Come Here Datu

Come Here Datu
Come Here Datu Bab I: Prolog Sang Pembuka Tabir



Sesuatu terjadi pada mata itu, apa yang harus aku lakukan. Dunia kadang begitu mengerikan untuk dilihat dan diingat bahkan kadang angin musim semi terasa mengerikan. Begitupun malam ini apa yang terjadi pada keluarga ini.


      Di Kalimantan Tengah tepatnya di Barito Timur, Tamiang Layang. Seorang gadis imut dengan rambut ikalnya yang rapi berdiri didepan pintu rumah. Dia berdiri kaku senyum hilang dari wajah. Sikap ceria musnah hanya karena menatap pagar rumahnya.


      Pagar hitam bermulut sinis. Lenia membuka perlahan setiap jejak kaki membekas, tujuan pasti menuju rumah panjang dengan design Dayak kuno.


Langkah terhenti, matanya menatap tajam pada pintu putih besar itu. Mulut tertutup rapat bahkan tangan gemetar membawa rasa takut akna apa yang menunggu di baliknya. Apakah ada iblis berjuah putih?


      Dia mendorong pintu perlahan lalu masuk. Langkah pelan tatapan terarah kebawah dengan tegang. Tak ada kata yang mampu memdeskripsian suasana. Kedua tangan di depan, memegang tas hitam menggantung rapi seolah berjaga masa depan yang teramal. Langkah kaki semakin tegas dan sedikit dipercepat dan akhirnya berhenti pada satu titik. Bagai tersiram air panas, mata gadis itu semakin bulat 'apa yang terjadi' kata yang kurang yakin terucap di dalam hati.


      Tidak ada yang mampu mendengar, tas terjatuh dari tangannya. Pemandangan yang begitu menjijikan terpampang jelas di depan seorang gadis SMA sepertinya.


Ayahnya yang telanjang bulat dengan seorang gadis yang hampir seusianya sedang bercinta di sana. Ayahnya tidak tahu dan mungkin tidak peduli dengan kehadirannya.  Hal yang paling membuatnya benci adalah mata gadis itu menatap Lenia tanpa ada rasa bersalah sedikitpun dan malah semakin memperkuat wajah bernafsunya. Dua orang yang sekarang paling dia benci saling berpelukan hangat dengan keadaan yang dingin. Gadis itu melangkah cepat menuju pintu dan berlari menyusuri jalan. Jika ingin berkata kasar iniah saatnya, tetapi hal itu tidak akan menjadi lebih baik bagi Lenia yang sudah biasa memamerkan kata-kata kasarnya.


      'Halaman yang paling ingin kurusak dari buku yang kutulis.'


        Berlari kasar menuju kegelapan, malam mengintip dari balik senyumnya. Setiap hentak kaki, air mata setetes mengiringi langkah. Tangisan berwajah datar, mata menatap lurus dan kakinya berhenti. 'Apakah sudah cukup jauh untuk meninggalkan rumah iblis itu?' Bingung dan bertanya kenapa haru dia yang pergi. Terduduk lesu sambil memegang kedua lutut dan menenggelamkan kepala di sana. Isak terdengar menyakitkan.


        Angin menyapu hutan sekitar. Seorang gadis dengan tangisan sebagai dekorasi yang cocok di tengah jalan kosong. Dari hutan di sampingnya sekelebat kabut gelap membentuk sesosok tubuh dan menjadi siluet. Bulan yang awalnya tertutup awan hitam, mulai terbuka menampakan sosok tubuh lelaki tanpa mengenakan busana berdiri enam meter dari gadis itu. Sosok itu melangkah perlahan, namun tegas.


      Asap hitam mengitari kaki dan membentuk dress pants flat front  hitam sedangkan kedua tangan terentang di depan tubuh. Sedikit gerakan dari telapak tangan, sebuah jas berwarna hitam di sana. Memasangkan pada tangan sebelah kirinya. Asap kecil berwarna menuju bagian dada dan membentuk kaus putih anti fit-style pada tubuh. Jas terpasang rapi. Mengancing lengan jas. Langkahnya berhenti tepat di depan gadis itu.


      Dia membelai lembut kepala Lenia. Mengambil posisi duduk sehingga hampir sejajar dengan gadis itu, dengan kedua kakinya dibiarkan sedikit terbuka dan kaki sebelah kiri tampak sedikit terangkat. Matanya menatap gadis itu dengan tatapan menggoda. Memiringkan kepala dengan gerakan lambat. Lenia mendongakkan kepala, menatap seseorang yang sedang membelai rambutnya.


