Come Here Datu

Come Here Datu
Come Here Datu



      Langkah Lenia melambat, darah biru keluar dari lubang di tubuh Bart. Lelaki itu terduduk dengan satu kaki ditekuk.


      Tubuh melemah, gadis itu membiarkan dirinya terjatuh di hadapan Bart. Meletakan lutut untuk tertekuk begitu saja. Air mata mendahulukan isak.


      "Kau melakukannya!" Mencoba menutup lubang di dada Bart, "untuk apa?" Membenarkan kata di sela isak.


      Beberapa tim polisi berusaha untuk menyadarkan diri. Rey kembali pada wujud manusianya. Seluruh bulu, cakar, wajah, dan ekor masuk ke dalam tubuh dan tergantikan dengan jasnya semula. Ricard menatapnya setelah mencoba untuk duduk bersandar di balik mobil.


      Cahaya malam terasa dingin, seolah menatap dari ketinggiannya. Keheningan yang cepat, cahaya dari pinggir aspal terlihat kaku. Bahkan angin sangat diam malam ini. Percikan api masih belum mematikan diri pada beberapa pohon.


      Senyum dingin lelaki itu tersungging, tampak tak ada masalah yang bersisa. Tetapi satu hal yang di lupakan oleh Lenia ialah di manapun mata gadis itu menatap Bart dan lelaki itu hanya akan menampilkan senyum, "di saat seperti inipun, kau tetap tersenyum!" Suara Lenia melemah, air mata gadis itu menetes, dan tak ada isak dari sana, "aku akan menunggumu di sini, hingga lukamu menutup!" Gadis itu menunduk, air matanya terjatuh di rok kebayanya, seolah tak ingin mendengar kata dari kalimat laki-laki di depannya. Karena, dia tahu akan jawabannya.


      "Lei, kenapa kau tidak menatapku?" Suara laki-laki itu terdengar tenang, "padahal aku ingin melihatmu!"


      Lenia menarik tatapannya, "kenapa hanya aku!" Air mata bagai air, tapi gurat sedih meninggalkan wajah. Kedua tangan gadis itu melemah, tangan yang sedari tadi berada pada dada lelaki itu tampak melepaskan diri, dan darah terus-menerus keluar.


      "Kalau aku tahu takdirku denganmu akan seperti sekarang, maka dia pilihan yang baik." Suara isak terdengar lebih sesak.


      "Kalaupun kau memilihnya, apa kau akan tetap meneteskan air mata, kakak?" Cincin dari kayu terbuka di telapak tangan dan setangkai mawar biru menjadi pembatas mereka berdua. Lenia menatap perlahan lelaki di depannya, tubuh Bart tampak mengecil. Lelaki yang sekarang berada di hadapan gadis itu saat ini, ialah tubuh Muler yang bersimbah darah biru.


      "Sekarangpun kau tetap menipuku?" Lenia menatap wajah itu lekat. Muler memuntahkan darah biru pekat dari mulutnya, darah melumuri mawar di tangannya. Pikiran Lenia teralih, tatapan dan tangan seketika  berniat menyentuh lubang pada dada Muler. Gadis itu memperlihatkan wajah lebih khwatir lagi, tapi tangan Muler dengan cepat memegang kedua tangannya. Cukup memberi tahu untuk tidak melakukan hal yang akan sangat percuma.


      Senyum masih mengambang dari bibir Muler, "aku harus membela tubuh sihirku tapi sepertinya di luar dugaan." Sesuatu akan menghancurkanmu ketika hal yang lebih berharga dari itu, "dan berada di depan mata!"


      "Kau sedang kesulitan," suara tercekat, "aku mohon bantu suamiku?" Suara serak karena isak dan air mata membuat suara lantang Lenia semakin menyakitkan. Rey membawa tubuh Cerel dan Eli ke arah Ricard, dan membaringkan mereka di dekat lelaki itu. Rey seolah tak peduli dengan panggilan Lenia.


      Ricard memegang kaki lelaki itu dan menatapnya, Rey berbalik menatap Ricard. Tidak perlu kata untuk menjelaskan kematian. Ricard melepaskan pegangan pada Rey seolah mengerti hal itu dan hanya menatap pada dua tubuh yang jauh berada di depannya. Tim yang berusaha berdiri untuk membantu menerima isyarat tangan tergenggam oleh Ricard, kali ini perintah berdasar suasana, bukan 'tahan senjata!' Tapi, 'tetap di tempat!'


