Come Here Datu

Come Here Datu
Come Here Datu



      Bart meletakan amangnya di pundak kiri seolah pikulan. Satu kaki kiri berdiri tegak dan kaki kanan sedikit di tekuk. Lapangan menampilkan sosok lelaki yang sedang tersenyum dingin di tengahnya.


      Siluet tubuh perlahan menjadi manusia, duduk di dahan pohon, kakinya di biarkan bergelantung, dan tepuk tangan sebagai pengiring.


      "Kuat sekali, padahal dia kulatih dengan ramuan khusus!" Menatap bekas yang tampak berantakan di sekitar mereka, seolah ada badai menerpa.


      "Kau membuat tugasku bertambah!" Bart menatap dari pinggir mata.


      "Kau yakin dengan pendirianmu, kami orang jahat kau tahukan. Harus kasar jika bertindak!" Bergelantung dengan kaki sebagai penahan tubuh, lekuk kaki di antara batang. Rambut panjangnya ikut bergelantung.


      "Tadi aku buru-buru tapi tampaknya sekarang aku punya banyak waktu luang. Ingin melakukan permainan, bagaimana jika kita bermain di menit." Bart menjentikan jari dan lelaki itu tampak jatuh tetapi sebelum sampai ke tanah tubuhnya menghilang dan berada di belakang Bart.


      Senyum dingin beradu. Cakar menghantam sebelah kiri Bart tetapi amang menjadi pelindung. Cakar dari kedua tangan Barol terlihat cepat ke arah Bart, tanpa bergerak keduanya saling menyerang dan menghindar. Bart memutar amang dan menusuk bagian perut Barol yang berada dibelakangnya. Lelaki itu menarik amangnya dan Barol memundurkan tubuh.


      "Lakukan dengan cepat!" Membiarkan ujung amang menghadap ke tanah, menetes darah hitam dari sana.


      "Kau tampak tidak sabar!" Ekor keluar dari tubuh dan mencabut tiga pohon sekaligus. Melempar pada Bart, lelaki itu mengeluarkan aura biru dari tubuh dan menyebar sehingga berbentuk bulat di depannya. Hal itu mementalkan pohon. Aura biru kembali ke tubuh.  


      Beberapa pisau di lempar mengelilingi Bart. Lelaki itu berputar dan berada di balik Barol sehingga semua pisau mengarah ke pada mereka. Keduanya menghilang dan semua pisau tertancap pada tanah.


      "Perang dengan menipu?" Barol tampak berpikir, ekornya kembali menghilang. Mereka berdua saling membelakangi. Bart menatap amangnya.


      Gelombang hitam pada tangan, berbalik dan menuju Bart dengan tinjunya. Lelaki itu menghindar sehingga semua pukulan rata-rata mengenai pohon.


      Pihak berbeda, Ricard tampak bingung dengan pemandangan di sampingnya, lelaki itu berdiri tepat di depan mobil klasik Bart yang hancur. Mengeluarkan pistol dan mulai membidik. Pertama ke arah Bart lalu berakhir pada Barol, dan peluru menuju tujuan. Tetapi bersamaan dengan itu seluruh pohon meledak dan menimbulkan asap hitam bersama sedikit kilat biru. Barol keluar dari sana dan melayang menuju ke arah Ricard, "aku senang kau tidak mati, manusia!"  Tersenyum tampak sangat bahagia. Ricard mengarahkan pistol tetapi sebuah  ekor menarik kaki Barol ke dalam lautan asap. Penglihatan Ricard tertutup, kabut tebal dan kilat sedikit pudar. Tubuh Barol menghantam tiga pohon berurut. Satu pohon tempat persinggahan terakhir, membentuk cetakan tubuhnya.


      "Barol kau tahu peraturan kaummu!" Ekor Bart perlahan masuk ke dalam tubuh.


      Suara kecil tetapi tetap dengan senyum, "Aku sudah mengatakan bahwa aku tidak akan membunuhnya, waktu itu. Dia manusia paling menyenangkan bagaimana mungkin aku sia-siakan tubuhnya!" Berdiri perlahan,"aku sangat senang melihatnya!" Tertawa dan berlari menuju Ricard tetapi dengan cepat Bart berada di depannya dan menendang tubuh lelaki itu hingga menghantam tanah. Tubuh Barol terkubur di sana, tapi dengan cepat lelaki itu duduk lalu membersihkan wajah dari tanah.


      Bart berjalan mendekat. Suara alat berat menyingkirkan pohon ke samping jalan dan memberi akses untuk lewat. Kepolisian rahasia keluar dari mobil, posisi siaga dan senjata api tertuju pada satu arah. Ricard memberi aba-aba 'tahan tembakan' dengan isyarat tangan di genggam.


      "Banyak sekali manusia, apa mereka senang melahirkan?" Menatap ke arah belakang Bart.


      Mobil klasik milik Jean sampai, "Bart!" Panggilan kasar sambil keluar dari mobil. Melepaskan peluru dengan snaiper. Bart tak teralih oleh panggilan itu, Rey menjatuhkan diri tepat di atas Jean, lelaki itu tidak berkutik di sana, dan Lenia melepaskan diri dari siluman datu Rey. Sedangkan lelaki itu tetap memegang Cerel dan Eli di kedua tangannya.


