Come Here Datu

Come Here Datu
Come Here Datu



      Dua mangkok di atas meja dan sebuah sendok serta garpu sebagai penanda jika hidangan telah dinikmati. Bart berdiri di luar dengan satu tangan pada saku.


      Lenia menatap punggung Bart dari dalam restauran. "Pembayaranya menggunakan apa di sini paman?" Tersenyum ragu.


      Neli mendekati Lenia dan tersenyum, "sistem transfer, rempah-rempah, sihir atau dari tubuh manusia!" Tersenyum misterius.


      "Nel kau menakuti nona!" Marko memperingatkan istrinya. Gadis yang diperingati tertawa.


      "Restauran kami tidak menerima tubuh manusia! Tuan sudah membayar sistem transfer, seperti uang pada umumnya." Neli tersenyum ramah.


      Lenia menghembuskan napas pelan, "kalau begitu terima kasih!" Membungkuk dan berbalik menuju pintu keluar tapi tubuhnya memaksa berhenti, "paman-bibi, dua pertanyaan, bagaimana kalian bertemu  dan kenapa paman diijinkan tinggal di sini?" Berdiri menunggu jawaban.


      "Di dunia manusia, dia menolongku waktu terjebak pada akar pohon ketika dia mencari kayu bakar di hutan." Memeluk Marko, "Untuk ijin kau tanyakan pada lelaki di balik pintu itu!" Neli tersenyum pada Lenia dan Marko mengangguk.


      Pintu terbuka dan Lenia melambaikan tangan. Dan lambaian tangan dari suami-istri itu sebagai balasan. Telihat jelas punggung lelaki yang sedang menunggunya.


      "Gadis yang aneh!" Neli tersenyum pada Marko dan mencium bibir lelaki tua itu.


      Bart menatap Lenia dengan alis satu terangkat, "sudah larut malam, kita pulang!"


      "Bagaimana kau tahu ini sudah larut, tunggu sebentar aku melihat jam ke dalam." Membalikan tubuh berniat masuk ke restauran.


      "Lei!" Gadis itu berhenti di anak tangga pertama, "lihat posisi bulan!" Menatap Lenia dengan sedikit memiringkan kepala.


      Lenia melangkah melewati Bart, bulan terlihat condong ke arah matahari terbenam. "Kau yakin bulannya tidak berbalik arah!"


      Bart menarik napas pelan dan membungkuk, wajahnya tepat di depan Lenia. Satu tiupan pada wajah gadis itu dan mebuatnya memejamkan mata sekilas, "bangun, belum saatnya tidur. Ini masih satu dunia Lei. Bayi kecil yang aneh!" Melangkah melewati Lenia.


     Terlihat jelas wajah dingin di sana, "tunggu, kau cepat sekali saat berjalan!" Berlari kecil mengejar Bart.


      Bart menghentikan langkah, membuat Lenia dengan cepat menghentikan kedua kakinya. Terdengar suara terengah-engah dari mulut gadis itu, "kalau mau berhenti kasih tahu ke aku." kalimat terhenti ketika Bart mengangkat Lenia dengan tangan kirinya. Sayap keluar dari punggung, ekor yang panjang bergelantungan dan bulu pada sekujur tubuh. Bart kembali pada sisi silumannya. Tubuh mereka berdua melewati pesawat terbang, perahu yang melayang di atas air serta hewan-hewan dengan sayap. Melesat cepat.


      Tubuh kedunya terlihat pelan ketika keluar dari gerbang. Hutan sekarang jadi pandangan mereka.


      "Kenapa banyak patung makhluk mitologi di gerbang?" Lenia menatap ke belakang.


      "Setiap tamu akan tercetak di sana, kau sudah tercetak di sana!" Mengeratkan pelukan.


      "Kau punya keluarga di sana atau rumah?" Tatapan lugu.


      "Aku menganggap semua ibu adalah ibuku!" Tersenyum pada Bart sambil mengelus kepala lelaki itu.


      "Kau sekarang berperan sebagai ibuku?" Tanpa beralih tatapan dari Lenia.


      "Bagimanapun ibu kandung tidak dapat terganti, kau hanya perlu menganggapku." Lenia terlihat berpikir dan mengalihkan tatapan pada langit, "teman dalam segala hal." Terbata sambil menepuk pundak Bart, "Orang-orang, makhluk-makhluk, bukan mereka terlihat menghormatimu karena kau kayakan?"


      "Aku akan tersinggung, dunia kami hanya menghormati karena kekuatan dan pimpinan bukan material!" Menatap ke depan.


      "Aku katakan padamu rambut belakangmu tidak menjadi pendek tetap sepanjang ini?" Memegang rambut putih Bart, "memimpin karena memiliki kekuatan, kau pemimpin?"


      "Aku memiliki kekutan bukan pemimpin." Menjelaskan.


      "Mereka yang ada di hadapan kita saat di pegelaran tari tadi berarti juga?" Bart menatap Lenia, "berarti iya, siapa pemimpinya?"


      "Dia berpesta di dunia manusia sekarang!" Jawaban tegas.


      Lenia setengah mengangguk, "oh, apa ada kata meninggal di dunia" berpikir, "tadi?" Lanjutnya.


      "Tidak ada kecuali yang memiliki tubuh sepertiku karena pada dasarnya kami dari hewan." Lenia bernapas pelan.


      "Kami menciptakan tubuh dari sihir dan daging kami hal itu menjadi ilusi optik bagi manusia!" Tersenyum miring.


      "Bagaimana mungkin aku dapat melihat sesuatu yang tidak mampu ku lihat?" Menatap kosong pada Bart.


      "Dengan membuka paksa ini dan ini!" Menunjuk kepala dan uluh hati Lenia, gadis itu memeperhatikan Bart, "mereka harus sejajar baru bisa terbuka!"


      "Kalau begitu kau bisa memperlihatkan ku, kedua orang tuaku?" Menatap penuh harap.


      Berhenti di ujung pohon tepat pada daunnya. "Kau tidak akan pernah bertemu mereka sekarang, Lei. Dunia tempat kita berdiri sekarang hanya untuk tempat singgah bagi tubuh yang hidup dan kita tidak akan tahu jiwa setelahnya pergi."


      "Bagaimana jika jiwa mereka tidak dapat pergi?" Mata gadis itu berkaca-kaca.


      "Makhluk seperti kami di ciptakan sebelum manusia, setelah manusia dan oleh manusia. Roh di dunia yang paling besar adalah milik manusia. Kau hanya perlu berharap pada penguasa yang paling mulia untuk orang tuamu bersama dengannya." Tubuh mereka berdua terangkat. Air mata Lenia terjatuh pada pundak Bart. Gadis itu menatap ke langit.