Come Here Datu

Come Here Datu
Come Here Datu: Bab III Sangat Mengejutkan



...      Bab III...


      Gedung Rarawen, gendung di khusus untuk acara pernikahan. Menyediakan jasa pelayanan design hiasan serta bekerja sama dengan perancang long dress, toxedo dan pakaian adat khusus dari berbagai daerah terkenal. Baik perancang busana lokal maupun mancanegara, menyesuaikan dengan permintaan klien.


      Anak-anak, tua maupun muda yang berjenis kelamin laki-laki semua mengenakan toxedo dengan design berbeda. Sedangkan anak-anak, tua dan muda yang berjenis kelmain perempuan kenakan dress dengan design style yang di haruskan berbeda. Semua terlihat mewah dan anggun tidak ada kata sederhana di sana. Para perempuan rata-rata menggunakan minaudiere bag.


      Lenia berdiri dengan maxi dress lengan panjang berwarna hijau muda, rambut ikal terikat rapi, sepatu slip on putih dari kulit menutupi mata kaki dan waist bag putih menjadikan style sederhana namun, tetap berkesan feminim dan tomboy secara bersamaan. Gadis itu menuju ruang pengantin perempuan dan pintu putih itupun terbuka.


      Seorang perempuan kenakan hijab organza putih, dan kebaya dengan payet kristal yang nernuansa putih serta bening yang senada. Terlihat barisan mewah melekat di tubuh gadis itu. Duduk di pelaminan putih dengan beberapa orang berfoto dengannya. Lenia tersenyum, gadis itu berdiri sambil menunggu.


      "Sayang, sini!" Sebuah panggilan dan Lenia mendekat lalu duduk.


      "Sayang, cium dulu!" Keduanya berciuman bibir. Fotografer dan beberapa orang, terlihat sedikit malu, "tolong fotokan diriku dengan sayangku!" Fotografer laki-laki itu membalas dengan senyuman yang berkesan ragu. Foto-foto pelukan dan ciuman penuh di layar camera.


      "Sayang, waktunya kita menyambut tamu!" Pintu terbuka menampilkan Bima kenakan toxedo hitam dan loafer hitam senada pada kakinya.


      "Suami kita!" Lenia tersenyum. Semua orang diruangan itu menatap karena kata yang terlontar membuat mereka bingung, "foto denganku!" Bima tersenyum lalu menuju ke tempat duduk pengantinnya.


      "Satu orang lagi, kita tidak boleh foto hanya bertiga." Tiba-tiba pintu terbuka. Rey yang mengenakan toxedo abu-abu terlihat tampan dengan rambut cokelat yang terlihat sangat rapi. Kenakan loafer abu-abu sebagai pelengkap. Tubuhnya semakin terlihat tinggi dan berisi otot karena terlihat jelas dari kemeja putih yang menonjol.


      "Rey kemari, kita foto!" Lenia tersenyum.


      "Benar-benar disini gadis ini!" Berbisik, Rey melangakah menuju ke arah mereka.


      Rey memeluk pengantin perempuan dan Lenia memeluk pengantin laki-laki. Fotografer terlihat semakin sulit untuk tersenyum.


      "Aku takut ada perselingkuhan disini!" Beberapa foto berhasil di abadikan.


      "Kita keluar, menyambut tamu. Rey!" Bima tersenyum. Rey berjalan seiring dengan Bima. Sedangkan Lenia dengan istrinya, Mala.


      Lenia dan Rey menggantar kedua pengantin ke pelaminan utama. Resepsi pernikahan yang sangat mewah dengan nuansa adat Jawa berpadu dengan adat Dayak, terasa sangat kental orientalnya.


      "Ini pasti enak!" Di tangan Lenia, kue tersusun menumpuk.


      Rey menatapnya datar, "kau akan diabetes setelah ini!" Meminum juicenya.


      "Kau menyumpah atau iri?" Mengambil kue lagi.


