
... ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dunia tampak layu di makan masa. Aura memakan tubuh dan hati. Jiwa tak lagi sama. Saat melempar pedang yang tertusuk adalah jantung.
Emon memerhatikan cermin rias di depannya. Tatapan tajam yang sendu terpantul di sana. Rambut ikal dengan long dress merah nampak anggun.
"Sayang kamu tahu tentang hati manusia?" Mengoles lips cream maroon di bibir, "pada dasarnya, sangat rapuh saat sekali terhantam badai besar!" Memasang blush on pink di pipi.
'Jika aku tahu apa yang kamu bicarakan sayang?' Layar gawai di meja rias menampilkan Eli yang sedang sibuk dengan mesin jahitnya.
"Aku hanya tidak ingin ada hari yang biru!" Tersenyum sambil memasang eyeshadow gliter.
'Sayang jika kamu bertanya soal manusia maka hanya manusialah yang dapat menjawab terutama yang mengalami. Aku juga berharap seseorang dapat membuat emasku berkilau.' Tersenyum sambil memegang kain dan fokus pada mesin jahit.
"Kita punya harapan yang sama, Eli!" Merapikan dengan kuas alis hitamnya.
Saat dunia mulai terisi oleh lautan bernama keserakahan maka, tidak lain dan tidak bukan akan menjadi surga sementara. Ranting yang jatuh akan tergantikan. Daun yang gugur akan tumbuh.
Rey duduk di side chair cafenya, masih dengan baju kerja. Jam menunjukan pukul 17:01 di dinding. Lampu mulai di nyalakan, "kak Rey bisa mengantarkanku pulang?" Duduk berseberangan dengan side chair Rey. Lelaki itu tampak menikmati kopinya. Cerel merapikan tali waist bagnya. Pakaian yang gadis itu kenakan berupa dress kuning selutut dan beralas sneakers bening. Rambutnya di ikat pada ujung kepala.
"29 menit lagi kita berangkat!" Menyeruput kopi menatap arah jalan. Pemandangan malam yang mulai tertata rapi. Lampu LED pada pohon dan lampu jalan di nyalakan. Lalu-lalang manusia tampak serasi dengan kata kesibukan.
"Kakak sedang memikirkan apa?" Mengambil sepotong kue cokelat dari piring di cocktail table.
"Jika semua hitungan dimulai dan dikahiri dengan angka 1 maka, akan sangat kacau, karena kakak sulit memilih di antara dua hal!" Meletakan kopi di piring kecil.
"Kalau begitu kakak beruntung, karena angka selalu di mulai bukan di akhiri dengan angka satu, kakak akan mampu memilih dari dua hal dalam dua hal." Mengedipkan mata, mulut penuh dengan kue.
"Kalau begitu aku akan memilih tetap mengantarmu!" Tersenyum.
"Artinya ada pilihan lain yang akan di lakukan setelahnya, benar kak?" Mengambil kopi Rey dan menyeruputnya.
"Menjamin kamu sampai di rumah!" Setengah berbisik.
Suara sepeda, mobil, motor dan kereta api penuh di jalan. Taman menjadi hiburan para muda. Banyak makhluk yang berjalan dengan pikiran dan hatinya.
Menunggu berapa abad agar musik dan lagu tak terkumandangkan. Menuang api penyiksa pada lahar yang abadi. Sia-sia semata malah menumbuhkan lahan yang subur saat semuanya merekah.
Tampak luar rumah Lenia terlihat sepi, tanpa lampu sore ke malam yang menyala. Lampu jalan sebagai penerang di luar rumah. Pintu taxi terbuka, Bart keluar lebih dulu. Di tangan mengantung tas uei (rotan) berisi buku pinjaman. Mengeluarkan Lenia dengan hati-hati, gadis itu nampak tertidur pulas. Tetapi, sering menyempatkan tubuh untuk membuka mata saat di pelukan Bart. Pagar terbuka, membawa tubuh mereka menuju ke pintu rumah. Pintu depan terbuka sendiri, "kamu melakukanya seperti sulap!" Mata gadis itu terbuka lebar.
"Berpura-pura tidur tidak akan menyelamatkanmu!" Bart tersenyum membawa tubuh Lenia masuk.
"Aku sakit tulang pinggang dan sekarang perutku sedikit sakit." Menurunkan diri dari pelukan Bart. Melepas alas kaki, melempar tas ke sofa dan pergi menuju toilet dapur dengan tergesa-gesa.
Membuka pintu toilet dapur setengah kasar, sedikit tersentak saat Bart datang. Lenia berada di atas kloset duduk, wajah gadis itu pucat dan tubuhnya bergetar. Darah menstruasi melekat pada celana lapis tipisnya. Bart menarik paksa jeans dan celana lapis tipis gadis itu, memisahkan kedua bawahan tersebut. Meletakan jeans di paha Lenia, sedangkan celana lapis tipis gadis itu di siram dengan jet shower dan sedikit di cuci agar menghilangkan bekas darah.
"Di mana pembalutmu?" Satu pertanyaan dari Bart dan membuat Lenia tersadar. Gadis itu hampir terhanyut dengan pikirannya.
"Di dalam lemari!" Tangan gadis itu masih bergetar, tapi berusaha menunjuk.