      Muler memasangkan cincin yang terbuat dari kayu dan bermotif titik kecil berada di sekitar cincin. Terpasang sempurna pada jari Lenia, "aku hanya ingin melamarmu dengan cara manusia!" Bart menggantikan posisi Muler dan berada di depan gadis itu sekarang. Wajah lelaki itu semakin pucat, mata berubah biru pekat menyala, dan tangan perlahan mengeluarkan urat biru kehitaman, "aku hanya berharap kau menikah dengan lelaki yang tepat. Tetapi, aku meminta bawa mereka berkunjung ke pemakamanku, dan saat mereka bertumbuh besar maka katakan bahwa, kalian pernah memiliki seorang ayah yang paling sering membuat ibumu menangis!" Memegang perut Lenia dan sekilas senyum bersama tarian telapak tangan di sana. Tangisan gadis itu pecah, tangan yang berada pada perut Lenia perlahan meleleh menjadi cairan biru pekat. Meninggalkan jejak pada kebaya gadis itu, wajah Lenia tak bisa mengendalikan dari rasa terpaku, "pada akhirnya aku harus meminta ucapanmu waktu itu, Lei!"


      Tubuh lelaki itu meleleh hingga memberi warna pada pohon, terlihat mengalir dari sana, darah berwarna biru. Darah yang semula melekat pada rok dan mawar di tangan Lenia terserap ke dalam tanah. Pakaian dan amang lelaki itu tak meninggalkan jejak di tanah, seolah semuanya tak pernah ada sejak awal, dan meninggalkan Lenia bersama cincin dan setangkai mawar biru. Gadis itu terduduk lemah, menopang tubuh dengan menyandarkan telapak tangan pada pohon apel di depannya. Tatapan lepas pada mawar yang kehilangan tuannya.


      Air mata Lenia menetes pada mawar, "Pada akhirnya dia tidak pernah mengatakan apapun tentang dirinya. Bahkan tidak ingin aku mendengar kata jatuh cinta dari bibir itu. Hingga akhir aku akan selalu menunggunya seperti orang bodoh di sini. Apa kau bisa membawanya kembali, Rey?" Air mata mengalir lembut dan tatapan jatuh pada lelaki yang sedang  berdiri di belakangnya saat ini. Buah apel seketika jatuh tepat di samping Lenia.


     "Pada dasarnya dia makhluk paling buruk yang pernah kukenal!" Emon bersandar pada kursi belakang mobil polisi.


      Hutan menangis saat menampilkan hujan yang kacau. Hewan seolah berkumpul di sekitar kematian Bart. Tarian paling menyedihkan saat kunang-kunang berada di sekitar kepala yang menatap. Teman bagi mereka yang meneteskan air mata. Sebagai ucapan selamat tinggal yang kejam. Rey memeluk Lenia dan menepuk gadis itu.


      Arena gedung menampilkan kaca yang terbuka, Leon menuangkan tuak pada dua gelas, dan menyajikan di cocktail table. Men're duduk bersilah di atas sofa, dengan kepala ditidurkan di ujung punggung sofa. Leon duduk menyilangkan kaki dan tangan secara bersamaan. Berdiri gelas tuak pada tangan kananya. Tatapan lelaki itu terarah ke sana.


...***...


      Rumah mungil, benar-benar terasa kosong. Manusia yang tinggal mengalami kematian. Rasa senang akan menimbulkan kebodohan. Waktu tidak pernah cepat berlalu saat kau berduka.


      Lenia duduk di sofa, Eli terlihat memasak di dapur gadis itu. Emon menyiapkan piring di meja makan. Cerel terlihat memotong sayur, di bantu Rey.


      Men're berada di depan Lenia, memberikan dokumen untuk di tanda tangani oleh gadis itu.


      "Dia merasa perasaanku untuk di jual!" Mentanda tanganni dengan isyarat dari air mata dan kemarahan yang terlihat jelas, "kalau begitu aku harus bersenang-senang dengan uangnya!" Mengambil dokumen dan pergi dengan kasar ke arah kamarnya. Pintu tertutup sempurna, tetapi tubuh menjatuhkan diri di depan pintu. Menutup diri dengan isak di sela pahanya.


      Di depan gerbang, Men're di antar oleh Rey, "kau tahu dia makhluk seperti apakan Rey!" Men're menatap ke arah rumah Lenia.


      "Paling buruk dari yang terburuk!" Rey menatap ke arah yang sama.