
Kaki seorang gadis menyentuh batasan lobby penginapan. Lantai marmer, cahaya lampu orange di setiap sisi jalan taman. Bart berdiri diantara lantai marmer, tatapan tertuju pada ruang tamu penginapan yang terbuka. Ricard duduk menatap dengan penuh senyuman. Bart memberi balasan dengan tatapan dingin dan senyum miring tersungging sebagai pernyataan.
Lenia berjalan di antara marmer. Langkah gadis itu pasti melewatkan Bart.
"Sebagai seorang istri kau tidak mau menunggu suamimu?" Masih pada posisi.
"Untuk apa aku menunggumu?" Nada itu terdengar sinis, dan tidak peduli. Kaki terus melangkah. Tidak ada waktu yang sulit untuk di jelajah oleh seorang manusia kecuali waktunya sendiri.
"Tunggu, pertanyaannya kenapa harus berdiri di belakangku!" Lenia mendongak, Bart di belakangnya, "kau tidak kembali ke kamarmu?" Mengerutkan dahi.
"Aku tidur bersama istriku." Membuka telapak tangan dan kunci kamar Lenia disana.
"Kunciku." Tas gadis itu tampak terbuka.
Pintu kamar Lenia menganga. Bart masuk lebih dulu ke kamar, "mauku jemput dari situ?" Tersenyum miring.
"Si pintar ini!" Menutup pintu, "kamu mau apa?" Bart terlihat sedang membuka lemari.
"Handukmu, aku ingin mandi. Ingin mandi bersamaku?" ekspresi yang misterius.
"Terima kasih banyak tuan atas tawarannya." Duduk di atas tempat tidur. Melepas sepatu, "untung sepatuku bersih." suara kecil.
Bart berjongkok di depan Lenia. Pinggang hanya terbalut handuk, tampak terlihat jelas barisan otot, "aku akan sangat marah jika, istriku mempersilahkan laki-laki lain dengan senang hati ke kamarnya." Berdiri dan mencium bibir Lenia. Gadis itu menarik nafas, "aku harap juga begitu." Jawaban kecil dan terdengar sebuah keraguan.
Penerang ruangan temaram. Lenia membungkus diri di atas tempat tidur. Posisi miring ke arah jendela kamar. Jendela kayu dengan penataan rapi. Mencoba menutup mata.
Bart mengeringkan rambut dengan handuk. Tubuh tidak mengindahkan sebuah kain, godaan terlihat terpajang sempurna, dan duduk di pinggir tempat tidur. Lenia membungkus seluruh bagian tubuhnya dengan selimut. Bart meletakan handuk di meja samping tempat tidur. Masuk ke dalam selimut, tubuh kokoh menyentuh gadis itu. Membuka paksa selimut Lenia, "kamu bisa mati di dalam selimut Lei. Aku tidak akan melakukan apapun malam ini." Memeluk gadis itu yang penuh dengan keringat. Lenia perlahan memejamkan mata.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Benar semua bermula dan berawal dari dirinya. Gadis itu menatap sendu jendela kamar. Semua yang ada diluar hampa dan kosong dan tidak ada sisa bagi kehidupan. Bernafas malah menghancurkan paru-paru. Terlihat jelas yang hidup baginya mati. Berdiri di atas gurun pasir.
"Aku harus memohon padanya." Air mata mengalir. Di tangan gadis itu terpampang jelas sebuah kertas bersegel. Dua buah nama tertera jelas di sana. Tepat di tengah hutan, gadis itu menghentikan langkah. Melepaskan kertas di tangannya. 'Lenia Klar & Bart Klar' nama sepasang pengantin tersegel pada kertas putih.
Dari jauh terlihat susunan batu berbentuk Jukung Panyang Suei (perahu khas Dayak dengan ujung depan berbentuk kepala naga dan ujung belakang burung tingang serta tubuh perahu penuh sisik) berdiri gagah di atas tanah. Bunga dan tanaman menjalar menjadi pelengkap design pada tubuh perahu.
Gadis itu menaiki tangga perahu yang terbuat dari batu dan hiasan alam yang sama. Tepat di depan Lenia seorang pendeta cantik menunggu dengan Alkitab di tangannya. Sebuah meja berhias kain putih bermaterai mawar kecil berwarna biru. Pendeta itu menatap dengan senyuman.
'Apa yang ku pikirkan sekarang seakan.' Suguhan terbaik untuk hati yang berkarat.
Bart meletakan tambahan setangkai mawar biru di atas altar itu. Melangkah ke arah Lenia. Pakaian putih terlilit rapi pada tubuhnya, hingga menyentuh tanah. Bulu Enggang kecil berbaris rapi dan menumpuk memberi kesan dekorasi mewah. Rambut pendek acaknya tertata rapi. Kesan sempurna untuk seorang penggoda. Mengulurkan tangannya pada gadis itu.
Lenia terlalu kaku untuk berdialog. Apa yang tampak di mata seolah-olah ritual yang paling menakutkan. Terlalu cepat untuk terjadi, gadis itu bahkan sekarang masih mengenakan nightie putih berjalan ke hutan dan tanpa sebuah alas kaki. Demi menjalankan perjanjian, yang bernama 'pernikahan' yang ingin dia batalkan.
Lenia menerima uluran tangan itu. Setiap langkah membuatnya bingung. Namun, Setiap jejak seakan memberi restu. Aroma mawar memenuhi alam yang terbuka.
'Semua manusia dan diriku tidak jauh berbeda, semua makhluk pasti memiliki duka. Namun, apa ada yang salah jika di hari pernikahan, dia berani menangis dan tersenyum bersama pasangan sehidup-sematinya.' Bart menghadapkan tubuh Lenia padanya, dua mata saling berbagi tatapan. Tangan kanan lelaki itu perlahan memegang tangan kanan Lenia dan cahaya putih bersama kabut membentuk lingkaran pada jari manis kedunya. Namun, lingkaran cahaya itu menghilang dan seolah masuk ke dalam jari.
"Karena selalu ada pernikahan yang tidak akan mampu dipisahkan oleh manusia!" Bart tersenyum miring, gadis itu menikmati ucapan yang mungkin akan dipertahankan pada memori jangka panjangnya.
Pendeta berdiri di balik meja.
"Pernikahan ini tidak akan mendapat restu dari-Nya." Mata Lenia sendu, dengan suara berbisik.
"Pernikahan dilakukan sepasang dan kita sepasang. Dia akan memberi restu Lenia." Pernyataan sulit dan mudah di tentang.
Pendeta membacakan Nast dari Kidung Agung 8:6. Tanpa tahu bahwa salah satu yang ada di hadapannya bukan manusia yang utuh. Bagi seorang pendeta pernikahan adalah kesepakatan tanpa adanya larangan dari manusia. Pernikahan itu sakral bagi mereka yang sepasang.
"Hidup adalah hidup. Mati adalah mati. Bapak ikatkan kami sebagai takdir. Mawar biru menjadi perjanjian kami. Senyum dan tangisan 1000 tahun. Hingga kisah kami tak bisa di nyayikan. Kami adalah satu tubuh yang juga memakan buah surgawi. Kami terpisah oleh ketidak bahagiaan. Dipersatukan oleh takdir air mata. Kami harap kasihmu menjadi restu kebahagiaan hingga akhir zaman. Banyak yang telah meninggalkan tubuh begitu lah perjanjian kami dibuat, hingga saat titik tak lagi terlihat." Ciuman pada bibir Lenia. Matahari cincin seperti lukisan pengiring di langit hari itu. Pernikahan mereka tidak ada orang terdekat Lenia yang tahu.