Bart berjalan cepat menuju kamar Lenia. Membuka lemari, di paling bawah lemari terlihat bungkus pembalut dan di sana hanya menyisakan satu pembalut bersama gumpalan sampahnya. Bart mengambil celana lapis tipis gadis itu dan memasangkan pembalut di sana. Melempar sampah pembalut ke dalam tempat sampah di sisi pintu kamar.
Di dalam toilet, Lenia membersihkan bagian bawahnya dengan air dari jet shower tanpa menatap ke arah sana. Bart datang, mengambil posisi berjongkok, dan memasangkan celana lapis tipis ke gadis itu. Jeans di atas pundak kirinya, memegang kedua tangan Lenia dan membantu gadis itu berdiri. Lenia merapikan celananya. Bart mengambil celana lapis tipis gadis itu yang belum dicuci bersih ke dalam genggamannya. Mengangkat tubuh Lenia dalam pelukannya dan meletakan gadis itu di atas sofa.
Bart menuju ke dalam kamar Lenia. Masuk ke kamar mandi gadis itu dan memasukan celana lapis tipis ke dalam mesin cuci. Membiarkan begitu saja tanpa harus menyalakan mesin cuci.
Lenia merapikan posisi duduknya. Bart keluar dari kamar, meletakan di punggung sofa celana jeans gadis itu, "itu masih bagus!" Memberi tatapan sekilas pada celana Jeans yang mengantung, langkah menuju kulkas dan sekembalinya memberikan botol ice ke gadis itu.
"Letakan di bagian yang nyeri!" Memasang kemeja putihnya, "di mana kunci motor?" Baju tidak terkancing sempurna menyisakan dua kancing atas yang terbuka. Lenia menunjuk ke arah dresser di dekat TV, sambil memerhatikan lelaki itu. Bart mengibaskan tangan dan kunci motor berada di telapak tangannya. Saat keluar, pintu tertutup otomatis. Lenia mengedipkan mata perlahan-lahan. Sedikit menghilangkan phobia gadis itu.
Bart menarik kedua tangan baju ke sikunya secara bergantian. Motor menyala, pergi terburu-buru.
Satu mobil klasik biru tampak mengikuti perjalanan Bart. Di layar gawai pemilik mobil, telihat pesan dengan pengirim berupa nomor, 'awasi dia untukku!' Di biarkan menyala di atas kursi sebelahnya. Satu pesan baru sedikit menutup pesan yang sedang terbaca, 'laporkan jika ada hal yang menyimpang dari yang kumaksud!' Tertera pengirim, Inspektur Ricard. Pantulan kaca mobil sedikit memperlihatkan wajah imut, Jean Kee. Mobil perlahan menari di lantai aspal.
Pintu mini market menampilkan tubuh Bart. Otot yang sedikit mencuat, alas kaki sendal biru milik Lenia, dan tatapan fokus pada tujuan yang di cari. Bayak pasang mata gadis dan perempuan tampak kagum dengan karya berkelas yang terpampang. Terdengar sedikit pertengkaran dari teman berkencan salah satu pengunjung dan bisik-bisik gadis dengan senyum meronta. Bahkan, seorang ibu muda sexy tampak kehilangan keanggunanya.
Bart berada di antara rak tempat khusus pembalut. Pasang mata tampak bingung menatapnya. Lelaki itu fokus memilih, mengambil lima bungkus pembalut kain. Satu ibu-ibu paruh baya meletakan disamping Bart keranjang kosong, "mumpung kosong, kamu tampak sibuk lelaki muda, silahkan!" Berlalu begitu saja sambil tersenyum sebelum Bart menjawab. Lelaki itu meletakan lima bungkus pembalut pada keranjang dan membawanya ke meja kasir. Di sana terdapat dua kasir, satu laki-laki dan satu seorang gadis berkerudung pink, keduanya mengenakan kaus batik merah. Kasir laki-laki melayani dua tim, gadis-gadis remaja dan keluarga kecil. Pasang mata tertuju pada Bart yang menuju kasir gadis berkerudung pink. Gadis itu tampak menahan senyum saat tangan menscanner lima bungkus pembalut. Bart memberi kartu ATM unlimitednya dari saku celana, blackcard.
"Banyak sekali, untuk pacarmu nak?" Seorang ibu paru baya yang memberi Bart keranjang, sekarang sedang di belakangnya, antre.
"Lebih tepatnya untuk istriku, nona!" Mengedipkan mata dan tersenyum miring.
"Tamatlah riwayat kami!" Satu gadis di antre sebelah bersuara keras ke lemah. Teman-temannya sedikit memukul dan menutup mulut gadis itu. Ibu muda sexy mematahkan salah satu alas kaki high helnya.
"Silahkan kak." Suara yang ramah, sambil memberikan tas uei (rotan) berisi pembalut sekaligus dengan kartu ATM pada Bart.
Bart mengambil bungkus uei (rotan) dan ATMnya, "permisi." Tersenyum miring sambil berlalu pergi.
'Lelaki itu bahkan tidak tahu banyak pasang hati yang berdarah karenanya, setidaknya biarkan khayalan menjadi pelengkap di biodata!'