Come Here Datu

Come Here Datu
Come Here Datu: Ku Terima Walau Salah



      Lenia mengacak rambut. Gadis itu terlihat lemah, menyeret tubuh dan hal itu membuatnya terjatuh ke lantai. "Bodoh, bodoh, bodoh!" Suara kecil yang tertahan. Mengacak rambut, gadis itu menatap kosong. Meringkuk di pinggir tempat tidur. Seketika berdiri lalu menuju pintu kamar. Menatap tubuh Muler yang tertidur pulas. Menghentakkan kaki dan suara rintihan kecil keluar, "Lupa, kakiku." Memegang kaki kiri, masih dengan posisi berdiri. Akhirnya, berjalan pelan menuju dapur.


      Suara piring, pisau dan minyak goreng beradu dari dapur. Sambal tomat dengan terasi di letakan di piring kecil. Membuka tutup panci, sop ayam dengan wortel, kentang, dan kol serta seledri dan daun bawang prei sebagai dekorasi. Meletakan sup di dalam mangkok. Tangan kanan memegang sup dan tangan kiri memegang sambal. Membalikan tubuh, gadis itu sedikit mundur dan terdiam.


      "Aku lapar!" Muler dalam posisi duduk di meja makan kayu. Anak itu hanya mengenakn ****** ******** untuk menutup tubuh bawahnya. Tetapi tatapan Lenia memberi isyarat akan pertanyaan, pada seluruh bagian sebelah kanan tubuh anak itu yang dipenuhi oleh tato. Kata orang tidak baik untuk terlalu penasaran, akhirnya Lenia memilih untuk memegang sendok dan garpu pada masing-masing kedua tangannya. Piring terlihat menatap wajah Muler yang berlaku manis.


      Lenia menarik nafas panjang dan menghembuskan kasar. Meletakan sup dan sambal di meja, "kamu kira di rumahku tempat pesta kolam renang?"


      "Nasinya mana?" Mata berbinar menatap Lenia.


      "Kamu bisa kenakan pakaianmu dulu, aku sudah mencuci dan mengeringkannya tadi." Menuju kamar dan mengambil pakaian Muler lalu meletakan di sofa, "kenakan pakaian, baru makan!" Membalikkan wajah ke arah dapur.


      Muler perlahan mengangkat Rice cooker ke meja makan. Mengambil nasi ke dalam piringnya, "kenakan untukku!" Duduk di kursi, tangan itu kini bebas mengambil sup dan sambal.


      "Benar-benar tidak mendengarkan ku, kenapa aku merasa seperti beban bertambah di dada ini!" Mengelus dada.


      "Makan!" Muler mulai makan.


      Lenia melilitkan selimut tipis berwarna biru di tubuh Muler lalu merangkai sedemikian rupa dan terlihat seperti Himation. Duduk di kursi mengambil nasi, melipat kedua tangan, menundukkan kepala dan menutup mata. Gadis itu berdoa.   


      Muler menghentikan makan, menatap ke arah ruang tamu. Lukisan yang melukiskan Yesus Kristus bersama 12 muridnya. L'ultima cena o l'ultima cena karya Leonardo da Vinci terpajang di dinding walau bukan lukisan asli tapi sangat terawat. Lenia membuka mata dan mulai makan.


      Menatap Muler, "kau tidak melakukan lebih dari itu kan, tadi malam?" Mengerutkan kening.


      Sibuk pada sajian piring, "Ingin aku melakukannya?" Mengunyah.


      "Aku bertanya, pintar. Kenapa kamu tidur di kamarku?" melanjutkan makan, "kenapa aku tidak mengusirnya?" berbisik.


      "Makanan Nya enak!" Mengambil sup.


      "Sama sekali bukan jawaban, aku ingin sedikit bertanya apa yang terjadi setelah aku masuk ke kamar tadi malam?" Menarik nafas panjang.


      "Padahal sekarangpun aku menjawab!" Menatap Lenia, "bukannya kakak tadi malam mengigau hingga aku terbangun karena kedinginan dan memutuskan untuk tidur dengan kakak, karena kakak ternyata tidak mengunci kamar tadi malam. Memannya kenapa?" Wajah menyelidik.


"Ternyata cuma mimpi." Lenia merasa lega, " tapi tetap saja jangan masuk tanpa mengenakan pakaian ke dalam kamarku, kita baru kenal tadi malam." Lanjut menegaskan.



      "Aku maklum untuk kali ini!" Mengambil botol air putih dari kulkas. Gelas di letakan pada meja dan menuang air. Muler mengambil air minum milik Lenia lalu meminumnya.


      "Aku pasti gila?" Mengeratkan gigi.


      "Aku mandi, kakak mau ikut denganku!" Mengedipkan mata pada Lenia sambil berjalan menuju kamar. Wajah gadis itu memerah, "Keluar dari rumahku!" Lanjut makan dengan ekspresi marah.


      Mencuci piring, gelas, sendok dan garpu. Meletakan semua di keranjang, membiarkan sampai kering. Menuju ruang tamu dengan langkah pelan.


      Muler berdiri dengan pakaian dan rambut yang sudah tertata rapi. Menatap layar televisi yang dia nyalakan.


    


      'Warga mulai resah, ternak banyak mati pada saat malam hari. Bahkan ada pengakuan dari warga bahwa mendengar suara rintihan dari ternak sebelum mati. Saat ini tim medis...'


      Muler menatap dingin arah televisi. Tersadar ketika tubuhnya ditarik paksa menuju pintu depan. Lenia mengambil kaus dan sepatu Muler lalu meletakan di depan kaki anak itu.


      "Padahal aku masih ingin di sini!" Bertingkah manis dengan senyum misterius.


      Tepat di depan pintu, "kau tahu pintu rumahku berbangga mempersilahkan anak mesum sepertimu untuk pergi. Terima kasih atas kunjungannya. Jangan datang lagi!" Menjulurkan tangan mempersilahkan pergi.


      Muler tersenyum miring dan tanpa sepatah kata sebuah ciuman pada pipi Lenia. Wajah gadis itu seketika memerah.


      "Aku pulang sekarang, kakak." Langkah yang anggun meninggalkan pintu, tapi tiba-tiba ayunan itu berhenti sebelum melewati pagar, "seumur hidup aku yakin kakak tidak akan pernah bisa mengusirku!" Tersenyum bangga. Lenia masuk ke dalam rumah dan menutup pintu kasar.


      "Mulai lagi jantung bodoh ini, anak itu sudah melecehkan mu, ingat itu Lenia!" mencoba menyadarkan diri. Langkah gadis itu cepat dan berayun pelan menuju pintu kamar. Mengingat kaki masih terasa sakit.


      Langkah demi langkah dengan hentakan selaras dan hingga akhirnya irama itu berhenti. Dari seberang jalan di dalam cafe makan, terlihat dari balik kaca cafe seseorang menatap dingin ke arah anak itu. Bardt berdiri di sana, dari kejauhan tampak jelas bahwa persaingan menjadi penghubung antar keduanya.


      Muler tersenyum miring, "sebenarnya apa yang aku dan kamu lakukan. Gadis yang bodoh, kasihan sekali!" Langkah pelan dan anggun berayun kembali.