobil serta truk itu tidak memiliki black box. Lagipula orang yang memiliki mobil merah itu lagi mabok berat saat menyetir?" Menggoyangkan kaki Lenia.


      "Sakit pintar, bagaimana kamu tahu dia mabok, kamu mendekatinya?" Lenia bergidik lalu menutup mata dengan tangan.


      "Tidak perlu membahasnya lagi!" Menatap Lenia.


      "Aku mengatasi traumaku seperti dengan membahasnya, jadi jangan tersinggung. Aku harus berpura-pura melihat segala sesuatu seperti itu sebagai sebuah cerita dari novel!" Lenia menatap kosong, "anggap saja kita bercerita tentang novel!" Mencoba tersenyum.   


      Muler meletakan botol di lantai, "sprained ankle hanya terpelintir, teleponmu!" Menunjuk dengan isyarat wajah ke arah samping Lenia. Gadis itu menatap cepat ke tasnya.


      Sebuah teriakan singkat, Lenia seketika menutup mulut. Muler menggunakan kesempatan untuk menggerakkan cepat pergelangan kaki Lenia.


      "Kamu mau membunuhku?" mengangkat kakinya.


       "Sepertinya kurang tepat kalau di sini untuk tempat membunuh, perban kompresi dan elevation sepertinya tidak perlu!" Berpikir.


Memberi botol ice pada Lenia dan duduk di samping gadis itu. "Sakitnya mungkin masih ada tapi dengan cara tadi sembuhnya lebih cepat!"


      Mengambil botol paksa dan berdiri pelan. Memberanikan diri melangkah dengan kaki kiri lebih dulu.


      "Rasa sakitnya berkurang." Bolak balik berjalan di depan Muler, "terima kasih, bocah ternyata kamu tahu banyak tentang kedokteran!"


      "Yang kulakukan tadi sangat berbahaya tapi karena hanya aku yang bisa melakukannya sekarang, kurasa tidak apa-apa dilakukan ke kakak." Tersenyum.


      Tertegun, "aku tahu itu sebagian dari memberi racun untuk menyembuhkan, kamu boleh menginap malam ini lagipula sebentar lagi hampir pukul satu. Hubungi orang tua mu, mereka pasti khawatir!" Wajah Lenia tampak serius.


      "Ku kira kakak mengusirku?" Polos.


      Tatapan sinis, "Aku berpura-pura tidak mendengar, aku ke kamar dulu, dan kalau mau sesuatu liat di kulkas mungkin ada makanan." Lenia melangkah menuju pintu kamar tetapi masih tertatih, "belum mandi!" suara pelan.


      Muler tersenyum miring, "akan ku pikir baik-baik, sarannya!" Menatap pintu kamar yang menutup.