Come Here Datu

Come Here Datu
Come Here Datu



      Suara pagar terbuka dan motor yang berhenti di samping rumah kecil Lenia. Bart masuk ke dalam rumah, di tangan mengantung tas uei disambut dengan pemandangan seorang gadis yang terlihat sibuk membuat ayam masak kuning pada dapur kecilnya.


      Mata tertuju pada tas uei (rotan) di tangan Bart, "air kusiapkan dalam bathup, dan handuk di lemari!" Lelaki itu mendekat dan mencium pipi Lenia. Menjauh dari gadis itu, di tangan masih membawa tas berisi pembalut. Berbalik arah menuju kamar, meletakan tas uei (rotan) di dalam lemari, mengambil handuk biru, dan masuk ke dalam kamar mandi. Suara air terjatuh di lantai kramik putih dengan sedikit corak biru, Bart memejamkan mata dengan bersandar di punggung bathup.


      Lenia meletakan potongan ayam masak kuning ke dalam piring, mengambil nasi dari rice cooker, sambal sarai (serai) di piring kecil, air ice dari kulkas, dua gelas dan dua piring dari rak, satu kobokan, dan meletakan semunya di atas meja makan. Gadis itu berjalan menuju kamar, sedikit ketukan pada kamar mandinya, "aku tunggu di meja makan!" Membuka mata dan tatapan pada pintu yang menggema, Bart tersenyum miring di bathup.


      Bart mengenakan handuk biru pada pinggangnya. Rambut tampak masih basah, dan dengan bangga berjalan ke arah dapur dan duduk di kursi makan. Lenia mengedipkan mata berkali-kali, "pemandangan tampak tidak asing?" Menarik napas dan mengehmbuskan pelan.


      "Kamu membawa laki-laki ke sini?" Meletakan nasi ke dalam piring dan mencuci tangan di kobokan.


      "Aku tidak melakukanya!" Suara Lenia meninggi, "anak laki-laki dan temanku!" Ragu.


      "Aku suka ayamnya!" Terdengar seperti pengalihan. Satu paha ayam tergigit rapi dengan anggun.


      Lenia menatapnya datar, tangan gadis itu yang sudah masuk ke dalam kobokan, membuat satu suapan nasi dan sambal masuk ke dalam mulut.


      Suara piring dan gelas terdengar saling menabrak saat di atas kitchen sink. Bart mencuci piring dan Lenia meletakan di atas dish dryer.


      "Phobiamu parah?" Air menyentuh piring.


      "Kau tahu!" Bart tampak serius mendengar tanpa memerhatikan Lenia yang juga fokus pada piring di tangan, "Stres berlebih karena phobia darah tapi sedikit bersyukur saat mengalami PCOS!" Tersenyum simpul.


      "Polycystic ovarian syndrome, mengalami amenorrhea!" Lenia menganggu setuju. Bart memberikan gelas pada gadis itu.


      "Tetapi 3 bulan ini aku mengalami haid yang terbilang normal!" Senyum sedikit mekar.


      Cahaya menembus jendela, Lenia terlentang dengan mata tertutup. Eli berada di sebelahnya. Keadaan Lenia tampak lemah.


      "Terapi lebih menjamin kesembuhan, dia mengalami kejadian  yang memengaruhui pola ingatannya dan itu membekas. Pingsan, muntah, sesak nafas, tubuh lemah dan bergetar saat bertemu dengan darah bahkan setetes darah. Kamu mengawasinya Rey dan memberitahukanku akan hal itu?" dr. Alan Grace R berbicara dengan Rey.


      "Eli yang mengawasinya, aku hanya takut dia mengalami dismenore, Alan!" Fokus pada dokter di depannya.


      "Kamu tidak akan mungkin membawanya kemari, penanganannya jelas berbeda Rey!" Alan Grace R adalah seorang dokter spesialis yang menangani tentang kesehatan jiwa, psikaitri.


      "Dia manusia yang tidak ingin orang lain terlibat dengan keadaan pribadinya. Beri aku resep terapi untuknya?" Mencondongkan tubuh, lipatan tangan pada dagu dan ujung siku di atas meja, tatapan tetap fokus ke satu arah.


      "Harapan selalu di mulai dari diri pribadi, Tuhan tidak akan mengabulkan permintaan tanpa usaha. Aku akan memberi arahan padanya dan dia yang berjuang!" Tatapan pada Rey dan lelaki itu malah menatap Lenia.


      "Tugasku akan semakin menumpuk, lan!" Terbaring lemah di atas meja.