      Senjata api tertuju ke arah Rey, "tahan senjata." Ricard memberi perintah.


      Lenia berusaha berdiri tegak, dan tersenyum menatap Bart, "kau tetap dirimu!" Suara kecil.


      Peluru berisi cairan biru pada ujungnya tetap mempercepat laju. Barol tiba-tiba menghilang dari pandangan Bart. Lelaki itu berlari melewati samping tubuhnya, dan tujuan jatuh pada Ricard.


      Bart berbalik, tangan melepaskan kabut biru ke arah Ricard yang sedang berbalik arah. Lelaki itu terpental ke salah satu mobil polisi, dan bersamaan dengan itu peluru berhasil melewati tengah lubang dari pohon. Pohon apel dengan satu buah, berdiri tepat di belakang Bart.


      Senyum licik Barol tergambar dan menjadi penutup wajah Lenia. Lelaki itu berbalik arah dan menjentikan jari, dari tanah tempatnya terkubur tadi, ujung ekor hitam keluar dan melempar Bart ke arah pohon apel di belakangnya.


      Barol menjentikan jari untuk kedua kalinya, sehingga peluru tampak terpanggil dan berbalik arah lalu menembus jantung Bart dari belakang. Hal itu mengantarkan lubang di tubuh. Peluru yang tembus tampak mengarah pada Barol, lelaki itu mengindar, dan tujuan keduanya adalah Lenia. Gadis itu berdiri di belakang Barol sedari tadi. Siluman datu Rey sempat menarik Lenia dan Bart melempar amangnya. Amang yang melayang membuat peluru terpotong, sekarang ujung amang tepat di depan wajah Lenia tetapi di tarik oleh Bart dengan kabut biru pada tangannya. Senjata kembali pada tangan tuannya.


      "Kenapa, apa tidak jadi mati, Bart kau mati?" Barol tampak berpikir, telapak tangan pada kepala. Peluru seketika tertuju padanya tetapi berhasil di hindarkan dengan sekilas menghilang. Lelaki itu berada di bawah pohon, sedangkan dari arah berbeda perempuan berjubah hijau melempar cambuk pisau dan ueinya hal itu menghantam beberapa penembak.  Sebagian tim tangan terputus dan sebagian tim terpental.


      "Kita pulangkah!" Barol mendongak pada tubuh yang berdiri tegak di dahan pohon tepat di atasnya.


      "Pertahankan posisi, mati hidup tetap dalam tugas!" Pemimpin tim menyuarakan, walau kesulitan dalam berdiri. Sisa tim yang tak mengalami luka serius terlihat tetap berburu. Ricard berusaha berdiri. Beberapa anggota tim mencoba bangkit walau tangan terpotong dan berusaha meraih senjata apinya.


      Tangan dan kaki Barol memanjangkan cakar, jubah hijau berubah menjadi bulu, wajah di gelengkan sehingga perubahan pada wajah menjadi berbentuk anjing, dan mata semerah darah. Luka tidak tertutup sempurna pada dadanya. Tetapi suara tinggi terdengar kasar. Rey mengeluarkan aura kuning dari tubuhnya dan berusaha menyebarkannya untuk menutup telinga semua manusia di sana.


      Barol melompat dan mengambil perempuan berjubah hijau itu lalu di letakkan pada tengah punggungnya. Senyum dari makhluk itu tampak mengerikan, pergi dengan peluru mengarah pada mereka.


      Rey berniat mengikuti tapi tiga tahanan berada di pelukan lelaki itu. Sedangkan Jean tampak tak sadarkan diri di bawah kakinya. Membiarkan polisi rahasia untuk berburu, merupakan keputusan yang salah mengingat bahwa kaum siluman datu bukan makhluk berdaging sempurna seperti manusia. Tahu hal itu sia-sia tanpa perencanaan yang sangat matang akan menambah daftar korban yang terluka. Tapi sikap membiarkan adalah hal terbaik yang dilakukan saat tugas khusus di berikan pada masing-masing pihak.


      Bart terjatuh perlahan, tubuh bersandarkan pada pohon di belakangnya. Tatapan tertuju pada gadis yang sekarang setengah meronta dan berhasil melepaskan diri dari genggaman Rey. Lenia melewati kekacauan dan berlari ke arahnya. Tidak peduli peluru bersuara di baliknya dan senjata mengarah pada siapa. Tatapan gadis itu lekat dengan tubuh yang sesekali terjatuh di rerumputan, tetapi tetap mepertahankan kekokohan kaki untuk berlari.


      Beberapa tim polisi rahasia masuk ke dalam mobil dan memburu dari sana. Barol bersama perempuan jubah hijau tampak merubah haluan  dengan berganti posisi dari kiri ke kanan jalan sekadar menyulitkan penglihatan dari manusia. Pemberian bumbu dengan sedikit menghilangkan tubuh. Peluru mengarah tetap pada mereka, dengan ekor Barol mencabut pohon dan melemparkannya ke jalan sehingga menumpuk di sana. Para polisi rahasia keluar dari sana dan tetap mengarah tembakan pada mereka.