      "Yang pertama aku setuju."  Rey menatap layar gawainya, "Lei, aku harus pulang lebih dulu. File untuk pembelian kopiku ada di gawai dan harus ku edit. Aku tidak bisa melakukan pekerjaanku di sini." Ekspresi yang meminta ijin.


       "Iya, dengan senang hati aku akan pulang sendiri." Menjawab sinis.


      "Aku punya seribu ide, kau tidak perlu khwatir, wahai laki-laku. Pergi sana!" Menjawab cepat.


      Rey memberi gelas juice pada Lenia. Tersenyum lalu pergi melewati gadis itu menuju pintu. Tertampak jelas, Rey berpapasan dengan seorang laki-laki yang baru masuk ke tempat resepsi itu. Rambut hitam kebiruan tertata rapi dengan style sexy, rahang sangat tegas. Tubuh itu kenakan kemeja putih dibalut jas hitam berdekorasi rantai keemasan yang mengantung pada bagian dadanya dan dress pants flat front serta loafer kulit berwarna hitam. Kesan anggun, karismatik dan mewah disana. Setiap langkah mengundang pasang mata bagi lawan jenis untuk mentapnya.


      "Bardt?" Lenia mengerutkan dahi dan menarik nafas lalu berbalik, "kenapa bajingan itu harus ada di sini!" Memakan kuenya, "Jangan-jangan." Menatap Bima dan Mala.


      Beberapa perempuan sexy, cantik dan manis perlahan dan bergantian mendekati Bardt. Lenia meminum juice sambil memakan kue di tangannya. Gadis itu terlihat tidak perduli.


      Beberapa orang memberi selamat dan berfoto dengan pengantin. Lenia setengah berlari, sebagai antrean terakhir membuatnya tersenyum bebas. Mencium Mala, "kadonya sudah ku kirim ke rumahmu!" Berbisik.


      "Aku akan menelepon setelah membuka kadonya!" Memeluk Lenia erat.


      Ketika Lenia ingin memberi selamat pada Bima. Tubuh gadis itu menabrak seseorang di sampingnya, Bardt sedang memberi selamat pada Bima.


      "Apa!" Lenia menutup mulutnya cepat.


      "Lei, kenapa?" Lenia menggeleng, "dia teman bisnis ayah Bima!" Mala Tersenyum.


      Bardt menatap tajam pada Lenia. Gadis itu merinding dan malah membalas dengan tersenyum manis.


      "Sayang, kita akan berfoto!" Mala Menarik Lenia ke sampingnya. Bardt di tarik oleh Bima ke sampingnya. Suami-istri itu terlihat sepakat. Empat orang dalam sebuah foto. Dua orang terlihat kebingungan dengan karakternya masing-masing.


      Acara selesai jam 22:51, Lenia masuk ke ruangan pengantin. Membaringkan kepala pada Mala, "sayang, aku pulang oke!" Terlihat sangat lesu.


      "Sayang kamu tidak bermalam dengan ku?" Mengerutkan dahi.


      "Walau cuma resepsi kalian harus ada waktu berduakan!" Berdiri dan mencium bibir Mala.


      "Ayah dan ibu kita belum bisa datang, katakan pada mereka aku merindukan mereka!" Bibir  dikerutkan. Melepas tangannya dari Mala, "jangan lupa menghubungiku kalau ada berita yang harus di beritakan, okay!" Mala berdiri.


      "Hati-hati di jalan." Lenia menabrak pintu, "Lei, lidahku belum masuk semua kau sudah melakukannya!" Menggelengkan kepala.


      "Kamu mau kemana, Rey berpesan tadi tunggu di sinj!" Bima memanggil Lenia yang sedang memegang kepala di depan pintu.


      "Bim, aku pulang ke penginapan sendiri saja, lagipula aku bukan anak kecil lagi. Selamat bulan madu yang kesekian kali. Kalau sudah dapat momongan jangan lupa kabar, oke." melambaikan tangan.


      "Masih sama!" Memeluk Mala.