Come Here Datu

Come Here Datu
Come Here Datu



      Muler berlari, satu pijakan pada pinggir gedung, dan lompatan ke gedung sebelah. Kaki berhenti tepat di pinggir gedung, tampilan punggung yang menjadi sebuah pertunjukan bagi Leon. Tatapan dengan senyuman miring, tergoda akan pemandangan di bawah gedung. Anak itu memperbaiki jas sambil berjalan menjauh dari pinggir gedung. Leon yang berada di gedung sebelah hanya menyunggingkan senyuman, "anak ini, kapan dia akan belajar sopan!" Muler menghilang di balik lift gedung.


      Manusia mencari kesenangan yang memuaskan diri. Ada kesalahan akan satu hal, otak sang pengendali. Harus memilih dan dipilih. Harus menerima dan diterima. Selalu ada akar di bawah tanaman. Apa kau menghitung dari mana awal kehidupanmu di mulai?


Jangan biarkan dirimu menjadi tawanan!


      'Ditemuka banyak ternak mati kehilangan darah. Hingga sekarang penyebab kematian masih belum diketahui. Dokter hewan menyebutkan tidak ada dampak penyakit, bakteri atau virus. Penyelidikan terus berlanjut oleh pihak berwenang.'


      Ricard mematikan televisi di kantornya. Cangkir kopi di meja terlihat mengeluarkan uap panas. Berdiri dengan wajah serius menatap layar sentuh pada meja. Sebuah ketukan menyadarkannya, "masuk!"


      "Ada laporan tentang, kematian perempuan lagi!" Laki-laki imut dengan tubuh  mungil berdiri di belakang Ricard. Di tangannya sebuah gawai. Kenakan seragam lengkap seorang polisi berwarna cokelat.


      "Kirim datanya!" Menatap serius pada layar di meja. File di terima dan terbuka. Menampilkan gadis dengan dress merah, wajah pucat dan perut tercabik. Sebagian organ dalam perut keluar. Darah di mana-mana. Semua data pribadi tertera lengkap.


      "Terjadi di suasana yang mirip!" Menarik napas dalam dan menghembuskan pelan.


      "Media?" Mengeser foto dengan jari.


      "Kebetulan yang menemukan jasad korban, seorang reporter. Sebelum kami membawa dia kemari, dia sempatkan mengirim berita ke agen beritanya!" Terdengar tegas tapi ragu.


      "Di ruang introgasi?" Membuka pintu. Seragam kepolisian terlihat cocok di tubuhnya.


      "Iya, dia langsung pergi." Setengah berbisik. Membuka pintu dan berlari kecil mengikuti langkah Ricard. Di dadanya terlihat name tag, Jean kee.


      Ruang introgasi terbuka dengan kasar dan ditutup dengan lembut. Ricard mendekati reporter laki-laki itu dengan langkah pelan dan duduk di kursi bersebrangan. Jean melihat dari ruang berbeda.


      "Selamat atas pembunuhannya!" Reporter itu terlihat menyipitkan mata.


      "Saksi bukan pembunuh, anda harus memilih yang mana yang benar!" Dahi berkerut.


      "Anggap saja itu jalan pembuka bagi seorang seperti anda!" Bersandar pada punggung kursi.


      "Pemeriksaan sudah terjadi dan tidak ada darah di tubuh saya. Bukan begitu, apa harus ada luminol lagi?" Ekspresi marah terlihat jelas.


      "Pertanyaan waras macam apa?" ucapan dingin, "dengar, aku akui sebagai saksi jadi info yang akan saya katakan akan berbentuk kesaksian buka  pengakuan. Saya hanya berolahraga sore ini dan tidak lebih. Tidak ada hantu di sana hanya orang-orang yang mendekat ketika saya meminta tolong dengan keadaan yang hampir pingsan, itu saja!" Menekan dengan jari di atas meja sebagai pendukung.


      "Dia saksi, tetap awasi dia!" Menuju pintu dan menghilang di baliknya.


      "Polisi yang itu tadi gila?" Bertanya ke arah CCTV. Sebuah kaca besar dikamuflase sebagai tembok di depannya. Terlihat dan terdengar jelas dari ruang sebelah oleh Leon dan petugas polisi lain. Mereka semua terlihat menggeleng, "dia kelebihan waras." Satu polisi dengan name tag, 'King Rico' menatap layar.


      Perputaran arah jarum jam seolah simbol bumi di dalam bumi. Malam adalah kegelapan yang bukan berarti bahaya. Karena bahaya adalah apa yang ada di otak manusia. Ada saat menutup mata ada saat mata tertutup.


      Lenia menelan air liurnya. Berita tertera dimana-mana. Kematian sadis dan brutal terjadi lagi dan lagi. Napasnya terdengar cepat dan kacau. Tangan memegang bagian leher dan turun ke dadanya. Gawai berbunyi keras dari dalam kamar. Gadis itu mengelus dada, mematikan televisi dan menuju kamar. Sebuah pesan dari aplikasi.


      'Usahakan jangan keluar malam!' Kalimat perintah yang mutlak. Kata usahakan hanya terlihat seperti candaan.


      'Kau tahu siapa yang melakukannya?' Lenia duduk di tempat tidur.


      'Sesuatu yang buas telah lepas, peringatan!' Tertulis jelas pengirimnya, Mesum.


      'Akan ku ingat dari sekarang!' Tangan Lenia bergetar kecil.


      'Kau menyimpan namaku dengan tulisan, mesum!' Lenia menyipitkan mata.


      'Kau tahu?' Mengerutkan dahi.


      'Aku yang akan merubah kata itu atau kau sendiri, aku bisa melakukannya sekarang!' Lenia menghempaskan tubuh di atas tempat tidur.


      'Artinya aku tidak bisa menyembunyikan apapun dari layarku!' Menghembuskan napas, pasrah.


      'Aku tidak akan sempat mengawasimu sepanjang waktu. Hanya jika aku ingin, kau bebas tapi ada saat kau harus menurut untuk kepentinganmu sendiri. Sudah larut, selamat tidur!' Kalimat yang tak ada pilihan.


      Lenia menyunggingkan senyum, rasa ketakutan berkurang dalam diri gadis itu.