
Bukan dunia yang dipilih dan dipulihkan tapi tali pengikat antara arti. Satu kata adalah alasan dan tanpa kata adalah beralih. Bukan kejahatan jika aku bukan di tanganmu.
Lenia kenakan mahkota bening melingkar, bulu enggang menjadi hiasan rambut, long dress putih, kalung bening mengakar di sana, serta gelang melingkar pada tangan gadis itu. Tubuhnya terduduk tegap, di letakkan pada sebuah tandu emas berbentuk naga melingkar. Tandu yang melayang dengan dayang berjalan pelan di samping kiri dan kananya. Wajah gadis itu terlihat kaku. Tubuh menurut menuju arah yang ditentukan oleh langkah kaki gadis-gadis cantik dengan telinga panjang di sampingnya.
Tepat di depan singahsana, Uria melangkah pelan menuju tandu Lenia, "Kalina, kenapa kamu perlakukan pengantinku seperti ini!" Tersenyum tulus tepat di hadapan Lenia.
Kalina mengibaskan tangan dan kabut hitam dari tubuh Lenia tertarik ke arah tangannya.
Lenia terlihat memegang dada, menopang tubuh dengan tangan kiri. Menatap Uria di depannya yang sedang mengulurkan tangan. Lenia dengan susah payah setengah terjun dari tandu. Mendongak menatap lelaki di depannya yang terlihat menunduk dengan senyum.
"Terima kasih atas belas kasihannya tuan, apakah saya bisa pergi dari sini?" Ekspresi yang jelas menantang.
"Tapi kau harus menjadi pengantinku, tentu saja aku tidak mengijinkannya!" Tersenyum bangga sambil mengarahkan pelan kepalanya ke samping kiri.
Lenia menatap sekeliling, "tuan mungkin ini tidak penting tapi saya sebagai perempuan tidak mungkin memiliki dua suami dalam proses hidup yang sekali, aku melihat mereka menunduk?" Menatap Uria yang tertawa.
"Pilihan selalu pasti adakan, dan kau diharuskan memilih aku sebagai suamimu!" Tegas.
"Kita akan melaksanakan pernikahan!" Tersenyum dan memegang erat tangan Lenia menarik paksa ke singahsananya. Gadis itu terlihat meronta, memukul dengan tangan kiri bahkan menendang, "lepas, bangsat!" Menggigit tangan, Uria tetap menariknya paksa, "bangsat!" Lenia duduk tapi tetap di seret bahkan sampai melewati tangga menuju singahsana. Lenia memilih lemah dan akhirnya di angkat, padahal gadis itu sudah meronta. Didudukan secara paksa di atas paha Uria di singahsananya. Lenia berusaha lari, terlihat matanya berkaca-kaca "Bart!" Dengan suara kecil.
Uria mentapnya, "aku bersabar dari tadi!" Berdiri dan Lenia terlempar bersama kabut bening ke arah tandu. Sebelum tubuhnya menyentuh tandu sebuah pedang menebas tandu dari atas ke bawah hingga terbelah dua. Bunyi gesekan emas dengan benda tajam. Lenia terdorong kebelakang dan tubuhnya berakhir dalam pelukan seorang lelaki yang dikenal, "Bart!" Suaranya kecil. Bert memeluk Lenia dengan tangan memegang Amang (Mandau) yang terlihat melilit ke tangannya. Pelukan erat pada perut gadis itu. Masih dalam balutan toxedo yang lengkap. Tubuh gadis itu setengah melayang, Bart menurunkannya.
"Setelah hari ini kau harus mendengarkanku!" Lenia terlihat menggeleng lalu perlahan mengangguk. Bart menunduk mencium bibir gadis itu. Uria mengibaskan tangan dan dua gelang yang melingkar pada tangannya membentuk panah tajam lalu menghempaskan pada Bart dan Lenia. Bart menarik Lenia erat dalam pelukannya dan mencium lebih dalam gadis itu. Dengan tangan kanan mengeluarkan asap putih dia melemparkan pada Kalina, gadis itu menghempaskan panah pada dinding.
Bart melepas ciuman, Lenia terengah, "tidak ada tempat lain!" Marah. Bart tersenyum miring dan mengangkat Lenia dalam pelukannya dan keluar dengan langkah pelan dari dalam istana.
"Bart, jika kau membawa gadis itu maka dia akan mati begitu melewati gerbang!" Uria membalikan tubuh menatap dua rusa miliknya.
Tumet terdengar dinyanyikan oleh Kalina. Kalung berbentuk akar pada leher Lenia mengerat dan tubuh gadis itu terlepas dari pelukan Bart. Melayang cepat hingga di atas pintu pagar. Pagar runcing tegak lurus di bawahnya. Lenia kembali kaku.
"Sepertinya kalau di diamkan naga sepertimu tidak memiliki martabat sebagai pemimpin!" Bart membuka kancing toxedo, berjalan santai dan seketika berada tepat di hadapan Uria. Kalung pada lehernya menghalangi Amang Bart.
Tarian kedua benda tajam. Di tengah perang Bart tersenyum miring matanya berubah biru. Uria terkena beberapa goresan amang dan mengeluarkan darah hitam. Kalina melihat itu mengeratkan akar pada Lenia. Wajah gadis itu memerah, urat sekitar leher terlihat jelas, kesulitan bernapas. Kedua tangannya seolah terikat erat.
Bart mengalihkan pandangan pada Lenia dan goresan pada lehernya. Uria mendorong Bart hingga ke singahsana. Darah merah bercampur biru semakin menjadi. Luka gores semakin dalam. Keduanya melayang, kaki Bart menyentuh ujung singahsana. Tetesan darah mengalir hingga ke kemeja putihnya. Bart tersenyum miring dan melempar Amang pada Kalina, dan tepat mengenai jantung gadis itu.