      Lelaki itu menurunkan tangan perlahan ke wajah Lenia, "kenapa ada gadis nakal yang tersesat di sini." Lenia terdiam karena tangan dingin menyapu air mata gadis itu dengan lembut. Masih hanyut mendengar sebuah kata dari 'seseorang' yang tidak dia kenal dengan sorot mata yang dingin. Seolah takdir, apa kata itu cukup untuk deskripsikan suasana apalagi sekarang di bawah cahaya bulan besar berwarna merah darah. Tetapi bertanya, takdir yang baik atau buruk.


"Apa kamu hantu?" Mata Lenia masih terkunci di mata wajah samar dari lampu remang jalan.


      Lelaki itu membantu tubuh Lenia berdiri, dengan memegang kedua pundak gadis itu erat. Lenia, memaksa tubuhnya berdiri, masih dengan wajah bingung. Pijakan masih sangat lemah, bahkan salah satu kaki kehilangan keseimbangan dan hampir membuatnya terjatuh ke arah samping tubuh. Namun, dengan cepat tangan Lenia memegang erat lengan lelaki yang sekarang berdiri bersamanya.


"Permintaan?" Gadis itu masih mencerna.


"Banyak permintaan bisa kukabulkan maka katakan dengan jelas, nona!" Tersenyum miring setengah menggoda.


      "Apa kamu peri?" kata-kata Lenia tergantung dan terdengar pelan. Air mata tetap menetes perlahan memenuhi pipinya lagi. Lelaki di depannya memeluk tubuh Lenia erat. Wajah Lenia berada di samping leher kanan lelaki itu. Kaki gadis itu terlihat berjinjit.


      "Sebenarnya aku ingin cepat ini selesai, malam sudah semakin panjang" matanya tertuju pada bulan merah yang sebentar lagi berakhir. "Apa yang haru kulakukan pada gadis penurut?" katanya pelan di samping telinga Lenia yang sedang terisak.


Lenia tiba-tiba membalas pelukan dari lelaki itu.


      Lelaki yang dipeluk, terlihat bingung tapi, sedikit menggerakan kepala lalu tersenyum. Tangan kiri memegang pelan rambut Lenia dan mulai menyentuh lembut. Gadis itu perlahan menghentikan tangis. 'Jika aku mati hal itu akan lebih baik'


      "Kita akan ketempat yang akan membuat jantungmu?'' Suara bisikan yang berat, "terbakar!" lanjutnya.


Lenia diam sambil mengeratkan pelukannya. Gadis itu mengaguk pasrah. Baginya semua adalah harapan, untuk mengakhiri semuanya. Tidak peduli apa yang ada di depan mata lagi. Jika, harus terjatuh maka itu adalah waktu yang tepat untuknya.


      "Cukup menjadi jawaban kan, Gadis nakal yang penurut?'' lanjut lelaki itu, sunggingan senyum miring semakin misterius. Sesaat setelahnya tubuh keduanya terangkat dan bersamaan dengan itu kabut hitam tipis menjadi dekorasi di sekitar mereka. Melayang melewati pepohonan. Sesekali kaki mereka menginjak salah satu ranting pohon dan membuat gerakan pada daun dan batangnya.   


      Menjauh dari pohon satu kepohon lain dengan tangan bergantung pada dahan kayu yang dijadikan sebagai penopang tubuh mereka. Bahkan untuk berpindah tempat tidak memerlukan hal yang sulit, cukup memegang akar pohon. Tubuh keduanya seolah menari di dalam air. Cekatan, mengantar tubuh mereka kepohon berikutnya.


      Pemandangan hutan dengan malam menakjubkan adalah sebuah hadiah yang terbuka untuk Lenia. Wajah kagum sekaligus tidak percaya bahkan bingung. Apa yang terjadi padanya. Dongeng sebelum tidur yang dibawakan waktu dia kecil, mimpi panjang seolah dapat disimpulkan sebagai 'kematian' walaupun seperti itu tidak ada kata peduli lagi asalkan kata bahagia itu yang tertulis dengan sendu di wajah gadis itu. Dedaunan terjatuh menjadi pelengkap kado malam, sebagian mengenai tubuh Lenia. Tubuh terasa ringan pergerakan dari pohon kepohon semakin lambat. Sempurnanya kado malam yang dikelilingi proses dramatis.


      Kunang-kunang sebagai nada. Sinar memacu beberapa hewan hutan untuk berdiri dan keluar dari persembunyian. Menyaksikan sang Raja malam yang terlihat tenang. Mengalihkan pandangan dari sekitar menatap kedepan. Sebuah dahan pohon terbelit ular piton yang memantulkan cahaya hijau hampir sebesar tubuh manusia.


      Mata Lenia membulat, kata-katanya tercekat ditenggorokan ragu dengan pemandangan tersuguh disana. Mengeratkan pelukannya sambil menutup mata. 'Apa yang akan terjadi jika aku mati hari ini?'