      Ingatan yang melepas rasa. Perhatian yang tamak. Penantian yang kembali normal.


      Lenia duduk bersilah di atas tempat tidur, tangan di atas keyboard  laptop. Suara ketukan jari terdengan bernyanyi.


      "Kau di mana?" Di tangan Bart sebuah handuk kecil, cairan susu dan jeruk mandi di dalam baskom kecil. Menuju kamar Lenia, sambil fokus pada dialog dari kacamatanya.


      "Aku tidak akan membunuhmu!" Menarik tangan Lenia, gadis itu tampak bingung tetapi menurut. Turun dari tempat tidur dalam posisi berdiri. Bart meletakan baskom di atas bedside table, memasukan handuk ke air susu dan jeruk mandi dan membilas tubuh yang dimulai dari tangan gadis itu.


      'Kalau aku tahu kau seperti ini, sepupu. Aku tidak akan bunuh diri dengan terjun ke arahmu!' Sibuk dengan suara di depannya.


      "Nikmati pestamu!" Bart mematikan komunikasinya,  menonaktifkan  dengan layar sentuh berwarna biru dari kacamatanya. Kacamata kembali normal. Lenia membuka kemeja biru dan celana jeans abu-abunya, meletakan begitu saja di atas tempat tidur. Dari atas hingga ke bawah handuk menyentuh tubuh gadis itu. Pakaian lapis tipisnya tampak mungil dan serasi di tubuh.


Bart meletakan handuk ke dalam baskom.


      "Ingin warna apa?" Lenia tampak bingung dengan pertanyaannya.


      "Pakaian malammu?" Bart menjelaskan singkat.


      "Karena kau buas, aku butuh daster merahku!" Jari di gerakan sedikit, kabut biru tipis tampak jelas di sekitar tangan. Mengusap pada tubuh Lenia, dimulai dari tangan dan dikahiri dengan sedikit tarikan di ujung daster gadis itu.


      Bart tersenyum miring sambil membawa baskom berisi handuk ke dapur. Tubuhnya masih mengenakan handuk biru di pinggang dan otot berbaris rapi sebagai pertunjukan.


      Lenia kembali duduk di atas tempat tidur. Selang menit, dan Bart berada di samping tempat tidur. Melepas handuk, Lenia tersentak dalam kaku. Handuk terlepas dan dengan cepat tergantikan oleh kimono tidur berteman dengan celana tenun yang sama, bermotif naga merah. Posisi terlentang, bersandar pada punggung tempat tidur, dan sedikit gerakan tangan buku Sejarah Tamiang Layang di tangannya.


      Lenia mengambil bantal sebagai sandaran. Laptop di letakan di meja kecil di depan gadis itu. Kaki masuk pada tengah meja.


      "Gunakan ini untuk tulangmu!" Memberikan botol ice dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanan dan tatapan tetap fokus pada bacaan. Gadis itu mengambil alih botol dari tangan Bart dan meletakan pada punggung bawahnya yang sedikit nyeri.


      Tangan Lenia fokus pada keyboard, melanjutkan novelnya. Satu per satu kata tertera di layar. Bart menghilangkan buku dari tangannya, mengatur posisi tetap terlentang untuk tidur, dan satu tangan berbentuk sisi segitiga terjatuh sebagai alas kepala selain bantal.


      "Alarm kacamata, kunyalakan, ingat waktu El!" Memejamkan mata.


      Lenia menatap arah meja lampu, "aku hanya mampu mengangguk!"


      Lampu redup di rumah kecil Lenia. Mobil antik terlihat memundurkan diri dan pergi dari sana. Membawa tugas, informasi.


      Suara alarm menyadarkan gadis itu akan waktunya. Mematikan laptop, meja kecil di lipat menjadi tas laptop dari kayu. Meletakan di atas desknya, kembali ke tempat tidur, dan menarik selimut bulu hingga ke dada Bart. Lelaki itu tampak tertidur pulas dalam pelukan malam.


      "Selamat malam!" Bart mencium pipi kanan Lenia, mata lelaki itu terbuka pelan. Posisi masih setengah badan bagian atas, di atas Bart.


      "Malam!" Sedikit menjauh dari lelaki di bawahnya. Lenia meletakan kepala pada bantal, dan tubuh dibiarkan memeluk guling di sisi kirinya.


      Angin semakin dingin, dan malam semakin panjang. Dua makhluk saling berbagi. Bart memeluk tubuh mungil Lenia di atas selimut, pelukan bulu yang rapi hingga ke pundak gadis itu.